Denny JA Sebut Kemandirian Energi adalah Sebuah Keharusan
Kamis, 10 Juli 2025 - 21:19 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Indonesia Berkomitmen Dalam Transformasi Energi
Menurut Denny, gagasan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya ketahanan dan kemandirian nasional sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.
Dalam refleksinya, Denny menggarisbawahi pada era 1970-an, Indonesia pernah mampu memproduksi hingga 1,2 juta barel per hari. Saat ini, angka tersebut menurun drastis hingga separuhnya.
Sebagai perbandingan Amerika Serikat sebanyak 12 juta barel per hari, Arab Saudi sebanyak 10 juta barel per hari, dan Iran sebanyak 2,5 juta barel per hari. Sementara, Indonesia hanya 5-20% dari kapasitas negara-negara tersebut.
Denny JA mengidentifikasi tiga faktor utama yang membedakan negara-negara yang sukses dalam ketahanan energi. Pertama, eksplorasi dan teknologi. Negara-negara maju tak henti melakukan eksplorasi dan mengadopsi teknologi mutakhir. Tanpa penemuan cadangan energi baru, kemandirian hanya akan menjadi mitos.
Kedua, tata kelola dan transparansi. Menurutnya, jika sektor energi dikuasai oleh kelompok oligarki yang lebih diuntungkan oleh impor, maka kebocoran dan mafia impor akan terus menjadi penghambat utama. “Tanpa tata kelola yang sehat, produksi akan kalah oleh mafia impor,” tegas Denny.
Menurut Denny, gagasan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya ketahanan dan kemandirian nasional sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.
Dalam refleksinya, Denny menggarisbawahi pada era 1970-an, Indonesia pernah mampu memproduksi hingga 1,2 juta barel per hari. Saat ini, angka tersebut menurun drastis hingga separuhnya.
Sebagai perbandingan Amerika Serikat sebanyak 12 juta barel per hari, Arab Saudi sebanyak 10 juta barel per hari, dan Iran sebanyak 2,5 juta barel per hari. Sementara, Indonesia hanya 5-20% dari kapasitas negara-negara tersebut.
Denny JA mengidentifikasi tiga faktor utama yang membedakan negara-negara yang sukses dalam ketahanan energi. Pertama, eksplorasi dan teknologi. Negara-negara maju tak henti melakukan eksplorasi dan mengadopsi teknologi mutakhir. Tanpa penemuan cadangan energi baru, kemandirian hanya akan menjadi mitos.
Kedua, tata kelola dan transparansi. Menurutnya, jika sektor energi dikuasai oleh kelompok oligarki yang lebih diuntungkan oleh impor, maka kebocoran dan mafia impor akan terus menjadi penghambat utama. “Tanpa tata kelola yang sehat, produksi akan kalah oleh mafia impor,” tegas Denny.
Lihat Juga :