Tahajud di Medan Operasi, Doa Jenderal TNI Ini Tembus Langit saat Bebaskan Sandera di Mapenduma
Rabu, 11 Juni 2025 - 08:20 WIB
loading...
A
A
A
Keesokan harinya, Kapten Inf. Agus Rohman membagi pasukannya menjadi dua kelompok. Kelompok 1 yang dipimpinnya berjumlah 12 orang. Sedangkan kelompok 2 dipimpin Sertu Fariki berjumlah 13 orang bertahan di Daerah Penyelamatan. Setelah pembagian kelompok, Kapten Inf. Agus Rohman kemudian melakukan pengejaran dan penelusuran jejak yang telah ditemukan.
Setelah 7 jam mengesan jejak, tepat pukul 14.30 WIT Kapten Inf. Agus Rohman kembali menemukan jejak berupa buah merah, plastik bekas bungkus permen, dan pembalut wanita. Kuat dugaan, jejak itu merupakan jejak OPM yang membawa sandera ke puncak gunung. Sebab daerah tersebut tidak ada permukiman penduduk dan tidak ada tanda-tanda kehidupan selain tumbuhan. Dan bungkus permen itu merupakan milik sandera yang diperoleh dari lembaga kemanusiaan International Committee of the Red Cross (ICRC), karena beberapa hari sebelumnya mereka melakukan negosiasi di daerah Geselema.
![Tahajud di Medan Operasi, Doa Jenderal TNI Ini Tembus Langit saat Bebaskan Sandera di Mapenduma]()
Saat tengah menyiapkan tenda untuk beristirahat, tiba-tiba Kapten Inf. Agus Rohman mendengar suara tembakan Grenade Launcher Module (GLM). Seketika terdengar panggilan melalui HT pascom dari Sertu Farikhi.
“Danki tolong Danki, kami diserang, kami ditembaki!” kata Sertu Farikhi
Mendengar pasukannya di Daerah Penyelamatan diserang OPM, Kapten Inf. Agus Rohman langsung memutuskan untuk turun membantu pasukannya. “Apabila tidak segera membantu atau terlambat, saya khawatir anggota yang di bawah sudah dibantai semua dan senjata dirampas OPM. Itu akan menjadi penyelesaian seumur hidup,” pikirnya.
Dengan cekatan Kapten Inf. Agus Rohman bersama pasukannya berlari dari batu ke batu, meloncati air terjun, menerobos lebatnya hutan Papua yang berkabut. Kondisi medan yang berat tak menghalangi tekad pasukan Agus Rohman untuk membantu prajuritnya dan membebaskan sandera. Upaya perbantuan berhasil, sebagian OPM yang bertemu pasukan Pandawa 1 langsung melarikan diri.
Baku tembak Kapten Inf. Agus Rohman dengan kelompok bersenjata OPM pun tak terelakkan. Untuk menggentarkan OPM dan menaikkan moril prajuritnya di Daerah Penyelematan,Kapten Inf. Agus Rohman memerintahkan pasukannya menembak GLM kea rah yang aman, agar tidak mengenai dan melukai sandera.
Setelah terlibat baku tembak cukup sengit dengan kelompok bersenjata OPM, pasukan Kapten Inf. Agus Rohman akhirnya berhasil membebaskan 9 dari 11 sandera yang diculik OPM. Sementara 2 sandera lainnya yakni, Yosias dan Navi tewas karena dibacok oleh OPM yang melarikan diri.
Setelah 7 jam mengesan jejak, tepat pukul 14.30 WIT Kapten Inf. Agus Rohman kembali menemukan jejak berupa buah merah, plastik bekas bungkus permen, dan pembalut wanita. Kuat dugaan, jejak itu merupakan jejak OPM yang membawa sandera ke puncak gunung. Sebab daerah tersebut tidak ada permukiman penduduk dan tidak ada tanda-tanda kehidupan selain tumbuhan. Dan bungkus permen itu merupakan milik sandera yang diperoleh dari lembaga kemanusiaan International Committee of the Red Cross (ICRC), karena beberapa hari sebelumnya mereka melakukan negosiasi di daerah Geselema.

Saat tengah menyiapkan tenda untuk beristirahat, tiba-tiba Kapten Inf. Agus Rohman mendengar suara tembakan Grenade Launcher Module (GLM). Seketika terdengar panggilan melalui HT pascom dari Sertu Farikhi.
“Danki tolong Danki, kami diserang, kami ditembaki!” kata Sertu Farikhi
Mendengar pasukannya di Daerah Penyelamatan diserang OPM, Kapten Inf. Agus Rohman langsung memutuskan untuk turun membantu pasukannya. “Apabila tidak segera membantu atau terlambat, saya khawatir anggota yang di bawah sudah dibantai semua dan senjata dirampas OPM. Itu akan menjadi penyelesaian seumur hidup,” pikirnya.
Dengan cekatan Kapten Inf. Agus Rohman bersama pasukannya berlari dari batu ke batu, meloncati air terjun, menerobos lebatnya hutan Papua yang berkabut. Kondisi medan yang berat tak menghalangi tekad pasukan Agus Rohman untuk membantu prajuritnya dan membebaskan sandera. Upaya perbantuan berhasil, sebagian OPM yang bertemu pasukan Pandawa 1 langsung melarikan diri.
Baku tembak Kapten Inf. Agus Rohman dengan kelompok bersenjata OPM pun tak terelakkan. Untuk menggentarkan OPM dan menaikkan moril prajuritnya di Daerah Penyelematan,Kapten Inf. Agus Rohman memerintahkan pasukannya menembak GLM kea rah yang aman, agar tidak mengenai dan melukai sandera.
Setelah terlibat baku tembak cukup sengit dengan kelompok bersenjata OPM, pasukan Kapten Inf. Agus Rohman akhirnya berhasil membebaskan 9 dari 11 sandera yang diculik OPM. Sementara 2 sandera lainnya yakni, Yosias dan Navi tewas karena dibacok oleh OPM yang melarikan diri.
(cip)
Lihat Juga :