Krisis Nepal dan Wake Up Call untuk Dunia yang Otoriter

Kamis, 11 September 2025 - 08:26 WIB
loading...
A A A
Selain itu, pemerintah Nepal abai bahwa segala upaya mengontrol ruang digital akan menerbitkan perlawanan Gen Z.
Protes Gen Z, sejatinya, tidak saja tentang pelarangan media sosial, melainkan juga frustrasi sosial kalangan muda yang menyaksikan tingkat pengangguran yang tinggi di atas 20%, skandal korupsi yang meluas, dan dominasi keluarga elit politik yang hidup glamor bertabur kemewahan.

Gen Z, yang umumnya lahir pascaperang Maois dan tumbangnya monarki, telah tumbuh dengan mendengar janji-janji indah tentang “Nepal baru” yang lebih baik. Namun, situasi yang mereka lihat dan alami adalah stagnasi. Janji-janji kesejahteraan yang dihancurkan oleh keserakahan pemerintah telah membuahkan perlawanan. Sebagai satu akibat, pemberontakan mereka adalah deklarasi perang melawan sistem yang korup dan kolutif.

Selama bertahun-tahun, politik Nepal telah dicincang oleh korupsi, kolusi, nepotisme dan impunitas. Situasi yang jamak terjadi di banyak negara yang otoritarian. Kantor publik tidak berfungsi memberikan layanan yang baik, namun lebih sebagai akses kepada pungutan-pungutan liar.

Tetapi, ketika kekecewaan yang menumpuk terhadap buruknya birokrasi berpadu dengan kemiskinan, flexing pejabat dan keluarganya, kenaikan harga yang melambung tinggi, dan menyusutnya peluang kerja, warga masyarakat yang mengalami ketidakdilan sosial menjadi mudah terbakar.

Protes Gen Z hanya pemicu (trigger). Ini juga merupakan peringatan global. Dalam negara yang masih berjuang untuk tegaknya demokrasi, dari Asia, Afrika hingga Amerika Latin, korupsi bukanlah masalah abstrak. Ini adalah kenyataan pahit yang dijalani, menghalangi peluang yang setara dan menghancurkan kepercayaan publik. Dan ketika warga masyarakat bangkit untuk melawan system yang rusak tersebut, tidak ada lembaga, termasuk militer dan polisi, yang dapat menahan luapan kemarahan mereka.

Respons keras pemerintah melalui gas air mata, peluru karet, amunisi tabu, jam malam, dan bahkan pengerahan tentara acap mengubah protes menjadi pemakaman para martir sehingga perlawanan semakin tak terhentikan. Represi mungkin dapat memulihkan ketertiban selama semalam, tetapi itu akan merusak legitimasi mereka untuk jangka panjang.

Pemerintah dari Moskow ke Yangon, dari Teheran ke Kathmandu, yang mengabaikan kebenaran ini bermain dengan bahaya yang mengancam. Pada saat Oli dan menterinya mencoba mundur, sudah terlambat. Nasi sudah mejadi bubur. Kerumunan telah bertambah, komunitas internasional telah mengutuk kekerasan, dan pengunduran diri politik menjadi tak terelakkan.

Jatuhnya rejim Oli lebih dari sekadar perubahan politik. Ia melambangkan transfer otoritas moral. Tokoh-tokoh seperti Wali Kota Muda Kathmandu, Balendra Shah, tiba-tiba muncul sebagai alternatif yang terpercaya. Para pemimpin masyarakat sipil, mahasiswa, dan aktivis dijital melangkah ke dalam kekosongan yang ditinggalkan oleh pihak-pihak yang didiskreditkan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
TPF LN HAM Dalami Unsur...
TPF LN HAM Dalami Unsur Sistematis Kericuhan Unjuk Rasa Agustus 2025
Kolaborasi PKSS dan...
Kolaborasi PKSS dan Kemnaker Perluas Kesempatan Kerja bagi Gen Z
Admin Instagram Bekasi...
Admin Instagram Bekasi Menggugat Divonis 7 Bulan Penjara di Kasus Demo Agustus 2025
Vonis Bebas Delpedro...
Vonis Bebas Delpedro Cs Bukanlah Garis Akhir
Delpedro Cs Divonis...
Delpedro Cs Divonis Bebas, Yusril: Saya Minta Jaksa Tak Berteori Putusan Bebas Murni untuk Alasan Ajukan Kasasi
Hari Ini Delpedro Cs...
Hari Ini Delpedro Cs Hadapi Sidang Vonis
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
Partai Kecoak Siap Protes...
Partai Kecoak Siap Protes Jalanan di India, Miliki Jutaan Pengikut dalam Sekejap
Presiden Ini Rela Potong...
Presiden Ini Rela Potong Gaji 50% usai Dituntut Lengser oleh Rakyat
Rekomendasi
Ciangir Disiapkan Jadi...
Ciangir Disiapkan Jadi Penampungan Kompos, Pramono Yakin 9.000 Ton Sampah Jakarta Bisa Tertangani
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
Gempa 5,3 Magnitudo...
Gempa 5,3 Magnitudo Guncang Maluku Barat Daya
Berita Terkini
Kapolri Respons Usulan...
Kapolri Respons Usulan Pigai soal Sipil Duduki Jabatan Utama Polri: Sudah Ada Ruang Resiprokal
Nahdlatul Ulama: Pesantren...
Nahdlatul Ulama: Pesantren dan Kedaulatan Masyarakat Sipil
Presiden KSPI: Said...
Presiden KSPI: Said Iqbal Akan Dilantik Jadi Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan
Berkas Sudah P21, Pakar:...
Berkas Sudah P21, Pakar: Tinggal Tunggu Penyidik Serahkan Roy Suryo dkk ke JPU
Cerita Prabowo tentang...
Cerita Prabowo tentang 2 Angka Keberuntungan di Hidupnya: 8 dan 13 Selalu Muncul
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved