Orang Tua dan Sekolah Berperan Penting Cegah Anak Terpapar Intoleransi dan Radikalisme
Jum'at, 25 Juli 2025 - 16:18 WIB
loading...
A
A
A
“Namun, perlu diingat bahwa yang krusial bukan label “agama” pada nama lembaga pendidikannya, melainkan kompetensi pendidik dan cara penyampaian materi yang mampu menanamkan nilai toleransi,” terang Maharani di Jakarta, dikutip Jumat (25/7/2025).
Baca juga: HUT ke-15 BNPT Menyerukan Gerakan Siap Jaga Indonesia
Lebih jauh, penyandang gelar profesi Psikolog Klinis Dewasa dari Universitas Indonesia ini menegaskan bahwa pemahaman guru terhadap ajaran agama harus diuji secara kritis sebelum mereka diajak bergabung. Jika sekolah berbasis agama hendak menanamkan nilai toleransi, maka guru yang direkrut harus pula memiliki track record moderasi.
Menurutnya, ketika suatu lembaga pendidikan merekrut guru atau tenaga pengajar, mereka harus mengutamakan kecakapan metodologis, bukan sekadar kemampuan mengaji atau menghafal kitab. Cara pengajaran yang bebas dari bias ekstrem akan membuat materi agama bisa disampaikan dalam kerangka inklusif dan antiradikal.
“Lembaga pendidikan menjadi incaran kelompok intoleran karena dirasa lebih efektif untuk menanamkan pemahaman tertentu sejak usia dini, ketika kemampuan berpikir kritis anak masih belum berkembang secara sempurna. Kondisi ini memperlihatkan bahwa jika tidak diawasi, guru atau aktivitas ekstrakurikuler dapat berpotensi menyebarkan paham diskriminatif. Oleh karena itu, sistem pengawasan internal dan evaluasi kurikulum secara berkala harus diterapkan,” jelas Maharani.
Selain sekolah, Maharani menekankan bahwa pendidikan utama anak justru dimulai di lingkungan keluarga. Orang tua diminta untuk aktif memantau dan memvalidasi apa yang dipelajari anak di sekolah. Ia menyarankan agar orang tua mengajak anak berdialog tentang materi pelajaran, bukan sekadar menerima begitu saja pembelajaran dari sekolah.
Baca juga: HUT ke-15 BNPT Menyerukan Gerakan Siap Jaga Indonesia
Lebih jauh, penyandang gelar profesi Psikolog Klinis Dewasa dari Universitas Indonesia ini menegaskan bahwa pemahaman guru terhadap ajaran agama harus diuji secara kritis sebelum mereka diajak bergabung. Jika sekolah berbasis agama hendak menanamkan nilai toleransi, maka guru yang direkrut harus pula memiliki track record moderasi.
Menurutnya, ketika suatu lembaga pendidikan merekrut guru atau tenaga pengajar, mereka harus mengutamakan kecakapan metodologis, bukan sekadar kemampuan mengaji atau menghafal kitab. Cara pengajaran yang bebas dari bias ekstrem akan membuat materi agama bisa disampaikan dalam kerangka inklusif dan antiradikal.
“Lembaga pendidikan menjadi incaran kelompok intoleran karena dirasa lebih efektif untuk menanamkan pemahaman tertentu sejak usia dini, ketika kemampuan berpikir kritis anak masih belum berkembang secara sempurna. Kondisi ini memperlihatkan bahwa jika tidak diawasi, guru atau aktivitas ekstrakurikuler dapat berpotensi menyebarkan paham diskriminatif. Oleh karena itu, sistem pengawasan internal dan evaluasi kurikulum secara berkala harus diterapkan,” jelas Maharani.
Selain sekolah, Maharani menekankan bahwa pendidikan utama anak justru dimulai di lingkungan keluarga. Orang tua diminta untuk aktif memantau dan memvalidasi apa yang dipelajari anak di sekolah. Ia menyarankan agar orang tua mengajak anak berdialog tentang materi pelajaran, bukan sekadar menerima begitu saja pembelajaran dari sekolah.
Lihat Juga :