Mempertanyakan Pengawasan Pemerintah dalam Kasus Tambang Nikel di Raja Ampat

Sabtu, 21 Juni 2025 - 05:53 WIB
loading...
Mempertanyakan Pengawasan...
Mahasiswa Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta, Abdul Hamid Dhaifullah. FOTO/DOK.PRIBADI
A A A
Abdul Hamid Dhaifullah
Mahasiswa Hubungan Internasional UPN "Veteran" Jakarta
Anggota Lembaga Pers Mahasiswa ASPIRASI

HADIRNYA pertambangan nikel di Raja Ampat bisa diasumsikan sebagai salah satu dampak negatif dari penggalakan kebijakan hilirisasi pemerintah Indonesia tanpa pengawasan yang baik. Kebijakan dengan niat mendongkrak perekonomian negara malah menjadi momok ancaman bagi kelestarian alam ketika bertabrakan dengan kebijakan lainnya.

Tagar #SaveRajaAmpat mendulang atensi masyarakat luas setelah potongan rekaman aksi protes beberapa aktivis Greenpeace Indonesia di Indonesia Critical Minerals Conference & Expo pada Selasa, 3 Juni 2025, viral di sosial media. Iqbal Damanik selaku Juru Kampanye Hutan Greenpeace bersama dengan empat pemuda dari Papua memasuki ruang konferensi sembari membentangkan spanduk bertuliskan "Nickel Mines Destroy Lives", "What's The True Cost of Your Nickel?", dan "Save Raja Ampat The Last Paradise".

Aksi damai ini merupakan upaya mereka mendesak pemerintah agar segera menghentikan kegiatan penambangan di kawasan Raja Ampat, Papua Barat Daya. Sekurang-kurangnya terdapat lima perusahaan yang melakukan penambangan di kawasan tersebut, yakni PT Gag Nikel, PT Anugerah Surya Pratama (ASP), PT Mulia Raymond Perkasa (MRP), PT Kawei Sejahtera Mining (KSM), dan PT Nurham.

Ada hasil yang terbilang cukup positif dari aksi damai ini, setelah pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Lingkungan Hidup, dan Menteri Sekretaris Negara menyatakan penghentian sementara empat dari lima tambang aktif di Raja Ampat dalam konferensi pers pada Selasa, 10 Juni 2025. Dari empat perusahaan tambang, hanya PT Gag Nikel yang tidak dicabut Izin Usaha Pertambangannya (IUP).

Bahlil menjelaskan bahwa pihaknya menemukan pelanggaran penggunaan lahan dari keempat perusahaan tambang. Keempat perusahaan itu melakukan aktivitas penambangan di dalam kawasan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization Global Geoparks (UNESCO Global Geoparks). UNESCO Global Geoparks sendiri merupakan wilayah yang telah dipromosikan secara khusus untuk konservasi alam dan pariwisata. Maka, bukan hal masuk akal bilamana terdapat aktivitas penambangan aktif destruktif di lingkungan yang memang semulanya dimaksudkan sebagai cagar alam.

Paradoks Regulasi dan Implementasi yang Membingungkan

Bila kita melihat keberadaan lima perusahaan tambang tadi dari kacamata hukum yang berlaku saat ini, kelima perusahaan tersebut terbukti melanggar tanpa terkecuali. Undang-Undang (UU) Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil melarang dengan tegas pemanfaatan wilayah pulau kecil untuk kebutuhan tambang yang merusak dan mencemari lingkungan.

Pulau kecil yang dimaksud dalam UU ini adalah pulau dengan luas total kurang dari 2.000 kilometer persegi. Faktanya, empat dari lima perusahaan tambang terbukti melakukan aktivitas tambang di "pulau kecil", termasuk PT Gag Nikel. Hanya PT Nurham yang tidak beroperasi di kawasan pulau kecil, Pulau Waigeo.

Maka, kelima perusahaan tambang itu terbukti melakukan pelanggaran pemanfaatan pulau kecil dan/atau kawasan UNESCO Global Geoparks sebagai kawasan tambang. Bahkan, jika UU Nomor 27 Tahun 2007 ditafsirkan secara literal, maka seluruh tambang di Raja Ampat terhitung melanggar, karena seluruh tambang yang "menimbulkan kerusakan lingkungan dan/atau pencemaran lingkungan dan/atau merugikan masyarakat sekitar", termasuk ke dalam bentuk pelanggaran.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Samin Tan Cs Segera...
Samin Tan Cs Segera Disidang Kasus Korupsi Tambang
Peduli Lingkungan, Aliansi...
Peduli Lingkungan, Aliansi Lintas Agama-Kementerian LH Serukan Tobat Ekologis Nasional
Mantan Ketua Ombudsman...
Mantan Ketua Ombudsman Terima Rumah hingga Uang Miliaran di Kasus Korupsi Tambang Nikel
Apresiasi Kejagung Bongkar...
Apresiasi Kejagung Bongkar Korupsi IUP Bauksit, JAN Minta Kasus Samin Tan Tak Mandek
Prabowo Perintahkan...
Prabowo Perintahkan Eksekusi Cepat Tambang di Kawasan Hutan
Ketua Ombudsman Diduga...
Ketua Ombudsman Diduga Terima Uang Rp1,5 Miliar di Kasus Korupsi Tata Kelola Nikel
Indonesia Punya 40%...
Indonesia Punya 40% Cadangan Nikel Dunia, Anehnya Tak Bisa Pimpin Rantai Pasok Baterai Global
Bahlil Siap Atur Mekanisme...
Bahlil Siap Atur Mekanisme Izin Tambang Ormas Agama Pascaputusan MK
PASTI Indonesia Minta...
PASTI Indonesia Minta KPK Soroti Pengelolaan PDRD Raja Ampat Tahun 2025
Rekomendasi
Menko Airlangga Soal...
Menko Airlangga Soal Mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo: Yang Penting Institusinya
Marvel Umumkan Ryan...
Marvel Umumkan Ryan Gosling Jadi Ghost Rider, David Jonsson Black Panther Baru
Ribuan Sengketa Pajak...
Ribuan Sengketa Pajak Bermunculan, Perbedaan Tafsir Masih Jadi Pemicu Utama
Berita Terkini
Angela Tanoesoedibjo...
Angela Tanoesoedibjo Minta Kader Perindo Peka Kondisi Sosial, Singgung Kasus Pencuri Ayam Tewas di Bali
Klaim China di Perairan...
Klaim China di Perairan Natuna, Pakar Minta Indonesia Pertahankan Kedaulatan
Angela Tanoesoedibjo...
Angela Tanoesoedibjo Ajak Kader Contoh Kegigihan Timnas Norwegia
Kasus Eks Jampidsus...
Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Pentingnya Menjaga Rasa Keadilan Publik
Febrie Adriansyah Sarapan...
Febrie Adriansyah Sarapan Bareng Tahanan KPK, Pengacara: Lauknya Telur Ceplok dan Bihun
1.404 Orang Lulus IPDN,...
1.404 Orang Lulus IPDN, Tito Dorong Lulusan Ciptakan Kebijakan Berlandaskan Pengetahuan
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved