Penulis Denny JA Rekam Sejarah dalam 7 Buku Puisi Esai
Kamis, 03 Juli 2025 - 10:49 WIB
loading...
Penulis dan pemikir publik Denny JA merampungkan proyek heptalogi puisi esai, genre sastra naratif. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Penulis dan pemikir publik Denny JA merampungkan proyek heptalogi puisi esai, genre sastra naratif yang digagas lebih dari satu dekade lalu. Melalui tujuh buku puisi esai, Denny JA menghadirkan suara-suara yang terpinggirkan dalam arus sejarah, mulai dari kekerasan seksual masa pendudukan Jepang hingga tragedi kemanusiaan global seperti Holocaust dan bom Hiroshima.
Buku ketujuh bertajuk “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025)” menjadi penutup serial ini. Tak seperti enam buku sebelumnya yang fokus pada sejarah Indonesia, buku ini menembus batas geografis, menyuarakan tragedi global dari Revolusi Prancis, pembantaian di Nanking, hingga korban perang dunia.
“Sejarah resmi menulis pahlawan. Tapi puisi esai menulis korban,” ujar Denny JA dalam peluncuran bukunya, Kamis (3/7/2025).
Baca juga: Denny JA Terima Penghargaan Inovasi Budaya dan Sastra House of Lord London
Menurut Penerbit CBI proyek heptalogi ini bukan sekadar upaya literer, tetapi arsip nurani bangsa dan dunia. Denny JA menggunakan format puisi esai—sebuah genre unik yang memadukan gaya puitik dengan riset sejarah, menjadikannya alat refleksi sekaligus dokumentasi. “Ia menawarkan ruang jeda di tengah derasnya informasi digital,” ujar pihak penerbit.
Melalui genre ini, Denny JA menggali sisi terdalam dari sejarah: bukan sekadar kronologi atau angka korban, tetapi luka personal yang abadi. Dia menyuarakan mereka yang selama ini tak tercatat di buku sejarah resmi, perempuan penghibur, eksil yang tak bisa pulang, anak-anak korban perang, dan cinta yang tak pernah punya ruang.
Baca juga: Denny JA, Pelopor Puisi Esai yang Menghidupkan Sejarah dan Advokasi Sosial
“Sebab kemerdekaan sejati, seperti puisi, adalah keberanian untuk terus mendengarkan yang tak lagi punya suara,” kata Denny JA.
Daftar 7 Buku dalam Heptalogi Puisi Esai Denny JA:
1. Atas Nama Cinta (2012) – Tentang cinta yang kandas karena diskriminasi
2. Kutunggu di Setiap Kamisan (2018) – Tentang diam yang bersuara
3. Jeritan Setelah Kebebasan (2015) – Tentang konflik berdarah pasca-Reformasi
4. Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024) – Tentang mereka yang tak ikut merdeka
5. Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024) – Tentang pahlawan sebagai manusia, bukan ikon
6. Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024) – Tentang mereka yang kehilangan tanah air dan kampung halaman.
7. Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) – Tentang tragedi global dan nurani dunia.
Buku ketujuh bertajuk “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025)” menjadi penutup serial ini. Tak seperti enam buku sebelumnya yang fokus pada sejarah Indonesia, buku ini menembus batas geografis, menyuarakan tragedi global dari Revolusi Prancis, pembantaian di Nanking, hingga korban perang dunia.
“Sejarah resmi menulis pahlawan. Tapi puisi esai menulis korban,” ujar Denny JA dalam peluncuran bukunya, Kamis (3/7/2025).
Baca juga: Denny JA Terima Penghargaan Inovasi Budaya dan Sastra House of Lord London
Menurut Penerbit CBI proyek heptalogi ini bukan sekadar upaya literer, tetapi arsip nurani bangsa dan dunia. Denny JA menggunakan format puisi esai—sebuah genre unik yang memadukan gaya puitik dengan riset sejarah, menjadikannya alat refleksi sekaligus dokumentasi. “Ia menawarkan ruang jeda di tengah derasnya informasi digital,” ujar pihak penerbit.
Melalui genre ini, Denny JA menggali sisi terdalam dari sejarah: bukan sekadar kronologi atau angka korban, tetapi luka personal yang abadi. Dia menyuarakan mereka yang selama ini tak tercatat di buku sejarah resmi, perempuan penghibur, eksil yang tak bisa pulang, anak-anak korban perang, dan cinta yang tak pernah punya ruang.
Baca juga: Denny JA, Pelopor Puisi Esai yang Menghidupkan Sejarah dan Advokasi Sosial
“Sebab kemerdekaan sejati, seperti puisi, adalah keberanian untuk terus mendengarkan yang tak lagi punya suara,” kata Denny JA.
Daftar 7 Buku dalam Heptalogi Puisi Esai Denny JA:
1. Atas Nama Cinta (2012) – Tentang cinta yang kandas karena diskriminasi
2. Kutunggu di Setiap Kamisan (2018) – Tentang diam yang bersuara
3. Jeritan Setelah Kebebasan (2015) – Tentang konflik berdarah pasca-Reformasi
4. Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024) – Tentang mereka yang tak ikut merdeka
5. Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024) – Tentang pahlawan sebagai manusia, bukan ikon
6. Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024) – Tentang mereka yang kehilangan tanah air dan kampung halaman.
7. Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) – Tentang tragedi global dan nurani dunia.
(cip)
Lihat Juga :