Songsong Indonesia Emas 2045, Munas ke-VI Hidayatullah Digelar Akhir Oktober 2025
Kamis, 12 Juni 2025 - 11:08 WIB
loading...
A
A
A
Dalam perspektif sosiologi pembangunan, kata dia, sinergi bukan semata kolaborasi mekanistik, tetapi perpaduan organik antarunsur bangsa dalam satu visi peradaban. Sementara itu, frasa "Anak Bangsa" secara teologis dan sosiologis menegaskan inklusivitas perjuangan Hidayatullah yang tidak terbatas pada komunitas internal semata, melainkan terbuka untuk segenap elemen bangsa Indonesia sebagai satu kesatuan keluarga besar umat manusia.
“Menyongsong Indonesia Emas 2045 merefleksikan kesadaran waktu (time consciousness) atas pentingnya proyeksi peradaban jangka panjang. Sejalan dengan pemikiran peradaban Islam klasik hingga kontemporer, visi ini menuntut ikhtiar serius dalam penguatan spiritual, pembangunan karakter, peningkatan mutu pendidikan, penguatan ekonomi umat, dan ketahanan budaya bangsa,” ucapnya.
Nashirul menambahkan, melalui Munas VI ini Hidayatullah berikhtiar memperkuat posisi dakwah sebagai gerakan transformasi sosial. Dakwah bukan sekadar menghidupkan pesan pesan kebaikan dan panggilan spiritual-ritual, tetapi juga instrumen pembangunan peradaban yang mengintegrasikan dakwah ke dalam realitas pembangunan bangsa, menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati diri Islam.
“Hidayatullah mengajak seluruh kader dan simpatisan untuk menjadikan Munas VI ini sebagai momentum ijtihad peradaban, yaitu kesungguhan untuk menghadirkan solusi atas problem sosial, moral, ekonomi, dan politik bangsa Indonesia menuju kemajuan sejati,” katanya.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi teknologi, Munas VI diharapkan melahirkan peta jalan strategis (roadmap) pengembangan gerakan dakwah berbasis pengabdian yang responsive terhadap perubahan zaman, namun tetap setia pada nilai-nilai Islam wasathiyah (moderat).
“Kick Off Munas VI ini menandai babak baru gerakan dakwah Hidayatullah untuk lebih terlibat aktif dalam proses pembangunan bangsa yang berkelanjutan. Hidayatullah bertekad untuk melahirkan rekomendasi, program, dan aksi nyata yang memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan Indonesia yang beriman, berilmu, berdaya saing, dan berperadaban mulia,” katanya.
“Menyongsong Indonesia Emas 2045 merefleksikan kesadaran waktu (time consciousness) atas pentingnya proyeksi peradaban jangka panjang. Sejalan dengan pemikiran peradaban Islam klasik hingga kontemporer, visi ini menuntut ikhtiar serius dalam penguatan spiritual, pembangunan karakter, peningkatan mutu pendidikan, penguatan ekonomi umat, dan ketahanan budaya bangsa,” ucapnya.
Nashirul menambahkan, melalui Munas VI ini Hidayatullah berikhtiar memperkuat posisi dakwah sebagai gerakan transformasi sosial. Dakwah bukan sekadar menghidupkan pesan pesan kebaikan dan panggilan spiritual-ritual, tetapi juga instrumen pembangunan peradaban yang mengintegrasikan dakwah ke dalam realitas pembangunan bangsa, menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati diri Islam.
“Hidayatullah mengajak seluruh kader dan simpatisan untuk menjadikan Munas VI ini sebagai momentum ijtihad peradaban, yaitu kesungguhan untuk menghadirkan solusi atas problem sosial, moral, ekonomi, dan politik bangsa Indonesia menuju kemajuan sejati,” katanya.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi teknologi, Munas VI diharapkan melahirkan peta jalan strategis (roadmap) pengembangan gerakan dakwah berbasis pengabdian yang responsive terhadap perubahan zaman, namun tetap setia pada nilai-nilai Islam wasathiyah (moderat).
“Kick Off Munas VI ini menandai babak baru gerakan dakwah Hidayatullah untuk lebih terlibat aktif dalam proses pembangunan bangsa yang berkelanjutan. Hidayatullah bertekad untuk melahirkan rekomendasi, program, dan aksi nyata yang memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan Indonesia yang beriman, berilmu, berdaya saing, dan berperadaban mulia,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :