Kepala BGN Sebut Kualitas Gizi Anak-anak Indonesia Meningkat
Jum'at, 15 Agustus 2025 - 19:40 WIB
loading...
A
A
A
“Kami sedang kebut verifikasi. Target Agustus ini selesai, lalu fokus ke wilayah 3T,” tegasnya.
Kualitas sumber daya manusia juga menjadi kunci utama. Sebelum diterjunkan, petugas SPG mengikuti pelatihan intensif selama tiga hingga empat bulan. Selain itu, setiap SPG diwajibkan mengunggah menu harian di media sosial agar masyarakat dapat memberikan umpan balik, menciptakan pengawasan yang lebih transparan dan partisipatif.
Menutup paparannya, Dadan menekankan bahwa program MBG tidak hanya berfokus pada gizi, tetapi juga membawa dampak ganda pada ekonomi lokal dan ketahanan pangan.
Dengan mengandalkan pasokan bahan baku dari potensi pangan lokal, setiap SPG yang melayani 3.000–3.500 peserta membutuhkan pasokan harian sekitar 200 kilogram beras, 3.500 butir telur, 350 ekor ayam, 3.500 ekor lele, dan 450 liter susu. Semua kebutuhan ini dipasok oleh petani, peternak, dan nelayan setempat.
“Satu SPG mengelola anggaran sekitar Rp10 miliar per tahun, 85 persen untuk membeli bahan baku, dan 90 persen dari pertanian lokal. Jadi, uangnya berputar di desa, tidak keluar daerah,” jelas Dadan.
Pendekatan ini membuat pasokan pangan lebih terjamin, distribusi lebih cepat, dan harga lebih stabil. Petani padi, peternak ayam, pembudidaya ikan, hingga produsen susu mendapatkan pasar pasti setiap hari.
“Ini bukan hanya soal memberi makan anak, tapi juga memastikan petani kita sejahtera, nelayan kita punya pasar, dan pangan kita aman. MBG adalah investasi ganda, yakni gizi dan ekonomi,” ujarnya.
Kualitas sumber daya manusia juga menjadi kunci utama. Sebelum diterjunkan, petugas SPG mengikuti pelatihan intensif selama tiga hingga empat bulan. Selain itu, setiap SPG diwajibkan mengunggah menu harian di media sosial agar masyarakat dapat memberikan umpan balik, menciptakan pengawasan yang lebih transparan dan partisipatif.
Menutup paparannya, Dadan menekankan bahwa program MBG tidak hanya berfokus pada gizi, tetapi juga membawa dampak ganda pada ekonomi lokal dan ketahanan pangan.
Dengan mengandalkan pasokan bahan baku dari potensi pangan lokal, setiap SPG yang melayani 3.000–3.500 peserta membutuhkan pasokan harian sekitar 200 kilogram beras, 3.500 butir telur, 350 ekor ayam, 3.500 ekor lele, dan 450 liter susu. Semua kebutuhan ini dipasok oleh petani, peternak, dan nelayan setempat.
“Satu SPG mengelola anggaran sekitar Rp10 miliar per tahun, 85 persen untuk membeli bahan baku, dan 90 persen dari pertanian lokal. Jadi, uangnya berputar di desa, tidak keluar daerah,” jelas Dadan.
Pendekatan ini membuat pasokan pangan lebih terjamin, distribusi lebih cepat, dan harga lebih stabil. Petani padi, peternak ayam, pembudidaya ikan, hingga produsen susu mendapatkan pasar pasti setiap hari.
“Ini bukan hanya soal memberi makan anak, tapi juga memastikan petani kita sejahtera, nelayan kita punya pasar, dan pangan kita aman. MBG adalah investasi ganda, yakni gizi dan ekonomi,” ujarnya.
(shf)
Lihat Juga :