Marak Kasus Keracunan MBG, Ada Sabotase?
Jum'at, 26 September 2025 - 07:18 WIB
loading...
A
A
A
Data lainnya, kata Toto, dari 1.379 SPPG, hanya 423 yang memiliki prosedur operasi standar (SOP) keamanan pangan. Bahkan, hanya 312 yang benar-benar menerapkan SOP tersebut.
Dari data dan fakta itulah, Toto memastikan ada program pengawasan dari penyelenggaran yang tidak berjalan, sehingga banyak SPPG yang tidak mematuhi SOP tersebut.
“Ini jelas sebuah kelalaian. Meskipun, saya tahu, BGN pasti punya problem SDM terbatas untuk memaksimalkan pengawasan tersebut. Tapi, itu bukan menjadi pembenaran yang mentolerir terjadinya keracunan massal. Mana sikap tegas penyelenggara?” katanya.
Dalam kontek itulah, Toto mengingatkan kemungkinan adanya tangan-tangan jahil yang bermain dalam program tersebut. Tujuannya, kata dia, apalagi kalau bukan untuk mengotori misi suci Presiden Prabowo agar citranya rusak lewat program ini.
“Menurut saya, tinggal lihat saja, siapa di lapangan yang memberi kebebasan dan keleluasaan kepada para vendor untuk membangun dapur yang tidak memenuhi standar, alias asal-asalan. Mungkin itulah orang-orang yang disebut bertangan jahil tersebut,” pungkasnya.
“Karena apa pun yang dilakukan di Makan Bergizi, ada anak satu saja muntah, itu jadi berita ramai. Contoh juga misalnya di Muntilan itu ada anak yang posting lele berbelatung itu jadi berita, padahal ketika kita cek dari 3.600 porsi itu hanya satu yang memberitakan,” sambungnya.
Kemudian, pihaknya mengecek ke lapangan. “Coba kirim lelenya. Nah, ternyata lele yang dikirim ke satuan pelayanan itu dari satuan pelayanan ke sekolah itu seluruh kepalanya dipotong. Nah, videonya itu lelenya ada kepalanya. Jadi, keisengan itu kemudian menjadi viral, padahal itu bukan bersumber dari makan bergizi,” kata Dadan.
Saksikan perbincangan lengkap Lukman Hanafi bersama Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana dalam One on One pada Senin, 29 September 2025 pukul 20.30 WIB hanya di SindoNews TV.
Dari data dan fakta itulah, Toto memastikan ada program pengawasan dari penyelenggaran yang tidak berjalan, sehingga banyak SPPG yang tidak mematuhi SOP tersebut.
“Ini jelas sebuah kelalaian. Meskipun, saya tahu, BGN pasti punya problem SDM terbatas untuk memaksimalkan pengawasan tersebut. Tapi, itu bukan menjadi pembenaran yang mentolerir terjadinya keracunan massal. Mana sikap tegas penyelenggara?” katanya.
Dalam kontek itulah, Toto mengingatkan kemungkinan adanya tangan-tangan jahil yang bermain dalam program tersebut. Tujuannya, kata dia, apalagi kalau bukan untuk mengotori misi suci Presiden Prabowo agar citranya rusak lewat program ini.
“Menurut saya, tinggal lihat saja, siapa di lapangan yang memberi kebebasan dan keleluasaan kepada para vendor untuk membangun dapur yang tidak memenuhi standar, alias asal-asalan. Mungkin itulah orang-orang yang disebut bertangan jahil tersebut,” pungkasnya.
Lalu, mungkinkah ada sabotase?
“Enggak. Kita faktornya sih jelas ya. Ketika kita kurang waspada karena tumbuhnya SPPG baru itu akan mudah menjadi bahan berita,” kata Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana kepada jurnalis SindoNews Lukman Hanafi dalam program One on One.“Karena apa pun yang dilakukan di Makan Bergizi, ada anak satu saja muntah, itu jadi berita ramai. Contoh juga misalnya di Muntilan itu ada anak yang posting lele berbelatung itu jadi berita, padahal ketika kita cek dari 3.600 porsi itu hanya satu yang memberitakan,” sambungnya.
Kemudian, pihaknya mengecek ke lapangan. “Coba kirim lelenya. Nah, ternyata lele yang dikirim ke satuan pelayanan itu dari satuan pelayanan ke sekolah itu seluruh kepalanya dipotong. Nah, videonya itu lelenya ada kepalanya. Jadi, keisengan itu kemudian menjadi viral, padahal itu bukan bersumber dari makan bergizi,” kata Dadan.
Saksikan perbincangan lengkap Lukman Hanafi bersama Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana dalam One on One pada Senin, 29 September 2025 pukul 20.30 WIB hanya di SindoNews TV.
(rca)
Lihat Juga :