Founder Restorasi Jiwa Ajak Masyarakat Lawan Provokasi dengan Ketenangan
Sabtu, 30 Agustus 2025 - 14:48 WIB
loading...
Di tengah meningkatnya gejolak sosial dan maraknya provokasi hingga memicu kerusuhan di berbagai daerah membuat Founder Restorasi Jiwa Indonesia Syam Basrijal merasa perlu ikut menyuarakan seruan moral. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Di tengah meningkatnya gejolak sosial dan maraknya provokasi yang menyusup ke berbagai lini kehidupan masyarakat Indonesia hingga memicu kerusuhan di berbagai daerah membuat Founder Restorasi Jiwa Indonesia Syam Basrijal merasa perlu ikut menyuarakan seruan moral. Masyarakat diimbau tetap menjaga kewarasan, kejernihan hati, dan ketenangan jiwa sebagai bentuk perlawanan paling bermartabat terhadap hasutan dan upaya adu domba.
Dalam menghadapi badai sosial dan politik, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar teriakan. Yang dibutuhkan adalah mata tenang di tengah pusaran badai, sebuah metafora untuk mereka yang tidak mudah terseret emosi dan tetap menjaga kejernihan berpikir.
Baca juga: Kembali Normal, Arus Lalu Lintas Dua Arah di Depan Mako Brimob Kwitang Dibuka
“Amarah adalah energi yang bisa membebaskan, namun juga bisa membinasakan. Ketika dia tak terkendali, dia lebih berbahaya daripada isu yang memicunya,” ujar Syam, Sabtu (30/8/2025).
Dia mengingatkan ketika emosi menguasai, ruang nalar akan menghilang dan provokasi akan mudah masuk. Karena banyak orang terjebak dalam keyakinan bahwa teriakan keras adalah kekuatan, padahal justru itulah celah bagi provokator untuk menyulut bara.
Maka itu, dia menekankan kewarasan merupakan kekuatan kolektif yang menyejukkan, bukan bentuk kelemahan. Syam juga menyoroti bagaimana provokasi selalu hadir setiap kali ada aksi massa.
Dia pun mengajak masyarakat untuk kembali pada suara hati yang jernih, jangan sampai terprovokasi oleh hasutan semata. Karena hasutan dapat memperdaya emosi massa dan memperbudak kebebasan jiwa.
“Suara hati yang jernih tidak membakar melainkan menyejukkan. Dia tidak mendorong kita untuk menghancurkan melainkan mengingatkan untuk menjaga,” ucapnya.
Dia juga menegaskan tentang kewaspadaan untuk ditunggangi. Karena sejatinya, sikap berdaulat jiwa adalah ketika rakyat menolak untuk dijadikan pion dalam permainan politik.
Bagi Syam, masyarakat berhak marah pada ketidakadilan, boleh bersuara atas kebijakan yang tidak berpihak, namun jangan sampai suara itu dipakai untuk agenda lain yang justru merugikan bangsa.
Sebab itu, narasi ini sengaja dia buat sebagai bahan refleksi dalam Restorasi Jiwa Bangsa. Syam mengajak seluruh elemen bangsa untuk memulihkan kesehatan jiwa secara kolektif. Dengan begitu, masyarakat akan lebih mampu berpikir dewasa, tidak gampang disulut emosi karena memiliki ketenangan batin dan kecakapan dalam berpikir serta mencerna informasi.
“Restorasi jiwa bangsa bukan jargon kosong. Dia adalah ajakan untuk menyehatkan kembali cara pandang, cara merasa, dan cara bersikap,” tuturnya.
Dia menyampaikan satu pesan besar bahwa di tengah gelombang provokasi, kewarasan bukan hanya bentuk perlindungan diri, tapi juga bentuk perlawanan kolektif yang paling penting saat ini.
Apalagi di tengah gempuran isu, hasutan, dan permainan kepentingan yang membayangi stabilitas bangsa, perlu masyarakat ingat bahwa bangsa ini hanya bisa berdiri kokoh jika setiap individu berani menjaga ketenangan jiwa dan kejernihan hati. Dalam badai sosial yang semakin kuat, dia mengajak semua pihak untuk mengambil satu sikap sederhana namun kuat, tetap waras.
“Indonesia adalah rumah bersama yang luas. Gelombang provokasi mungkin akan terus datang, tetapi jika jiwa-jiwa kita tetap jernih, rumah ini akan tetap berdiri,” kata Syam.
Dalam menghadapi badai sosial dan politik, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar teriakan. Yang dibutuhkan adalah mata tenang di tengah pusaran badai, sebuah metafora untuk mereka yang tidak mudah terseret emosi dan tetap menjaga kejernihan berpikir.
Baca juga: Kembali Normal, Arus Lalu Lintas Dua Arah di Depan Mako Brimob Kwitang Dibuka
“Amarah adalah energi yang bisa membebaskan, namun juga bisa membinasakan. Ketika dia tak terkendali, dia lebih berbahaya daripada isu yang memicunya,” ujar Syam, Sabtu (30/8/2025).
Dia mengingatkan ketika emosi menguasai, ruang nalar akan menghilang dan provokasi akan mudah masuk. Karena banyak orang terjebak dalam keyakinan bahwa teriakan keras adalah kekuatan, padahal justru itulah celah bagi provokator untuk menyulut bara.
Maka itu, dia menekankan kewarasan merupakan kekuatan kolektif yang menyejukkan, bukan bentuk kelemahan. Syam juga menyoroti bagaimana provokasi selalu hadir setiap kali ada aksi massa.
Dia pun mengajak masyarakat untuk kembali pada suara hati yang jernih, jangan sampai terprovokasi oleh hasutan semata. Karena hasutan dapat memperdaya emosi massa dan memperbudak kebebasan jiwa.
“Suara hati yang jernih tidak membakar melainkan menyejukkan. Dia tidak mendorong kita untuk menghancurkan melainkan mengingatkan untuk menjaga,” ucapnya.
Dia juga menegaskan tentang kewaspadaan untuk ditunggangi. Karena sejatinya, sikap berdaulat jiwa adalah ketika rakyat menolak untuk dijadikan pion dalam permainan politik.
Bagi Syam, masyarakat berhak marah pada ketidakadilan, boleh bersuara atas kebijakan yang tidak berpihak, namun jangan sampai suara itu dipakai untuk agenda lain yang justru merugikan bangsa.
Sebab itu, narasi ini sengaja dia buat sebagai bahan refleksi dalam Restorasi Jiwa Bangsa. Syam mengajak seluruh elemen bangsa untuk memulihkan kesehatan jiwa secara kolektif. Dengan begitu, masyarakat akan lebih mampu berpikir dewasa, tidak gampang disulut emosi karena memiliki ketenangan batin dan kecakapan dalam berpikir serta mencerna informasi.
“Restorasi jiwa bangsa bukan jargon kosong. Dia adalah ajakan untuk menyehatkan kembali cara pandang, cara merasa, dan cara bersikap,” tuturnya.
Dia menyampaikan satu pesan besar bahwa di tengah gelombang provokasi, kewarasan bukan hanya bentuk perlindungan diri, tapi juga bentuk perlawanan kolektif yang paling penting saat ini.
Apalagi di tengah gempuran isu, hasutan, dan permainan kepentingan yang membayangi stabilitas bangsa, perlu masyarakat ingat bahwa bangsa ini hanya bisa berdiri kokoh jika setiap individu berani menjaga ketenangan jiwa dan kejernihan hati. Dalam badai sosial yang semakin kuat, dia mengajak semua pihak untuk mengambil satu sikap sederhana namun kuat, tetap waras.
“Indonesia adalah rumah bersama yang luas. Gelombang provokasi mungkin akan terus datang, tetapi jika jiwa-jiwa kita tetap jernih, rumah ini akan tetap berdiri,” kata Syam.
(jon)
Lihat Juga :