Pengelolaan Human Capital dan Kesiapsiagaan Menghadapi Resesi
Rabu, 09 September 2020 - 06:05 WIB
loading...
Muhamad Ali
A
A
A
Muhamad Ali
Pemerhati Human Capital
PULUHAN negara sudah mengumumkan kondisi resesi. Negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, mengalami resesi yang cukup dalam. Demikian pula beberapa negara di Eropa, termasuk di kawasan Amerika Utara dan Amerika Selatan. Semuanya dipicu oleh pandemi Covid-19.
Resesi adalah indikator atau parameter teknikal ekonomi untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu negara pada suatu waktu. Apabila dalam periode yang berturutan pertumbuhan ekonominya tercatat negatif atau minus, maka negara itu secara teknis dinyatakan resesi.
Resesi sendiri sebenarnya merupakan pengertian teknis. Tetapi dampaknya bisa berlangsung secara psikologis bagi setiap pelaku usaha dan setiap orang. Resesi dianggap sebagai hantu yang menakutkan. Tentu saja memang menakutkan, tetapi bukan tidak ada celah atau ruang untuk melakukan tindakan tertentu sehingga perusahaan atau korporasi dapat keluar dari jebakan resesi, atau setidak-tidaknya dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan dalam organisasi.
Manusia tetaplah kunci dalam organisasi dan dalam situasi apapun. Menghadapi resesi, kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci untuk memvalidasi atau menguji kesiapan dan ketangguhan organisasi dalam menjalankan bisnis dan organisasi di tengah resesi. Pertanyaan pertama tentu saja adalah, “Apakah organisasi/korporasi sudah memiliki pemimpin yang tepat dengan orang-orang kepercayaan yang tepat, dan mereka berada dalam posisi yang tepat?”
Pemerhati Human Capital
PULUHAN negara sudah mengumumkan kondisi resesi. Negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, mengalami resesi yang cukup dalam. Demikian pula beberapa negara di Eropa, termasuk di kawasan Amerika Utara dan Amerika Selatan. Semuanya dipicu oleh pandemi Covid-19.
Resesi adalah indikator atau parameter teknikal ekonomi untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu negara pada suatu waktu. Apabila dalam periode yang berturutan pertumbuhan ekonominya tercatat negatif atau minus, maka negara itu secara teknis dinyatakan resesi.
Resesi sendiri sebenarnya merupakan pengertian teknis. Tetapi dampaknya bisa berlangsung secara psikologis bagi setiap pelaku usaha dan setiap orang. Resesi dianggap sebagai hantu yang menakutkan. Tentu saja memang menakutkan, tetapi bukan tidak ada celah atau ruang untuk melakukan tindakan tertentu sehingga perusahaan atau korporasi dapat keluar dari jebakan resesi, atau setidak-tidaknya dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan dalam organisasi.
Manusia tetaplah kunci dalam organisasi dan dalam situasi apapun. Menghadapi resesi, kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci untuk memvalidasi atau menguji kesiapan dan ketangguhan organisasi dalam menjalankan bisnis dan organisasi di tengah resesi. Pertanyaan pertama tentu saja adalah, “Apakah organisasi/korporasi sudah memiliki pemimpin yang tepat dengan orang-orang kepercayaan yang tepat, dan mereka berada dalam posisi yang tepat?”