Tanggapi Replik Jaksa, Tom Lembong Ibaratkan Korek Api dan Korek Telinga di Pesawat
Sabtu, 12 Juli 2025 - 11:28 WIB
loading...
A
A
A
Ia menyinggung filosofi hukum bumi datar. Menurut Tom, jaksa tetap bersikeras dengan pandangan bumi datar meski sudah diberikan berbagai fakta realitas dan prinsip logika.
"Kesan saya ini udah kayak filosofi hukum bumi datar. Kita menyampaikan sejauh mungkin fakta-fakta, realitas, matematika, prinsip-prinsip yang berbasis logika, terus dia masih ngotot bahwa bumi itu datar, dia sampaikan sebagai fakta bahwa, ya faktanya kita nyetir 1.000 km kita nggak pernah merasakan lengkungan bumi gitu. Jadi, ya gimana ya, mungkin kasih kami waktu untuk mencerna semua ini," tuturnya.
Tom menganggap semua tuduhan jaksa telah dipatahkan oleh saksi dalam 20 kali persidangan kasus ini. Dia menuding jaksa mengabaikan 100 persen fakta persidangan.
"Jadi, kesimpulannya apa? Begitu juga ke replik sampai hari ini, jadi, sulit kalau kita mau simpulkan bahwa ini murni soal hukum atau keadilan. Berarti harus ada faktor lain, harus ada motivasi lain, ya kan. Kenapa mengabaikan 100 persen dari fakta persidangan? Kenapa mengabaikan logika matematika? Jadi apakah timing daripada terbitnya sprindik itu benar-benar hanya sebuah kebetulan? Ya sebaiknya masyarakat yang menilai," kata Tom.
"Kesan saya ini udah kayak filosofi hukum bumi datar. Kita menyampaikan sejauh mungkin fakta-fakta, realitas, matematika, prinsip-prinsip yang berbasis logika, terus dia masih ngotot bahwa bumi itu datar, dia sampaikan sebagai fakta bahwa, ya faktanya kita nyetir 1.000 km kita nggak pernah merasakan lengkungan bumi gitu. Jadi, ya gimana ya, mungkin kasih kami waktu untuk mencerna semua ini," tuturnya.
Tom menganggap semua tuduhan jaksa telah dipatahkan oleh saksi dalam 20 kali persidangan kasus ini. Dia menuding jaksa mengabaikan 100 persen fakta persidangan.
"Jadi, kesimpulannya apa? Begitu juga ke replik sampai hari ini, jadi, sulit kalau kita mau simpulkan bahwa ini murni soal hukum atau keadilan. Berarti harus ada faktor lain, harus ada motivasi lain, ya kan. Kenapa mengabaikan 100 persen dari fakta persidangan? Kenapa mengabaikan logika matematika? Jadi apakah timing daripada terbitnya sprindik itu benar-benar hanya sebuah kebetulan? Ya sebaiknya masyarakat yang menilai," kata Tom.
(abd)
Lihat Juga :