Orang Tua dan Sekolah Berperan Penting Cegah Anak Terpapar Intoleransi dan Radikalisme
Jum'at, 25 Juli 2025 - 16:18 WIB
loading...
A
A
A
Dalam pendidikan anak, sekolah memang sebagai mitra bagi orang tua, tetapi tanggung jawab utama pembentukan anak tetap di tangan orang tua. Bila ditemukan materi yang meragukan, orang tua diwajibkan berkomunikasi langsung dengan pihak sekolah untuk klarifikasi.
Maharani juga menekankan pembentukan kemampuan berpikir kritis pada anak sebagai benteng ampuh melawan hoaks dan paham ekstrem. Dari pada hanya menanamkan dogma, pendidik harus mengajarkan anak untuk bertanya, menganalisis, dan mengkritik.
“Apabila anak kita mendapati materi pembelajaran dari sekolahnya yang sekilas terlihat agamis namun sebenarnya mendiskreditkan pihak ataupun golongan tertentu, orang tua perlu hadir sebagai teman dialog bagi anak. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab bagi anaknya, dialog yang sehat akan lebih efektif dalam membentengi anak dari pemikiran intoleransi, ketimbang orang tua hanya melarang secara sepihak saja,” imbuh Maharani.
Dirinya juga bicara soal kemudahan penyebaran intoleransi dan radikalisme melalui media sosial. Ekosistem pendidikan, sekolah dan keluarga, harus bersinergi untuk menghadapi tantangan ini. Sekolah menyediakan kerangka nilai dan literasi kritis, sedangkan keluarga memberikan teladan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, anak mendapatkan dua lapis perlindungan, yaitu materi pembelajaran yang moderat serta suasana rumah yang menghargai keberagaman.
Mengakhiri penjelasannya, dosen di Fakultas Psikologi, Universitas Pancasila, Jakarta Selatan ini pun mengingatkan kembali bahwa intoleransi, radikalisme, dan terorisme tumbuh subur jika ruang dialog dan pengawasan bersama terhadap anak lemah.
“Melalui seleksi guru yang bertanggung jawab, pengawasan kurikulum, pendampingan orang tua, dan pembiasaan berpikir kritis, paham-paham berbahaya dapat dicegah sejak dini. Pendidikan, baik formal maupun informal, harus direvitalisasi sebagai pilar persatuan yang kokoh di tengah pluralitas Indonesia,” pungkas Maharani.
Maharani juga menekankan pembentukan kemampuan berpikir kritis pada anak sebagai benteng ampuh melawan hoaks dan paham ekstrem. Dari pada hanya menanamkan dogma, pendidik harus mengajarkan anak untuk bertanya, menganalisis, dan mengkritik.
“Apabila anak kita mendapati materi pembelajaran dari sekolahnya yang sekilas terlihat agamis namun sebenarnya mendiskreditkan pihak ataupun golongan tertentu, orang tua perlu hadir sebagai teman dialog bagi anak. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab bagi anaknya, dialog yang sehat akan lebih efektif dalam membentengi anak dari pemikiran intoleransi, ketimbang orang tua hanya melarang secara sepihak saja,” imbuh Maharani.
Dirinya juga bicara soal kemudahan penyebaran intoleransi dan radikalisme melalui media sosial. Ekosistem pendidikan, sekolah dan keluarga, harus bersinergi untuk menghadapi tantangan ini. Sekolah menyediakan kerangka nilai dan literasi kritis, sedangkan keluarga memberikan teladan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, anak mendapatkan dua lapis perlindungan, yaitu materi pembelajaran yang moderat serta suasana rumah yang menghargai keberagaman.
Mengakhiri penjelasannya, dosen di Fakultas Psikologi, Universitas Pancasila, Jakarta Selatan ini pun mengingatkan kembali bahwa intoleransi, radikalisme, dan terorisme tumbuh subur jika ruang dialog dan pengawasan bersama terhadap anak lemah.
“Melalui seleksi guru yang bertanggung jawab, pengawasan kurikulum, pendampingan orang tua, dan pembiasaan berpikir kritis, paham-paham berbahaya dapat dicegah sejak dini. Pendidikan, baik formal maupun informal, harus direvitalisasi sebagai pilar persatuan yang kokoh di tengah pluralitas Indonesia,” pungkas Maharani.
(shf)
Lihat Juga :