Framing Krisis Sampah Bali dalam Media Digital: Kajian Ecomedia terhadap Narasi Pariwisata dan Lingkungan
Kamis, 19 Juni 2025 - 22:41 WIB
loading...
A
A
A
Metode kualitatif digunakan dalam studi ini untuk menekankan pada pengamatan objek penelitian dengan cara yang fleksibel dan interaktif (Sugiyono, 2012: 43) dalam (Siregar et al., 2022).
Studi ini mengadopsi kerangka analisis bingkai perspektif dari ahli komunikasi Entman, yang fokus pada proses seleksi serta penekanan elemen-elemen tertentu dalam suatu kejadian. Entman juga menekankan pentingnya konteks dalam menyampaikan informasi, sehingga perhatian publik lebih tertuju pada hal-hal tertentu. Model ini terdiri dari empat elemen utama yang digunakan untuk menunjukkan bagaimana media membentuk fokus pemberitaan guna memengaruhi cara pandang dan pemahaman pembaca.
Permasalahan sampah plastik di Bali menjadi sorotan utama dalam pemberitaan media digital, khususnya oleh SindoNews.com sepanjang periode 1 Januari hingga 30 Mei 2025. Isu ini tidak hanya menyangkut aspek kebersihan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap keberlanjutan sektor pariwisata dan citra internasional Bali sebagai destinasi unggulan wisatawan.
Pulau Bali yang selama ini dikenal karena keindahan alam dan kekayaan budayanya kini menghadapi tantangan lingkungan serius. Framing yang dibangun oleh SindoNews.com, terutama melalui berita berjudul “Menteri Hanif Faisol Ajak 8.600 Relawan Bersihkan Sampah Plastik di Pantai Bali”, menyajikan cerita yang menggabungkan isu lingkungan dengan upaya membentuk citra suatu daerah (Simanjuntak, 2025).
![Framing Krisis Sampah Bali dalam Media Digital: Kajian Ecomedia terhadap Narasi Pariwisata dan Lingkungan]()
Dari perspektif analisis framing ala Robert Entman, narasi media digital mengenai krisis sampah di Bali memuat konstruksi makna yang kompleks, serta pendekatan komunikasi yang strategis. Framing yang melibatkan empat tahap analitis utama tersebut, terlihat dalam penyajian berita SindoNews.com.
Dalam konteks kajian ecomedia, konstruksi narasi ini tidak hanya menggambarkan krisis lingkungan sebagai persoalan lokal, tetapi juga sebagai bagian dari wacana global yang berdampak pada ekonomi, budaya dan identitas nasional. Penyajian berita ini menunjukkan bahwa media digital memainkan peran penting dalam membentuk opini publik, serta dalam mereproduksi narasi yang mendorong kesadaran kolektif terhadap praktik pariwisata yang lebih ekologis dan berkelanjutan.
Dengan mengangkat aksi bersih-bersih pantai oleh ribuan relawan dan dukungan multi-sektor, media mengarusutamakan pesan bahwa penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab lingkungan, melainkan bagian dari strategi diplomasi dan branding pariwisata Indonesia. Peran media tidak lagi terbatas sebagai penyampai informasi, melainkan juga turut berperan sebagai agen perubahan dalam budaya ekologis, dengan membingkai isu-isu lingkungan melalui perspektif pembangunan berkelanjutan dan pencitraan global.
1. Define Problems (Menentukan Masalah)
SindoNews memposisikan krisis sampah plastik sebagai ancaman serius bagi lingkungan dan sektor pariwisata Bali. Masalah ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis, karena menyangkut citra Bali sebagai wajah Indonesia di mata dunia. Dengan mengangkat urgensi ini, media membingkai persoalan sampah sebagai isu nasional yang perlu segera ditangani secara sistemik.
2. Diagnose Causes (Mendiagnosis Penyebab)
SindoNews menggambarkan krisis sampah laut di Bali sebagai masalah struktural yang rumit. Dalam pemberitaannya, media menekankan peran signifikan dari 14 sungai yang mengalir ke laut, di mana Tukad Mati dan Tukad Badung disebut sebagai penyumbang utama. Sementara itu, aktivitas hotel dan kafe disebut berkontribusi signifikan terhadap volume sampah, mencapai 25%. Kurangnya sistem pengelolaan sampah yang menyeluruh juga digambarkan sebagai faktor kelembagaan yang memperparah situasi. Dengan demikian, framing media diarahkan pada kegagalan sistemik dalam tata kelola lingkungan dan peran serta tanggung jawab formal yang melekat pada lembaga pariwisata maupun pemerintah daerah.
3. Make Moral Judgment (Membuat Penilaian Moral)
Pemerintah, khususnya Menteri Hanif Faisol, diposisikan sebagai aktor yang proaktif dan solutif. Kehadiran 8.600 relawan, tokoh-tokoh kementerian, serta duta besar asing, menguatkan kesan bahwa isu ini mendapat dukungan moral kolektif dan legitimasi internasional.
4. Treatment Recommendation (Rekomendasi Solusi)
SindoNews memframing solusi krisis sampah plastik melalui pendekatan yang sistemik dan partisipatif. Media menyoroti beragam strategi, mulai dari aksi langsung seperti pembersihan pantai bersama 8.600 relawan, hingga kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Lingkungan Hidup, pemerintah daerah, militer, dan kepolisian. Selain itu, solusi juga diarahkan pada penanganan sumber utama seperti 14 sungai penyumbang sampah, penguatan regulasi, evaluasi terhadap pelaku usaha pariwisata, serta duplikasi model penanganan Bali ke wilayah lain. Framing ini memperlihatkan peran negara sebagai fasilitator utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendorong kerja sama lintas institusi.
Pemberitaan lain di SindoNews.com berjudul "Bali Batasi Plastik Sekali Pakai, Industri Harus Bertransformasi ke Produk Eco-Friendly", mengangkat isu pembatasan penggunaan plastik sekali pakai di Bali sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sektor pariwisata. Transformasi industri kemasan plastik menuju produk ramah lingkungan menjadi fokus utama dalam pemberitaan tersebut.
![Framing Krisis Sampah Bali dalam Media Digital: Kajian Ecomedia terhadap Narasi Pariwisata dan Lingkungan]()
Dalam kerangka framing media, kajian ini mengadopsi teori framing dari Robert N. Entman untuk menjelaskan bagaimana media membentuk makna atas suatu isu melalui pemilihan dan penekanan informasi secara strategis. Melalui analisis ini, diharapkan muncul pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana media menyusun narasi yang dapat memengaruhi opini publik terhadap isu lingkungan dan perubahan industri di Bali.
1. Define Problems (Menentukan Masalah)
Media SindoNews.com memframing masalah utama sebagai ancaman serius yang ditimbulkan oleh penggunaan plastik sekali pakai terhadap kelestarian lingkungan Bali dan citra pariwisata internasionalnya. Plastik sekali pakai diposisikan bukan hanya sebagai persoalan pencemaran lingkungan, melainkan juga sebagai faktor yang dapat merusak reputasi Bali sebagai destinasi wisata alam dan budaya yang hijau dan bersih. Dengan demikian, isu ini menjadi prioritas karena berkaitan dengan keberlanjutan ekonomi kreatif berbasis pariwisata dan pelestarian nilai budaya lokal.
2. Diagnose Causes (Mengidentifikasi Penyebab)
Dalam pemberitaan ini, penyebab masalah dihubungkan dengan kebijakan dan sikap Kementerian Perindustrian yang dianggap belum sepenuhnya mendukung pelarangan dan transformasi industri kemasan plastik sekali pakai. Produksi dan distribusi air minum dalam kemasan plastik sekali pakai berukuran di bawah 1 liter masih berlangsung, yang berpotensi memperparah masalah sampah plastik. Penyebab lain adalah kurangnya konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan ramah lingkungan yang seharusnya mendorong industri beralih ke produk yang lebih eco-friendly.
3. Make Moral Judgment (Penilaian Moral)
Berita memberi penilaian moral bahwa pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, wajib menunjukkan komitmen dan keberpihakan kuat terhadap perlindungan lingkungan hidup. Sikap kurang mendukung terhadap pelarangan plastik sekali pakai dianggap sebagai bentuk kelalaian dalam memenuhi kewajiban sosial dan lingkungan yang sejalan dengan regulasi nasional tentang pembangunan industri hijau (green industry). Transformasi industri menjadi ramah lingkungan dianggap sebagai kewajiban moral sekaligus kebutuhan strategis dalam menghadapi tantangan global dan menjaga kearifan lokal Bali.
4. Treatment Recommendation (Rekomendasi Solusi)
Solusi yang diangkat bersifat sistemik dan strategis, mencakup mendukung kebijakan pelarangan produksi plastik sekali pakai di bawah 1 liter sebagaimana diatur oleh Pemerintah Provinsi Bali, mendorong dan memfasilitasi transformasi industri kemasan plastik menjadi produk ramah lingkungan seperti sedotan, kantong belanja, dan kemasan makanan berbahan ramah lingkungan. Termasuk juga memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku industri agar kebijakan lingkungan dapat diimplementasikan secara efektif dan konsisten. Kemudian bisa mengadopsi contoh keberhasilan negara lain (Maladewa) dalam pengurangan plastik sekali pakai sebagai model pengembangan kebijakan di Bali. Rekomendasi ini menunjukkan peran pemerintah sebagai fasilitator utama sekaligus pelindung lingkungan, serta mengajak pelaku industri beradaptasi dengan perkembangan tren global menuju pembangunan berkelanjutan.
Media digital, khususnya SindoNews.com, memiliki peran strategis dalam membingkai krisis sampah plastik di Bali sebagai persoalan ekologis yang erat kaitannya dengan keberlangsungan sektor pariwisata. Melalui pendekatan framing Robert N. Dalam kajian ecomedia, Entman menunjukkan bahwa media bukan sekadar alat penyampai informasi, melainkan juga berperan dalam membentuk wacana publik yang menyoroti dampak serius sampah plastik terhadap citra Bali sebagai tujuan wisata dunia yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan.
Media secara aktif mendiagnosis akar masalah, seperti lemahnya pengelolaan sampah, rendahnya partisipasi masyarakat, dan ketidakkonsistenan kebijakan pemerintah daerah dalam penanganan sampah plastik. Selain itu, media memberikan penilaian moral dengan menyerukan pentingnya tanggung jawab kolektif dan komitmen terhadap prinsip pembangunan berkelanjutan serta keberpihakan industri terhadap produk ramah lingkungan.
Rekomendasi solusi yang disampaikan menekankan pentingnya sinergi lintas sektor antara pemerintah, pelaku industri pariwisata, dan komunitas lokal melalui edukasi, penegakan regulasi yang lebih ketat, serta inovasi berbasis partisipasi masyarakat. Framing media dalam konteks ecomedia ini berfungsi tidak hanya sebagai alat penyebar informasi, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang mampu mendorong pergeseran paradigma menuju praktik pariwisata yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan isu lingkungan, seperti krisis sampah plastik, sangat bergantung pada bagaimana narasi tersebut dikonstruksi dan dikomunikasikan secara efektif kepada publik melalui media digital. Media memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kesadaran dan mendorong tindakan nyata demi menjaga kelestarian lingkungan dan reputasi Bali sebagai destinasi wisata dunia.
Studi ini mengadopsi kerangka analisis bingkai perspektif dari ahli komunikasi Entman, yang fokus pada proses seleksi serta penekanan elemen-elemen tertentu dalam suatu kejadian. Entman juga menekankan pentingnya konteks dalam menyampaikan informasi, sehingga perhatian publik lebih tertuju pada hal-hal tertentu. Model ini terdiri dari empat elemen utama yang digunakan untuk menunjukkan bagaimana media membentuk fokus pemberitaan guna memengaruhi cara pandang dan pemahaman pembaca.
Pembahasan pada SindoNews.com
Permasalahan sampah plastik di Bali menjadi sorotan utama dalam pemberitaan media digital, khususnya oleh SindoNews.com sepanjang periode 1 Januari hingga 30 Mei 2025. Isu ini tidak hanya menyangkut aspek kebersihan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap keberlanjutan sektor pariwisata dan citra internasional Bali sebagai destinasi unggulan wisatawan.
Pulau Bali yang selama ini dikenal karena keindahan alam dan kekayaan budayanya kini menghadapi tantangan lingkungan serius. Framing yang dibangun oleh SindoNews.com, terutama melalui berita berjudul “Menteri Hanif Faisol Ajak 8.600 Relawan Bersihkan Sampah Plastik di Pantai Bali”, menyajikan cerita yang menggabungkan isu lingkungan dengan upaya membentuk citra suatu daerah (Simanjuntak, 2025).

Dari perspektif analisis framing ala Robert Entman, narasi media digital mengenai krisis sampah di Bali memuat konstruksi makna yang kompleks, serta pendekatan komunikasi yang strategis. Framing yang melibatkan empat tahap analitis utama tersebut, terlihat dalam penyajian berita SindoNews.com.
Dalam konteks kajian ecomedia, konstruksi narasi ini tidak hanya menggambarkan krisis lingkungan sebagai persoalan lokal, tetapi juga sebagai bagian dari wacana global yang berdampak pada ekonomi, budaya dan identitas nasional. Penyajian berita ini menunjukkan bahwa media digital memainkan peran penting dalam membentuk opini publik, serta dalam mereproduksi narasi yang mendorong kesadaran kolektif terhadap praktik pariwisata yang lebih ekologis dan berkelanjutan.
Dengan mengangkat aksi bersih-bersih pantai oleh ribuan relawan dan dukungan multi-sektor, media mengarusutamakan pesan bahwa penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab lingkungan, melainkan bagian dari strategi diplomasi dan branding pariwisata Indonesia. Peran media tidak lagi terbatas sebagai penyampai informasi, melainkan juga turut berperan sebagai agen perubahan dalam budaya ekologis, dengan membingkai isu-isu lingkungan melalui perspektif pembangunan berkelanjutan dan pencitraan global.
1. Define Problems (Menentukan Masalah)
SindoNews memposisikan krisis sampah plastik sebagai ancaman serius bagi lingkungan dan sektor pariwisata Bali. Masalah ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis, karena menyangkut citra Bali sebagai wajah Indonesia di mata dunia. Dengan mengangkat urgensi ini, media membingkai persoalan sampah sebagai isu nasional yang perlu segera ditangani secara sistemik.
2. Diagnose Causes (Mendiagnosis Penyebab)
SindoNews menggambarkan krisis sampah laut di Bali sebagai masalah struktural yang rumit. Dalam pemberitaannya, media menekankan peran signifikan dari 14 sungai yang mengalir ke laut, di mana Tukad Mati dan Tukad Badung disebut sebagai penyumbang utama. Sementara itu, aktivitas hotel dan kafe disebut berkontribusi signifikan terhadap volume sampah, mencapai 25%. Kurangnya sistem pengelolaan sampah yang menyeluruh juga digambarkan sebagai faktor kelembagaan yang memperparah situasi. Dengan demikian, framing media diarahkan pada kegagalan sistemik dalam tata kelola lingkungan dan peran serta tanggung jawab formal yang melekat pada lembaga pariwisata maupun pemerintah daerah.
3. Make Moral Judgment (Membuat Penilaian Moral)
Pemerintah, khususnya Menteri Hanif Faisol, diposisikan sebagai aktor yang proaktif dan solutif. Kehadiran 8.600 relawan, tokoh-tokoh kementerian, serta duta besar asing, menguatkan kesan bahwa isu ini mendapat dukungan moral kolektif dan legitimasi internasional.
4. Treatment Recommendation (Rekomendasi Solusi)
SindoNews memframing solusi krisis sampah plastik melalui pendekatan yang sistemik dan partisipatif. Media menyoroti beragam strategi, mulai dari aksi langsung seperti pembersihan pantai bersama 8.600 relawan, hingga kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Lingkungan Hidup, pemerintah daerah, militer, dan kepolisian. Selain itu, solusi juga diarahkan pada penanganan sumber utama seperti 14 sungai penyumbang sampah, penguatan regulasi, evaluasi terhadap pelaku usaha pariwisata, serta duplikasi model penanganan Bali ke wilayah lain. Framing ini memperlihatkan peran negara sebagai fasilitator utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendorong kerja sama lintas institusi.
Pemberitaan lain di SindoNews.com berjudul "Bali Batasi Plastik Sekali Pakai, Industri Harus Bertransformasi ke Produk Eco-Friendly", mengangkat isu pembatasan penggunaan plastik sekali pakai di Bali sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sektor pariwisata. Transformasi industri kemasan plastik menuju produk ramah lingkungan menjadi fokus utama dalam pemberitaan tersebut.

Dalam kerangka framing media, kajian ini mengadopsi teori framing dari Robert N. Entman untuk menjelaskan bagaimana media membentuk makna atas suatu isu melalui pemilihan dan penekanan informasi secara strategis. Melalui analisis ini, diharapkan muncul pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana media menyusun narasi yang dapat memengaruhi opini publik terhadap isu lingkungan dan perubahan industri di Bali.
1. Define Problems (Menentukan Masalah)
Media SindoNews.com memframing masalah utama sebagai ancaman serius yang ditimbulkan oleh penggunaan plastik sekali pakai terhadap kelestarian lingkungan Bali dan citra pariwisata internasionalnya. Plastik sekali pakai diposisikan bukan hanya sebagai persoalan pencemaran lingkungan, melainkan juga sebagai faktor yang dapat merusak reputasi Bali sebagai destinasi wisata alam dan budaya yang hijau dan bersih. Dengan demikian, isu ini menjadi prioritas karena berkaitan dengan keberlanjutan ekonomi kreatif berbasis pariwisata dan pelestarian nilai budaya lokal.
2. Diagnose Causes (Mengidentifikasi Penyebab)
Dalam pemberitaan ini, penyebab masalah dihubungkan dengan kebijakan dan sikap Kementerian Perindustrian yang dianggap belum sepenuhnya mendukung pelarangan dan transformasi industri kemasan plastik sekali pakai. Produksi dan distribusi air minum dalam kemasan plastik sekali pakai berukuran di bawah 1 liter masih berlangsung, yang berpotensi memperparah masalah sampah plastik. Penyebab lain adalah kurangnya konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan ramah lingkungan yang seharusnya mendorong industri beralih ke produk yang lebih eco-friendly.
3. Make Moral Judgment (Penilaian Moral)
Berita memberi penilaian moral bahwa pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, wajib menunjukkan komitmen dan keberpihakan kuat terhadap perlindungan lingkungan hidup. Sikap kurang mendukung terhadap pelarangan plastik sekali pakai dianggap sebagai bentuk kelalaian dalam memenuhi kewajiban sosial dan lingkungan yang sejalan dengan regulasi nasional tentang pembangunan industri hijau (green industry). Transformasi industri menjadi ramah lingkungan dianggap sebagai kewajiban moral sekaligus kebutuhan strategis dalam menghadapi tantangan global dan menjaga kearifan lokal Bali.
4. Treatment Recommendation (Rekomendasi Solusi)
Solusi yang diangkat bersifat sistemik dan strategis, mencakup mendukung kebijakan pelarangan produksi plastik sekali pakai di bawah 1 liter sebagaimana diatur oleh Pemerintah Provinsi Bali, mendorong dan memfasilitasi transformasi industri kemasan plastik menjadi produk ramah lingkungan seperti sedotan, kantong belanja, dan kemasan makanan berbahan ramah lingkungan. Termasuk juga memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku industri agar kebijakan lingkungan dapat diimplementasikan secara efektif dan konsisten. Kemudian bisa mengadopsi contoh keberhasilan negara lain (Maladewa) dalam pengurangan plastik sekali pakai sebagai model pengembangan kebijakan di Bali. Rekomendasi ini menunjukkan peran pemerintah sebagai fasilitator utama sekaligus pelindung lingkungan, serta mengajak pelaku industri beradaptasi dengan perkembangan tren global menuju pembangunan berkelanjutan.
Kesimpulan
Media digital, khususnya SindoNews.com, memiliki peran strategis dalam membingkai krisis sampah plastik di Bali sebagai persoalan ekologis yang erat kaitannya dengan keberlangsungan sektor pariwisata. Melalui pendekatan framing Robert N. Dalam kajian ecomedia, Entman menunjukkan bahwa media bukan sekadar alat penyampai informasi, melainkan juga berperan dalam membentuk wacana publik yang menyoroti dampak serius sampah plastik terhadap citra Bali sebagai tujuan wisata dunia yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan.
Media secara aktif mendiagnosis akar masalah, seperti lemahnya pengelolaan sampah, rendahnya partisipasi masyarakat, dan ketidakkonsistenan kebijakan pemerintah daerah dalam penanganan sampah plastik. Selain itu, media memberikan penilaian moral dengan menyerukan pentingnya tanggung jawab kolektif dan komitmen terhadap prinsip pembangunan berkelanjutan serta keberpihakan industri terhadap produk ramah lingkungan.
Rekomendasi solusi yang disampaikan menekankan pentingnya sinergi lintas sektor antara pemerintah, pelaku industri pariwisata, dan komunitas lokal melalui edukasi, penegakan regulasi yang lebih ketat, serta inovasi berbasis partisipasi masyarakat. Framing media dalam konteks ecomedia ini berfungsi tidak hanya sebagai alat penyebar informasi, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang mampu mendorong pergeseran paradigma menuju praktik pariwisata yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan isu lingkungan, seperti krisis sampah plastik, sangat bergantung pada bagaimana narasi tersebut dikonstruksi dan dikomunikasikan secara efektif kepada publik melalui media digital. Media memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kesadaran dan mendorong tindakan nyata demi menjaga kelestarian lingkungan dan reputasi Bali sebagai destinasi wisata dunia.
(zik)
Lihat Juga :