NFA Gunakan Data BPS Sebagai Rujukan, Kerja Sama Diperkuat

Kamis, 11 September 2025 - 18:44 WIB
loading...
NFA Gunakan Data BPS...
Dalam rangka menjaga stabilitas pangan dan memastikan ketersediaan pasokan, Badan Pangan Nasional dan Badan Pusat Statistik (BPS) kembali menegaskan sinergi yang telah terjalin kuat antara kedua lembaga. Foto: Ist
A A A
JAKARTA - Dalam rangka menjaga stabilitas pangan dan memastikan ketersediaan pasokan, Badan Pangan Nasional /National Food Agency (NFA) dan Badan Pusat Statistik (BPS) kembali menegaskan sinergi yang telah terjalin kuat antara kedua lembaga.

Keterbukaan informasi dan kolaborasi yang erat menjadi kunci utama dalam upaya perumusan kebijakan pangan nasional yang tepat sasaran. Kedua pihak sepakat untuk terus memperkuat koordinasi dan memastikan data yang digunakan sebagai rujukan adalah data yang akurat, valid, dan relevan dengan kondisi di lapangan.

Baca juga: Ini Jurus Badan Pangan Antisipasi Kerawanan Gizi

Kepala NFA Arief Prasetyo Adi mengatakan, NFA adalah lembaga yang menjunjung tinggi data sebagai panduan utama dalam perumusan kebijakan pangan nasional. Baginya, BPS yang merupakan lembaga statistik pemerintah menjadikannya sebagai rujukan utama yang sah dan terpercaya.

"Tidak ada keraguan sedikit pun dari Badan Pangan Nasional terhadap data BPS. Kami memandang data BPS merupakan fondasi yang kokoh untuk mengambil keputusan strategis, termasuk dalam hal neraca pangan nasional," ujar Arief, Kamis (11/9/2025).

Menurut dia, NFA dan BPS memiliki pandangan yang sama terkait data untuk saling melengkapi dan tidak bertentangan. NFA memiliki tugas untuk memastikan bahwa data yang menjadi acuan telah relevan dengan kondisi riil di lapangan.

Karena itu, selain mengacu pada data BPS, NFA secara proaktif melakukan pengamatan terhadap fakta-fakta lapangan terkait pangan pokok strategis. Ini mencakup seperti ketersediaan pasokan, dinamika harga, serta berbagai tantangan yang dihadapi mulai dari petani di hulu sampai konsumen di hilir.

"Upaya kami untuk melihat langsung kondisi di lapangan adalah bagian dari tugas kami untuk melakukan check and balance data, memastikan bahwa angka-angka yang menjadi acuan sudah relevan dengan kondisi riil yang dirasakan masyarakat. Hal ini merupakan bentuk sinergi atau kolaborasi, bukan bentuk keraguan," kata Arief.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan data produksi beras yang dirilis BPS berasal dari dua sumber data yaitu Survei Kerangka Sampel Area (KSA) dan Survei Ubinan.

Survei KSA merupakan metodologi pengamatan langsung fase tumbuh padi beserta foto yang didata dengan menggunakan moda CAPI (Computer-Assisted Personal Interviewing) di 280.089 titik amatan di seluruh Indonesia. Dari survei KSA diperoleh estimasi luas panen serta luas fase tumbuh padi. Sedangkan survei ubinan merupakan survei lapangan untuk mengukur tingkat produktivitas padi.

"BPS selalu berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini. Kami secara rutin turun ke lapangan memutakhirkan data luas panen dan produksi padi, merekam berbagai kondisi, termasuk dampak hama, penyakit, dan faktor cuaca terhadap luas panen dan produksi padi," kata Amalia.

Dia juga menyatakan keterbukaan BPS untuk berdiskusi lebih dalam dengan NFA agar pemahaman data menjadi menyeluruh dan pengambilan kebijakan bisa lebih tepat.

Melalui sinergi ini, NFA dan BPS berkomitmen untuk terus bekerja sama mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan dengan mengedepankan akurasi data serta pemahaman atas kondisi lapangan dan kondisi riil di masyarakat.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BPOM dan WHO Perkuat...
BPOM dan WHO Perkuat Kolaborasi Pengawasan Obat dan Makanan
Presiden Prabowo: Indonesia...
Presiden Prabowo: Indonesia Kini Dihormati Dunia karena Berhasil Swasembada Pangan
Kolaborasi dan Deteksi...
Kolaborasi dan Deteksi Dini Hadapi Ancaman Karhutla 2026
Kolaborasi Pembangunan...
Kolaborasi Pembangunan Mapolda DIY, Kapolri Instruksikan Beri Pelayanan Optimal
BNPP Renovasi 15.000...
BNPP Renovasi 15.000 Rumah Tak Layak Huni di 40 Kabupaten Kawasan Perbatasan
11.014 Orang Dicoret...
11.014 Orang Dicoret dari Daftar Penerima Bansos Mulai April 2026
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
Ekspor April 2026 Melesat...
Ekspor April 2026 Melesat 21,98% Tembus Rp449.6 Triliun, Ini Penopangnya
Inflasi Indonesia Mei...
Inflasi Indonesia Mei 2026 Capai 3,08%, Ini Pendorongnya
Rekomendasi
Parapuar 2026 Hadirkan...
Parapuar 2026 Hadirkan Senja, Budaya dan Musik di Labuan Bajo
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
Marc Marquez Juara MotoGP...
Marc Marquez Juara MotoGP Hungaria 2026, Hapus Dahaga Gelar 266 Hari
Berita Terkini
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
Cegah Kasus Korupsi...
Cegah Kasus Korupsi di BGN Terulang, Saut Situmorang Beri Saran Ini ke Nanik Deyang
Geger, WNI Bunuh WNI...
Geger, WNI Bunuh WNI di Hokkaido Jepang, Satu Anggota Polisi Ikut Terluka
Prihatin Kasus Korupsi...
Prihatin Kasus Korupsi di BGN, Hasto PDIP: Suara Kritis Masyarakat Sudah Mengungkapkan Hal Itu
Kelakar Jenderal Sigit:...
Kelakar Jenderal Sigit: Selesai Jadi Kapolri, Saya Gantian Jadi Aktivis
Prabowo Dinilai Mampu...
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Keamanan RI Hadapi Dinamika Geopolitik Global
Infografis
Angka Kemiskinan Indonesia...
Angka Kemiskinan Indonesia Turun, Ekonom Ragukan Data BPS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved