Iran Tak akan Mundur, tapi Siapa yang Terseret ke Jurang?
Sabtu, 21 Juni 2025 - 11:40 WIB
loading...
A
A
A
Amerika Serikat pun tidak berada di posisi nyaman. Di satu sisi, mereka harus menunjukkan komitmen penuh pada sekutunya. Tapi di sisi lain, mereka tahu bahwa satu langkah terlalu jauh bisa menyeret mereka ke dalam perang kawasan yang memakan biaya dan menguras legitimasi. Inilah titik di mana semua pihak tahu apa yang dipertaruhkan, tetapi tidak tahu bagaimana cara berhenti.
Jika eskalasi berlanjut, ada setidaknya tiga kemungkinan skenario. Pertama, perang penuh di mana semua proksi Iran ikut terlibat, dan AS turun tangan secara langsung. Ini akan menjadi perang Timur Tengah berskala besar pertama sejak invasi Irak 2003, dan bisa mengguncang pasar minyak, stabilitas regional, bahkan aliansi global. Kedua, konflik tetap terlokalisasi antara Iran dan Israel, tetapi dengan intensitas tinggi. Ini membuat kawasan dalam ketegangan permanen, dengan risiko penyebaran mendadak ke negara-negara tetangga. Ketiga, gencatan senjata rapuh dipaksakan lewat tekanan diplomatik. Tapi ini hanya akan menjadi jeda, bukan solusi—sebuah waktu istirahat sebelum krisis berikutnya.
Apa pun skenario yang terjadi, satu hal kini tampak jelas: kekuatan militer saja tak cukup untuk memenangkan perang semacam ini. Ini adalah perang ketahanan, perang legitimasi, perang persepsi. Dan dalam arena semacam ini, pihak yang paling keras bukan selalu pihak yang menang. Bisa jadi, yang menang adalah yang mampu bertahan lebih lama, meski babak belur, dan masih punya cukup kekuatan untuk berdiri saat yang lain mulai limbung.
Iran mungkin tidak akan menang dalam pengertian konvensional. Tapi mereka tahu betul: jika mereka tidak tumbang, dan lawan mereka mulai kehilangan arah, maka itu sudah cukup untuk mengklaim kemenangan. Dan jika dunia tidak segera mendorong jalan keluar diplomatik yang nyata, maka satu demi satu negara akan terseret—bukan karena mereka menginginkannya, tetapi karena logika konflik tak pernah mengenal batas.
Jika eskalasi berlanjut, ada setidaknya tiga kemungkinan skenario. Pertama, perang penuh di mana semua proksi Iran ikut terlibat, dan AS turun tangan secara langsung. Ini akan menjadi perang Timur Tengah berskala besar pertama sejak invasi Irak 2003, dan bisa mengguncang pasar minyak, stabilitas regional, bahkan aliansi global. Kedua, konflik tetap terlokalisasi antara Iran dan Israel, tetapi dengan intensitas tinggi. Ini membuat kawasan dalam ketegangan permanen, dengan risiko penyebaran mendadak ke negara-negara tetangga. Ketiga, gencatan senjata rapuh dipaksakan lewat tekanan diplomatik. Tapi ini hanya akan menjadi jeda, bukan solusi—sebuah waktu istirahat sebelum krisis berikutnya.
Apa pun skenario yang terjadi, satu hal kini tampak jelas: kekuatan militer saja tak cukup untuk memenangkan perang semacam ini. Ini adalah perang ketahanan, perang legitimasi, perang persepsi. Dan dalam arena semacam ini, pihak yang paling keras bukan selalu pihak yang menang. Bisa jadi, yang menang adalah yang mampu bertahan lebih lama, meski babak belur, dan masih punya cukup kekuatan untuk berdiri saat yang lain mulai limbung.
Iran mungkin tidak akan menang dalam pengertian konvensional. Tapi mereka tahu betul: jika mereka tidak tumbang, dan lawan mereka mulai kehilangan arah, maka itu sudah cukup untuk mengklaim kemenangan. Dan jika dunia tidak segera mendorong jalan keluar diplomatik yang nyata, maka satu demi satu negara akan terseret—bukan karena mereka menginginkannya, tetapi karena logika konflik tak pernah mengenal batas.
(zik)
Lihat Juga :