Kegagalan Komunikasi Politik Anggota DPR Memantik Amarah Rakyat Indonesia
Senin, 01 September 2025 - 22:36 WIB
loading...
Gina Fauziah, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang. Foto/Dok.Pribadi
A
A
A
Gina Fauziah
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
TIDAK akan ada asap jika tidak ada api adalah sebuah pepatah yang berarti segala sesuatu pasti ada penyebabnya. Pepatah ini menjadi sangat relevan dalam konteks komunikasi sebagai sebuah bibit akar permasalahan pun sebagai solusi dari sebuah problematika.
Komunikasi politik menjadi sebuah skill yang wajib di miliki oleh para pemain aktor maupun aktris dewan yang terhormat di berbagai sektor. Berbagai statement yang dikeluarkan oleh lisan para dewan yang terhormat melalui awak media, akan dengan mudah tersebar pada lini media digital maupun konvensional.
Irreversible merupakan salah satu prinsip komunikasi, yakni komunikasi bersifat tidak bisa ditarik kembali sejalan dengan quotes terkenal “Forgiven but no forgotten” setiap pesan itu bisa di maafkan namun tidak untuk dilupakan.
Statement dari anggota DPR, di antaranya disampaikan oleh Ahmad Sahroni, anggota DPR Fraksi Partai Nasdem yang dikutip dari sebuah media nasional dalam merespons isu demo 'Bubarkan DPR'. Dia menyebut bahwa 'mental manusia yang begitu adalah mental orang tertolol sedunia'.
"Catat nih, orang yang cuma bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia. Kenapa? Kita nih memang orang semua pintar semua? Enggak bodoh semua kita," ujar Sahroni saat melakukan kunjungan kerja di Polda Sumut, Jumat (22/8/2025). Kata tolol merupakan pilihan diksi tidak etis yang dikeluarkan oleh lisan seorang elite wakil rakyat.
Tidak hanya itu, pidato Menkeu dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 7 Agustus lalu mengatakan bahwa “Oh, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar.’ Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara. Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat,” ucap Sri Mulyani.
Statement tersebut tentu mendapat respons beragam yang notabene berkonotasi negatif. Selang beberapa waktu kemudian, media di ramaikan kembali dengan klarifikasi beberapa anggota DPR yang berasal dari kelas artis/influencer saat melakukan aksi joget usai sidang tahunan MPR.
Klarifikasi perdana yang disampaikan, malah menuai kontroversi bukan memunculkan empati sehingga netizen semakin geram untuk berkomentar. Setalah berita menjadi viral, klarifikasi kedua menggunakan kata 'maaf' baru disampaikan oleh pihak terkait.
Pola komunikasi politik yang di adopsi oleh para elite politik tidak menghasilkan buah manis. Setiap statement yang diucapkan akan terekam dan tersampaikan dengan cepat juga mendapat respon kilat oleh netizen.
Hilangnya rasa empati menjadi sebuah tolak ukur manusia dalam berucap. Aktor politik seyogyanya memahami konteks pesan politik yang akan disampaikan pada awak media. Komunikasi politik merupakan fungsi vital yang selalu ada dalam setiap sistem politik dan berperan dalam proses sosialisasi politik maupun pengambilan Keputusan.
Kegagalan komunikasi politik melahirkan 'buah busuk' yang diduga menjadi salah satu pemicu dari aksi demo berujung rusuh yang terjadi sejak 25 Agustus - 29 Agustus 2025. Demo menjadi liar tanpa arahan dari para pemangku kepentingan.
Komunikasi politik yang efektif akan menghasilkan “buah manis” yang mampu meredam konflik. Namun 'buah manis' itu belum bisa dipetik selama nafsu atas harta dan jabatan menjadi payung para aktor politik DPR. Selama umpan balik yang diterima tidak sesuai dengan harapan, maka ada kegagalan dalam menyampaikan pesan politik.
Apakah rakyat yang gagal dalam memahami pesan politik? Atau karena pemilihan diksi yang digunakan oleh para aktor politik cenderung memancing emosi rakyat? Sejatinya manusia diciptakan sebagai pembelajar sepanjang hayat atau lifelong learner sehingga dengan ilmu kita bisa menentukan pilihan diksi yang baik dan mampu memahami setiap pesan politik dengan akal sehat.
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
TIDAK akan ada asap jika tidak ada api adalah sebuah pepatah yang berarti segala sesuatu pasti ada penyebabnya. Pepatah ini menjadi sangat relevan dalam konteks komunikasi sebagai sebuah bibit akar permasalahan pun sebagai solusi dari sebuah problematika.
Komunikasi politik menjadi sebuah skill yang wajib di miliki oleh para pemain aktor maupun aktris dewan yang terhormat di berbagai sektor. Berbagai statement yang dikeluarkan oleh lisan para dewan yang terhormat melalui awak media, akan dengan mudah tersebar pada lini media digital maupun konvensional.
Irreversible merupakan salah satu prinsip komunikasi, yakni komunikasi bersifat tidak bisa ditarik kembali sejalan dengan quotes terkenal “Forgiven but no forgotten” setiap pesan itu bisa di maafkan namun tidak untuk dilupakan.
Statement dari anggota DPR, di antaranya disampaikan oleh Ahmad Sahroni, anggota DPR Fraksi Partai Nasdem yang dikutip dari sebuah media nasional dalam merespons isu demo 'Bubarkan DPR'. Dia menyebut bahwa 'mental manusia yang begitu adalah mental orang tertolol sedunia'.
"Catat nih, orang yang cuma bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia. Kenapa? Kita nih memang orang semua pintar semua? Enggak bodoh semua kita," ujar Sahroni saat melakukan kunjungan kerja di Polda Sumut, Jumat (22/8/2025). Kata tolol merupakan pilihan diksi tidak etis yang dikeluarkan oleh lisan seorang elite wakil rakyat.
Tidak hanya itu, pidato Menkeu dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 7 Agustus lalu mengatakan bahwa “Oh, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar.’ Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara. Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat,” ucap Sri Mulyani.
Statement tersebut tentu mendapat respons beragam yang notabene berkonotasi negatif. Selang beberapa waktu kemudian, media di ramaikan kembali dengan klarifikasi beberapa anggota DPR yang berasal dari kelas artis/influencer saat melakukan aksi joget usai sidang tahunan MPR.
Klarifikasi perdana yang disampaikan, malah menuai kontroversi bukan memunculkan empati sehingga netizen semakin geram untuk berkomentar. Setalah berita menjadi viral, klarifikasi kedua menggunakan kata 'maaf' baru disampaikan oleh pihak terkait.
Pola komunikasi politik yang di adopsi oleh para elite politik tidak menghasilkan buah manis. Setiap statement yang diucapkan akan terekam dan tersampaikan dengan cepat juga mendapat respon kilat oleh netizen.
Hilangnya rasa empati menjadi sebuah tolak ukur manusia dalam berucap. Aktor politik seyogyanya memahami konteks pesan politik yang akan disampaikan pada awak media. Komunikasi politik merupakan fungsi vital yang selalu ada dalam setiap sistem politik dan berperan dalam proses sosialisasi politik maupun pengambilan Keputusan.
Kegagalan komunikasi politik melahirkan 'buah busuk' yang diduga menjadi salah satu pemicu dari aksi demo berujung rusuh yang terjadi sejak 25 Agustus - 29 Agustus 2025. Demo menjadi liar tanpa arahan dari para pemangku kepentingan.
Komunikasi politik yang efektif akan menghasilkan “buah manis” yang mampu meredam konflik. Namun 'buah manis' itu belum bisa dipetik selama nafsu atas harta dan jabatan menjadi payung para aktor politik DPR. Selama umpan balik yang diterima tidak sesuai dengan harapan, maka ada kegagalan dalam menyampaikan pesan politik.
Apakah rakyat yang gagal dalam memahami pesan politik? Atau karena pemilihan diksi yang digunakan oleh para aktor politik cenderung memancing emosi rakyat? Sejatinya manusia diciptakan sebagai pembelajar sepanjang hayat atau lifelong learner sehingga dengan ilmu kita bisa menentukan pilihan diksi yang baik dan mampu memahami setiap pesan politik dengan akal sehat.
(shf)
Lihat Juga :