Identitas Diri dan Tantangan Zaman: Saatnya Orang Tua Berproses Bersama
Senin, 11 Agustus 2025 - 12:01 WIB
loading...
A
A
A
Pentingnya Pengenalan Identitas di Usia Dini
Hal yang perlu ditekankan adalah membantu dan mengenalkan anak terhadap aspek-aspek yang membentuk dirinya. Hal ini berarti mengenalkan anak terhadap nilai, budaya, dan minat anak. Proses pengenalan ini kemudian dapat terus berlanjut menjadi penerimaan dan pengembangan aspek-aspek tersebut.Seluruh proses tersebut tentunya harus sesuai dengan tahap perkembangan seseorang. Tahap perkembangan dapat dibagi menjadi beberapa tahapan berdasarkan teori dari Erik Erikson berikut:
1. Bayi (0 – 1 tahun)
2. Kanak-kanak awal (1 – 3 tahun)
3. Masa bermain (3 – 6 tahun)
4. Masa sekolah (7 – 11 tahun)
5. Remaja 12 – 18 tahun)
6. Dewasa awal (19 – 29 tahun)
7. Dewasa madya (30 – 64 tahun)
8. Dewasa akhir (65 tahun dan seterusnya)
Masa kanak-kanak menjadi penting dikarenakan oleh proses yang dipelajari anak pada tiap tahapan usia akan membentuk pemahaman baru. Pada usia 0 – 1 tahun, anak belajar mengenai trust & mistrust yang akan membantu anak percaya bahwa dalam kesulitan ia dapat mencari bantuan dari orang lain dan tetap menghadapi masalah.
Dilanjutkan pada masa kanak-kanak awal yaitu pada umur 1-3 tahun di mana anak mulai belajar mengenai autonomy & shame/doubt yang akan membantu anak belajar membentuk rasa mampu untuk bertindak secara mandiri. Pada tahap usia bermain atau pada usia 3-6 tahun, anak akan belajar mengenai initiative & guilt yang akan membentuk keberanian untuk tetap membuat pilihannya sendiri asalkan masih sejalan dengan batasan yang ditetapkan orang tuanya.
Peran Yang Dapat Dilakukan Orang Tua
Orang tua bisa membantu mengarahkan anak dengan beberapa cara berikut:• Membantu anak mengenal nilai mendasar. Keluarga seperti apa yang dimiliki anak? Budaya seperti apa yang menjadi akar dalam keluarganya? Hal-hal seperti ini menjadi penting dan merupakan langkah awal yang dapat dilakukan dalam penguatan identitas diri pada anak. Caranya bagaimana? Mulai kenalkan anak pada bahasa, sopan-santun, kebiasaan dalam keluarga dan dalam masyarakat sejak dini.
• Membantu anak untuk berekspresi. Pada anak berekspresi merupakan salah satu proses belajar. Biasanya dengan berekspresi mereka kemudian bisa merefleksikan apa yang ia rasakan, ia alami, tentunya dengan dibantu oleh orang tua. Misalkan dengan membiarkan anak untuk mengekspresikan kemarahan secara aman dapat menjadi momen untuk mengenali emosi tersebut. Sehingga anak mulai bisa memberi label pada emosi marah dan mengetahui bahwa ia sedang marah.
• Membantu anak untuk merefleksikan pengalamannya. Hal ini menjadi penting karena anak akan banyak bertanya mengenai apa yang ia alami, apa yang orang di sekitarnya lakukan. Namun, pada tahap pengenalan mungkin perlu dimulai dari orang tua dengan menanyakan mengenai apa yang baru ia alami. Pertanyaan yang dapat ditanyakan seperti ”Apa yang kamu tahu setelah menjatuhkan mainan ke lantai?” atau ”Apa yang kamu rasakan ketika bisa bermain dengan cat air?”
• Mendukung proses yang ia lalui dan bersabar menanggapi buah dari proses belajar anak. Sebagai orang tua tentu kita lebih memiliki pengalaman dan sumber daya yang lebih matang daripada anak. Di sinilah kita dapat menggunakan hal tersebut untuk memaklumi bahwa anak butuh berproses dalam belajar dan tidak serta merta menjadi sempurna. Proses belajar bisa saja dibarengi dengan kesalahan dan hasil yang tidak sesuai dengan apa yang kita anggap benar. Namun, bukan berarti kita langsung menyalahkan anak akan hal tersebut. Sikap tegas tetap dibutuhkan oleh orang tua, namun tidak dalam bentuk yang berlebihan seperti membentak atau mengancam anak.
Lihat Juga :