Tionghoa Indonesia Tak Sama dengan Migran Baru Asal Tiongkok
Kamis, 26 Juni 2025 - 20:04 WIB
loading...
A
A
A
“Tanpa memahami fenomena migrasi, kita tidak bisa memahami dunia,” tutur guru besar dalam bidang ilmu keamanan dan perdamaian itu.
Profesor Leo Suryadinata yang juga pembicara menilai istilah migran yang belakangan ini digunakan untuk merujuk pada warga asal Tiongkok yang datang ke Indonesia dan Asia Tenggara dalam beberapa dasawarsa terakhir merupakan istilah yang rancu dan cenderung menimbulkan problem baik dalam aspek akademis maupun aspek sosial.
Hal ini karena istilah migran disematkan kepada orang-orang asal Tiongkok yang sebenarnya datang untuk sementara waktu ke negara tujuan, entah sebagai pekerja, pelajar, pebisnis, atau kegiatan-kegiatan lainnya.
Mereka datang untuk sementara dan dalam kelompok relatif besar, mereka tak dapat diharapkan untuk melakukan proses adaptasi dalam hal sosial dan budaya seperti pendahulu mereka yaitu etnis Tionghoa di Asia Tenggara, termasuk orang-orang Tionghoa Indonesia.
Leo yang juga peneliti senior ISEAS Yusof Ishak Institute Singapura itu mengemukakan berbagai karakteristik dari migran baru asal Tiongkok (yang dalam Bahasa Mandarin disebut dengan istilah Xin Yimin) yang dalam anggapannya jauh berbeda dari karakteristik etnis Tionghoa di Asia Tenggara dan Indonesia yang disebut migran lama.
Berbeda dari etnik Tionghoa yang sudah berakar di Asia Tenggara dan Indonesia, migran baru asal Tiongkok tidak datang untuk menetap. Menurut Leo, mereka menjadikan negara-negara tujuan sebagai tempat untuk transit dalam proses migrasi yang bersifat sementara.
Karena itu, mereka tak lagi berpegang pada istilah luodi shenggen (berakar di tanah yang mereka pijak) dan cenderung berpindah-pindah seperti daun teratai yang tak berakar.
“Karena mereka datang dengan jumlah besar, mereka akan berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama kelompok mereka, sehingga proses integrasi antara mereka dan masyarakat setempat menjadi sangat sulit,” kata Leo yang juga ahli Hubungan Internasional sekaligus pemerhati Tionghoa Asia Tenggara kenamaan ini.
Kesulitan berintegrasi dengan masyarakat setempat itu menjadi sebuah persoalan yang muncul akibat kehadiran migran baru asal Tiongkok. Persoalan lain yang muncul adalah kegiatan mereka yang terkait dengan berbagai proyek investasi dari Tiongkok.
Profesor Leo Suryadinata yang juga pembicara menilai istilah migran yang belakangan ini digunakan untuk merujuk pada warga asal Tiongkok yang datang ke Indonesia dan Asia Tenggara dalam beberapa dasawarsa terakhir merupakan istilah yang rancu dan cenderung menimbulkan problem baik dalam aspek akademis maupun aspek sosial.
Hal ini karena istilah migran disematkan kepada orang-orang asal Tiongkok yang sebenarnya datang untuk sementara waktu ke negara tujuan, entah sebagai pekerja, pelajar, pebisnis, atau kegiatan-kegiatan lainnya.
Mereka datang untuk sementara dan dalam kelompok relatif besar, mereka tak dapat diharapkan untuk melakukan proses adaptasi dalam hal sosial dan budaya seperti pendahulu mereka yaitu etnis Tionghoa di Asia Tenggara, termasuk orang-orang Tionghoa Indonesia.
Leo yang juga peneliti senior ISEAS Yusof Ishak Institute Singapura itu mengemukakan berbagai karakteristik dari migran baru asal Tiongkok (yang dalam Bahasa Mandarin disebut dengan istilah Xin Yimin) yang dalam anggapannya jauh berbeda dari karakteristik etnis Tionghoa di Asia Tenggara dan Indonesia yang disebut migran lama.
Berbeda dari etnik Tionghoa yang sudah berakar di Asia Tenggara dan Indonesia, migran baru asal Tiongkok tidak datang untuk menetap. Menurut Leo, mereka menjadikan negara-negara tujuan sebagai tempat untuk transit dalam proses migrasi yang bersifat sementara.
Karena itu, mereka tak lagi berpegang pada istilah luodi shenggen (berakar di tanah yang mereka pijak) dan cenderung berpindah-pindah seperti daun teratai yang tak berakar.
“Karena mereka datang dengan jumlah besar, mereka akan berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama kelompok mereka, sehingga proses integrasi antara mereka dan masyarakat setempat menjadi sangat sulit,” kata Leo yang juga ahli Hubungan Internasional sekaligus pemerhati Tionghoa Asia Tenggara kenamaan ini.
Kesulitan berintegrasi dengan masyarakat setempat itu menjadi sebuah persoalan yang muncul akibat kehadiran migran baru asal Tiongkok. Persoalan lain yang muncul adalah kegiatan mereka yang terkait dengan berbagai proyek investasi dari Tiongkok.
Lihat Juga :