Anatomi Kepalsuan Akademik
Minggu, 06 Juli 2025 - 10:09 WIB
loading...
A
A
A
Fenomena ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia adalah produk dari insentif yang salah arah dan sistem yang gagal memahami hakikat ilmu. Logika audit dan pengukuran kinerja ala manajerial telah merasuk ke dalam dunia akademik, menggeser tujuan universitas dari pursuit of knowledge menjadi compliance for funding.
Dalam situasi seperti ini, riset bukan lagi proses yang mendalam dan reflektif, tetapi menjadi proyek cepat saji yang harus selesai sesuai jadwal hibah. Publikasi bukan lagi ruang dialog keilmuan, melainkan alat mengejar kenaikan jabatan dan tunjangan.
Dalam bahasa Ivan Illich, pendidikan tinggi telah menjadi ritual of certification, di mana yang dicari adalah stempel administratif, bukan pencapaian intelektual sejati. Sedangkan sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, menyebut arena akademik sebagai ruang di mana berbagai modal—ekonomi, sosial, dan simbolik—diperebutkan secara intens.
Pendidikan tinggi, dalam perspektifnya, bisa menjadi alat legitimasi kekuasaan dan reproduksi dominasi, bukan ruang emansipasi. Di Indonesia, banyak perguruan tinggi telah berubah menjadi lembaga akumulasi simbolik. Gelar profesor menjadi lambang status, bukan kedalaman ilmu. Artikel jurnal menjadi komoditas, bukan hasil dialog epistemik.
Bahkan, ketika kampus ramai memproduksi artikel internasional, ruang-ruang kelas tetap miskin diskusi kritis. Mahasiswa kehilangan orientasi, dosen kehilangan hasrat intelektual, dan publik kehilangan kepercayaan terhadap pendidikan tinggi.
Di titik ini, kita menghadapi situasi yang tidak lagi bisa dianggap sekadar sebagai "masalah akademik", tetapi sebagai krisis moral dan arah kebudayaan. Jika universitas adalah laboratorium masa depan bangsa, maka kebohongan yang dibiarkan hidup di dalamnya akan meracuni seluruh sendi kehidupan.
Dalam situasi seperti ini, riset bukan lagi proses yang mendalam dan reflektif, tetapi menjadi proyek cepat saji yang harus selesai sesuai jadwal hibah. Publikasi bukan lagi ruang dialog keilmuan, melainkan alat mengejar kenaikan jabatan dan tunjangan.
Dalam bahasa Ivan Illich, pendidikan tinggi telah menjadi ritual of certification, di mana yang dicari adalah stempel administratif, bukan pencapaian intelektual sejati. Sedangkan sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, menyebut arena akademik sebagai ruang di mana berbagai modal—ekonomi, sosial, dan simbolik—diperebutkan secara intens.
Pendidikan tinggi, dalam perspektifnya, bisa menjadi alat legitimasi kekuasaan dan reproduksi dominasi, bukan ruang emansipasi. Di Indonesia, banyak perguruan tinggi telah berubah menjadi lembaga akumulasi simbolik. Gelar profesor menjadi lambang status, bukan kedalaman ilmu. Artikel jurnal menjadi komoditas, bukan hasil dialog epistemik.
Krisis Etika, Krisis Masa Depan
Ironisnya, peningkatan jumlah publikasi tidak serta-merta diikuti oleh peningkatan kualitas keilmuan atau dampak sosial. Banyak riset berakhir di tumpukan laporan tanpa dibaca atau dimanfaatkan. Jurnal-jurnal dipenuhi artikel yang ditulis tergesa-gesa demi akreditasi, bukan untuk menjawab problem sosial.Bahkan, ketika kampus ramai memproduksi artikel internasional, ruang-ruang kelas tetap miskin diskusi kritis. Mahasiswa kehilangan orientasi, dosen kehilangan hasrat intelektual, dan publik kehilangan kepercayaan terhadap pendidikan tinggi.
Di titik ini, kita menghadapi situasi yang tidak lagi bisa dianggap sekadar sebagai "masalah akademik", tetapi sebagai krisis moral dan arah kebudayaan. Jika universitas adalah laboratorium masa depan bangsa, maka kebohongan yang dibiarkan hidup di dalamnya akan meracuni seluruh sendi kehidupan.
Lihat Juga :