Indonesia Kembali di Panggung Dunia: Dari Luka Kolonial ke Lumbung Pangan Global

Rabu, 01 Oktober 2025 - 10:55 WIB
loading...
Indonesia Kembali di...
Yusuf Sugiyarto, Ketua Bidang Penelitian dan Kebijakan Strategis PB HMI 2024-2026. Foto/SindoNews
A A A
Yusuf Sugiyarto
Ketua Bidang Penelitian dan Kebijakan Strategis PB HMI 2024-2026

PIDATO Prabowo Subianto di forum internasional beberapa waktu lalu menimbulkan gema yang tidak biasa. Di antara bahasa diplomasi yang lazimnya kering, ia muncul dengan pernyataan tegas: Indonesia is prepared to deploy 20.000 and including providing rice to Gaza (Palestine). Kurang lebih begitu kalimat yang seketika membuat panggung politik global berguncang.

Namun gema itu tidak datang dari ruang hampa. Ia lahir dari sejarah panjang bangsa ini—sebuah bangsa yang pernah dijajah berabad-abad oleh kolonial, merasakan sendiri bagaimana lapar dan penderitaan bisa menjadi senjata penaklukan. Ingatan kolektif tentang masa-masa ditindas itulah yang membentuk nurani politik luar negeri Indonesia: berdiri bersama mereka yang tertindas, menolak ketidakadilan, dan memastikan bahwa kedaulatan bukan sekadar kata indah di atas kertas, melainkan hak untuk hidup bermartabat.

Karena itu, ketika Prabowo bicara tentang pasukan kemanusiaan dan bantuan pangan, ia sesungguhnya sedang menarik garis lurus dari masa lalu bangsa ini menuju solidaritas global hari ini. Dari pengalaman sebagai bangsa terjajah, Indonesia belajar satu hal mendasar: penderitaan tidak boleh dibiarkan menjadi warisan abadi!

Indonesia tidak lahir dari ruang kosong. Ia ditempa oleh sejarah panjang penjajahan, lebih dari tiga setengah abad berada di bawah cengkeraman kolonialisme. Dalam kurun itu, rakyat tidak hanya diperas tenaganya, tetapi juga dipaksa merasakan lapar sebagai alat kekuasaan. Sistem cultuurstelsel oleh van den Bosch pada tahun 1830 di Indonesia dilatarbelakangi oleh kesulitan keuangan akibat perang di abad ke-19, misalnya, membuat sawah-sawah yang mestinya menghidupi rakyat justru dipaksa menanam tebu, kopi, atau nila demi perut orangorang Eropa. Akibatnya, kelaparan melanda di banyak daerah, salah satunya yang paling tragis adalah paceklik besar di Jawa Tengah (1840-an), ketika ribuan orang mati hanya karena tidak ada cukup beras untuk dimakan.

Dari pengalaman itu, lahirlah kesadaran mendalam: pangan bukan sekadar soal ekonomi, melainkan soal kedaulatan dan martabat. Itulah mengapa Bung Karno di awal kemerdekaan menekankan bahwa revolusi tidak ada artinya jika rakyat masih berebut nasi. “Berdikari” bukan hanya slogan politik, melainkan janji sejarah: jangan sampai bangsa ini kembali diperbudak melalui perutnya.

Kesadaran historis ini pula yang menempel dalam sikap luar negeri Indonesia. Maka ketika Prabowo berdiri di forum internasional dan menyatakan siap mengirim 20 ribu pasukan
kemanusiaan sekaligus bantuan pangan ke Gaza, pernyataan itu tidak bisa dibaca hanya sebagai retorika sesaat. Ia adalah gema dari ingatan panjang sebuah bangsa yang pernah merasakan sendiri pahitnya ditindas, dan kini memilih berpihak pada mereka yang mengalami nasib serupa.

Indonesia, dengan luka kolonial yang belum sepenuhnya sembuh, menjadikan solidaritas bukan pilihan tambahan, melainkan kewajiban moral. Itulah fondasi mengapa isu Gaza menyentuh hati rakyat Indonesia sedemikian rupa: karena penderitaan mereka mengingatkan pada sejarah kita sendiri.

Konflik Geopolitik dan Nurani Prabowo!
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Yusril Dialog dengan...
Yusril Dialog dengan BEM SI, Janji Sampaikan 5 Tuntutan ke Presiden
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan...
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan Haji 2026, Beri Catatan Ini untuk Tahun Depan
Timwas Sebut Presiden...
Timwas Sebut Presiden Prabowo Ingin Antrean Haji Dipangkas Lagi
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Said Didu ke Presiden...
Said Didu ke Presiden Prabowo: Kawan Bapak Tuh Ada di Luar, Bukan di Dalam
Pesan Said Didu untuk...
Pesan Said Didu untuk Prabowo: Waktu Melakukan Akomodasi Politik Sudah Lewat
Istana Bicara soal Kembalikan...
Istana Bicara soal Kembalikan Kepercayaan Publik
Prabowo Perintahkan...
Prabowo Perintahkan Rosan Jelaskan Kondisi Investasi RI di Istana Merdeka Besok
3 Mantan Kapolda Jabar...
3 Mantan Kapolda Jabar yang Duduk di Kabinet Prabowo, 1 di Antaranya Wakapolri
Rekomendasi
FIFA Beri Lampu Hijau,...
FIFA Beri Lampu Hijau, Michael Oliver Pimpin Laga Belanda vs Swedia
Bahlil Mengakui Pembangkit...
Bahlil Mengakui Pembangkit PLN Kekurangan Suplai Batu Bara Medium
Peristiwa di Bulan Muharram...
Peristiwa di Bulan Muharram : Di Hari Asyura, Nabi Idris AS Diangkat ke Langit
Berita Terkini
Yusril Dialog dengan...
Yusril Dialog dengan BEM SI, Janji Sampaikan 5 Tuntutan ke Presiden
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Soal Pengadaan 21 Ribu...
Soal Pengadaan 21 Ribu Motor Listrik Era Dadan Hindayana, Begini Kata BGN
Dasco Ungkap Pimpinan...
Dasco Ungkap Pimpinan DPR akan Temui Mahasiswa Besok
Diperiksa Kejagung 9...
Diperiksa Kejagung 9 Jam Lebih, Sony Sonjaya Bungkam
Dianggap Mampu, 76 Sekolah...
Dianggap Mampu, 76 Sekolah di Pulau Jawa Dicoret dari Daftar Penerima MBG
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved