Iran Tak akan Mundur, tapi Siapa yang Terseret ke Jurang?
Sabtu, 21 Juni 2025 - 11:40 WIB
loading...
A
A
A
Tentu, ini bukan hanya soal Iran dan Israel. Saat peralatan militer dari Amerika Serikat dan Jerman tiba bertubi-tubi di bandara-bandara Israel, sinyal yang dikirim jelas: jika perang ini berkembang, barat akan berada di belakang Tel Aviv. Kapal induk USS Gerald R. Ford kini bersiaga di Laut Tengah, sementara jet-jet tempur AS dikirim ke pangkalan di Qatar dan Bahrain. Intervensi langsung mungkin belum terjadi, tetapi posisinya telah disiapkan.
Dan seperti dominonya, negara-negara lain mulai terdorong masuk ke pusaran. Hizbullah di Lebanon tak tinggal diam, sementara milisi Syiah di Irak mulai menyatakan kesiapan. Houthi di Yaman mengancam jalur pelayaran Laut Merah. Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain tampak gelisah. Mereka tidak ingin perang ini mengganggu infrastruktur energi mereka, namun mereka juga tahu bahwa menutup mata terlalu lama bisa memancing serangan tak terduga.
Di luar kawasan, Rusia dan China mengamati dengan cermat. Tak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai aktor global yang siap memanfaatkan disorientasi Barat. Bahkan Turki dan Mesir, yang selama ini menjaga keseimbangan, mulai bersuara lebih keras, khawatir bahwa perang ini akan menjebol batas-batas lama.
Iran tampaknya memahami permainannya: bukan untuk menang secara militer, tetapi untuk tidak kalah secara politik. Mereka tahu bahwa bertahan dalam badai—tanpa runtuh—sudah cukup untuk mengirimkan pesan. Sebaliknya, Israel tahu waktu bukan berpihak padanya. Semakin lama perang berlangsung, semakin besar tekanan internasional, semakin tinggi risiko kehilangan kendali.
Baca Juga: Iran Tembakkan Rudal Sejjil ke Israel: Gerbang Neraka Akan Terbuka untuk Zionis!
Dan seperti dominonya, negara-negara lain mulai terdorong masuk ke pusaran. Hizbullah di Lebanon tak tinggal diam, sementara milisi Syiah di Irak mulai menyatakan kesiapan. Houthi di Yaman mengancam jalur pelayaran Laut Merah. Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain tampak gelisah. Mereka tidak ingin perang ini mengganggu infrastruktur energi mereka, namun mereka juga tahu bahwa menutup mata terlalu lama bisa memancing serangan tak terduga.
Di luar kawasan, Rusia dan China mengamati dengan cermat. Tak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai aktor global yang siap memanfaatkan disorientasi Barat. Bahkan Turki dan Mesir, yang selama ini menjaga keseimbangan, mulai bersuara lebih keras, khawatir bahwa perang ini akan menjebol batas-batas lama.
Iran tampaknya memahami permainannya: bukan untuk menang secara militer, tetapi untuk tidak kalah secara politik. Mereka tahu bahwa bertahan dalam badai—tanpa runtuh—sudah cukup untuk mengirimkan pesan. Sebaliknya, Israel tahu waktu bukan berpihak padanya. Semakin lama perang berlangsung, semakin besar tekanan internasional, semakin tinggi risiko kehilangan kendali.
Baca Juga: Iran Tembakkan Rudal Sejjil ke Israel: Gerbang Neraka Akan Terbuka untuk Zionis!
Lihat Juga :