Majelis Masyayikh Tekankan Pentingnya Standar Mutu untuk Pendidikan Tinggi Pesantren
Selasa, 03 Juni 2025 - 17:06 WIB
loading...
Ketua Majelis Masyayikh Abdul Ghaffar Rozin menekankan pentingnya standar mutu untuk pendidikan tinggi pesantren. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Majelis Masyayikh menegaskan pentingnya penerapan standar mutu tinggi dalam penyusunan jenjang lanjutan pendidikan tinggi pesantren yakni Ma’had Aly, yaitu Pascasarjana (Marhalah Tsaniyah) dan Doktoral (Marhalah Tsalitsah).
Hal ini disampaikan Ketua Majelis Masyayikh Abdul Ghaffar Rozin, dalam forum Halaqah Review Draf 1 Standar Mutu Marhalah Tsaniyah dan Tsalisah yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) di Tangerang pada 2-5 Juni 2025.
"Forum ini bertujuan mengulas standar mutu yang tengah disusun dan nantinya menjadi acuan dalam pelaksanaan penjaminan mutu, baik internal maupun eksternal. Karena itu, forum ini selain dihadiri oleh Kementerian Agama dan Majelis Masyayikh, juga pengasuh pesantren, serta akademisi dan praktisi pendidikan pesantren," ujarnya, Selasa (3/6/2025).
Rozin berharap, dokumen ini tidak hanya menjadi acuan penyelenggaraan pendidikan tinggi Ma’had Aly yang tidak hanya sahih secara teknis, tetapi juga kuat dalam hal visi keulamaan. Menurut Rozin, kegiatan ini juga untuk menilai aspek keterbacaan dan relevansi standar dalam operasional pendidikan Ma’had Aly.
Baca juga: Majelis Masyayikh Susun Sistem Penjamin Mutu Pendidikan Nonformal Pesantren
"Mengevaluasi keseimbangan antara pendekatan berbasis kepatuhan (compliance-based) dan berbasis kinerja (performance-based), serta merumuskan rekomendasi substansial dalam revisi dokumen," ucapnya.
Rozin, menegaskan penyusunan standar ini harus menghindari pendekatan instan yang dapat mengorbankan kedalaman substansi.
“Ma’had Aly adalah lembaga reproduksi ulama. Kita ingin melahirkan insan yang faqih, yang selesai dengan dirinya sendiri, dan mampu menavigasi maslahat umat. Itu bukan hal yang mudah, dan tidak boleh dimudahkan,” tegasnya.
Baca juga: 12 Mayjen TNI Dipindah Jenderal Agus Subiyanto Akhir Mei 2025, Ini Nama-Namanya
Gus Rozin menjelaskan, standar mutu M2 dan M3 tidak boleh dirancang secara sembarangan atau terlalu permisif. Sebaliknya, dia mengingatkan pentingnya mengadopsi benchmarking dengan lembaga keulamaan internasional seperti di Iran dan Maroko.
“Kita sedang membangun lembaga reproduksi ulama yang ideal yang mutafaqqih fiddin dan faqih fi masalihil khalqi. Standar ini harus mencerminkan kualitas dan karakter ulama yang ingin kita lahirkan,” imbuhnya.
Senada, Sekretaris Majelis Masyayikh KH. Muhyiddin Khotib menambahkan, forum ini menjadi ruang penting untuk menata gradasi antarjenjang secara sistematis.
“Fokus kita adalah memastikan M2 dan M3 bukan hanya berbeda secara administratif, tapi juga secara karakteristik akademik. M2 merupakan tahap takwir (penguatan), sedangkan M3 menjadi fase ibda’ (inovasi). Ini penting untuk menjamin kesinambungan dan keutuhan proses kaderisasi ulama,” ujarnya.
Kasubdit Pendidikan Ma’had Aly Mahrus mengungkapkan, standar ini akan berdampak luas, termasuk pada penguatan posisi Ma’had Aly di tingkat nasional dan internasional.
“Mulai tahun ini, Insya Allah Ma’had Aly mendapat dukungan riset dari LPDP. Ini adalah kesempatan emas agar pesantren tampil sebagai institusi riset yang unggul dan khas dalam tradisi Islam,” katanya.
Hal ini disampaikan Ketua Majelis Masyayikh Abdul Ghaffar Rozin, dalam forum Halaqah Review Draf 1 Standar Mutu Marhalah Tsaniyah dan Tsalisah yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) di Tangerang pada 2-5 Juni 2025.
"Forum ini bertujuan mengulas standar mutu yang tengah disusun dan nantinya menjadi acuan dalam pelaksanaan penjaminan mutu, baik internal maupun eksternal. Karena itu, forum ini selain dihadiri oleh Kementerian Agama dan Majelis Masyayikh, juga pengasuh pesantren, serta akademisi dan praktisi pendidikan pesantren," ujarnya, Selasa (3/6/2025).
Rozin berharap, dokumen ini tidak hanya menjadi acuan penyelenggaraan pendidikan tinggi Ma’had Aly yang tidak hanya sahih secara teknis, tetapi juga kuat dalam hal visi keulamaan. Menurut Rozin, kegiatan ini juga untuk menilai aspek keterbacaan dan relevansi standar dalam operasional pendidikan Ma’had Aly.
Baca juga: Majelis Masyayikh Susun Sistem Penjamin Mutu Pendidikan Nonformal Pesantren
"Mengevaluasi keseimbangan antara pendekatan berbasis kepatuhan (compliance-based) dan berbasis kinerja (performance-based), serta merumuskan rekomendasi substansial dalam revisi dokumen," ucapnya.
Rozin, menegaskan penyusunan standar ini harus menghindari pendekatan instan yang dapat mengorbankan kedalaman substansi.
“Ma’had Aly adalah lembaga reproduksi ulama. Kita ingin melahirkan insan yang faqih, yang selesai dengan dirinya sendiri, dan mampu menavigasi maslahat umat. Itu bukan hal yang mudah, dan tidak boleh dimudahkan,” tegasnya.
Baca juga: 12 Mayjen TNI Dipindah Jenderal Agus Subiyanto Akhir Mei 2025, Ini Nama-Namanya
Gus Rozin menjelaskan, standar mutu M2 dan M3 tidak boleh dirancang secara sembarangan atau terlalu permisif. Sebaliknya, dia mengingatkan pentingnya mengadopsi benchmarking dengan lembaga keulamaan internasional seperti di Iran dan Maroko.
“Kita sedang membangun lembaga reproduksi ulama yang ideal yang mutafaqqih fiddin dan faqih fi masalihil khalqi. Standar ini harus mencerminkan kualitas dan karakter ulama yang ingin kita lahirkan,” imbuhnya.
Senada, Sekretaris Majelis Masyayikh KH. Muhyiddin Khotib menambahkan, forum ini menjadi ruang penting untuk menata gradasi antarjenjang secara sistematis.
“Fokus kita adalah memastikan M2 dan M3 bukan hanya berbeda secara administratif, tapi juga secara karakteristik akademik. M2 merupakan tahap takwir (penguatan), sedangkan M3 menjadi fase ibda’ (inovasi). Ini penting untuk menjamin kesinambungan dan keutuhan proses kaderisasi ulama,” ujarnya.
Kasubdit Pendidikan Ma’had Aly Mahrus mengungkapkan, standar ini akan berdampak luas, termasuk pada penguatan posisi Ma’had Aly di tingkat nasional dan internasional.
“Mulai tahun ini, Insya Allah Ma’had Aly mendapat dukungan riset dari LPDP. Ini adalah kesempatan emas agar pesantren tampil sebagai institusi riset yang unggul dan khas dalam tradisi Islam,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :