Pengelolaan Human Capital dan Kesiapsiagaan Menghadapi Resesi
Rabu, 09 September 2020 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Saya tetap melihat resesi dari sudut pandang optimis, karena dalam kondisi apapun, akan selalu ada peluang usaha atau peluang perbaikan kinerja yang bisa muncul. Baik itu baru sama sekali maupun penyempurnaan dari usaha atau kinerja sebelumnya. Di sisi inilah dibutuhkan kejelian untuk menangkap sektor-sektor yang tetap tumbuh, dan itulah yang perlu didorong untuk tumbuh lebih maksimal, sehingga dapat menjadi lokomotif yang menggerakkan ekonomi dan menyerap tenaga kerja yang lebih besar.
Dalam konteks tersebut, maka paradigma lama dalam bisnis modern di mana semua pihak harus menjadi pemenang, win-win paradigm, akan sangat membantu setiap organisasi dan korporasi keluar dari kubangan resesi, segera pada kesempatan pertama ketika titik terang itu kelihatan di depan mata semua orang. Dalam proses internal, manajemen dan pegawai/karyawan, tidak boleh menggunakan kaca mata menang kalah, mauku harus dituruti, permintaanku harus dipenuhi, hak-hakku harus ditunaikan. Paradigma demikian akan menimbulkan riak yang justru akan membuat setiap pihak makin sulit melihat titik terang, dan organisasi akan terseret dalam arus pusaran yang makin kencang, alih-alih keluar dari krisis dan resesi yang sudah berumur lebih dari setengah tahun.
Secara eksternal, pendekatan win-win juga menjadi kunci, karena persaingan yang bersifat menang-kalah justru akan menjadikan yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu. Krisis ini multidimensi, dan resesi ini belum pernah ada yang mengalaminya, dan belum ada satu penawar yang mujarab untuk semua masalah yang ditimbulkan.
Dalam konteks tersebut, maka paradigma lama dalam bisnis modern di mana semua pihak harus menjadi pemenang, win-win paradigm, akan sangat membantu setiap organisasi dan korporasi keluar dari kubangan resesi, segera pada kesempatan pertama ketika titik terang itu kelihatan di depan mata semua orang. Dalam proses internal, manajemen dan pegawai/karyawan, tidak boleh menggunakan kaca mata menang kalah, mauku harus dituruti, permintaanku harus dipenuhi, hak-hakku harus ditunaikan. Paradigma demikian akan menimbulkan riak yang justru akan membuat setiap pihak makin sulit melihat titik terang, dan organisasi akan terseret dalam arus pusaran yang makin kencang, alih-alih keluar dari krisis dan resesi yang sudah berumur lebih dari setengah tahun.
Secara eksternal, pendekatan win-win juga menjadi kunci, karena persaingan yang bersifat menang-kalah justru akan menjadikan yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu. Krisis ini multidimensi, dan resesi ini belum pernah ada yang mengalaminya, dan belum ada satu penawar yang mujarab untuk semua masalah yang ditimbulkan.
(ras)