Masa Bulan Madu Korea Utara-Rusia Mungkin Telah Berakhir
Senin, 26 Mei 2025 - 18:16 WIB
loading...
A
A
A
Pertama, meskipun Rusia dan Korea Utara secara resmi mengakui pengerahan pasukan Korea Utara, terdapat perbedaan nuansa dalam penyampaiannya. Tidak seperti Korea Utara yang menggambarkan pengerahan tersebut sebagai tindakan heroik dan mengklaim kontribusi militer tersebut bersifat timbal balik.
Meski mengakui kontribusi pasukan Korea Utara, Rusia belum menyebutkan perannya dalam isu-isu terkait Semenanjung Korea. Rusia tampaknya membatasi kerja samanya dengan Korea Utara hanya dalam konteks perang Rusia-Ukraina.
Sementara Kim dengan tegas menyatakan bahwa “setiap agresi” oleh Korea Selatan atau Amerika Serikat (AS) di Semenanjung Korea akan dihadapi “sesuai dengan ketentuan dan semangat Perjanjian Korea Utara-Rusia.”
Perbedaan ini juga tampak dalam parade militer Hari Kemenangan di Moskow. Beberapa pihak berspekulasi bahwa Kim akan hadir dalam parade tersebut. Namun kenyataannya Kim tidak datang. Hal ini bisa menunjukkan bahwa acara tersebut—yang dihadiri oleh berbagai pihak—tidak sejalan dengan keinginannya untuk menampilkan kedekatan hubungan kedua negara. Dengan kata lain, Moskow yang telah memperoleh keunggulan dalam Perang Ukraina mungkin ingin menghindari penonjolan hubungan ini, berbeda dengan Pyongyang yang ingin menekankan ikatan tersebut baik di dalam maupun luar negeri.
Kedua, seiring menguatnya hubungan antara Korea Utara dan Rusia, terdapat potensi munculnya ketidaksepakatan dalam proses penyusunan kesepakatan sementara, ketika kedua negara membahas kepentingan dan tawaran masing-masing. Di atas itu semua, absennya Kim dari perayaan Hari Kemenangan di Rusia dapat diartikan sebagai sinyal niat Korea Utara.
Meskipun pasukan Korea Utara berkontribusi dalam perebutan kembali Kursk, hingga kini tidak ada tanda-tanda bahwa pasukan tersebut dikerahkan ke wilayah timur Ukraina, tempat Rusia tengah menggencarkan serangan. Setelah menunjukkan kemampuannya dalam menyuplai senjata dan pasukan ke Rusia, Korea Utara mungkin ingin menyampaikan pesan bahwa tuntutan lebih lanjut dari Rusia harus diimbangi dengan kompensasi yang lebih besar.
Pyongyang diduga telah menerima atau dijanjikan bantuan pangan, energi, dan senjata konvensional dari Rusia sebagai imbalan atas peluru artileri, rudal balistik, dan pengerahan pasukan. Kini, Kim mungkin menuntut sesuatu yang lebih dari sebelumnya—kemungkinan teknologi dan komponen untuk kapal selam dan kapal perusak seberat 5.500 ton, bahkan teknologi nuklir—namun tanggapan Rusia masih belum jelas.
Meski mengakui kontribusi pasukan Korea Utara, Rusia belum menyebutkan perannya dalam isu-isu terkait Semenanjung Korea. Rusia tampaknya membatasi kerja samanya dengan Korea Utara hanya dalam konteks perang Rusia-Ukraina.
Sementara Kim dengan tegas menyatakan bahwa “setiap agresi” oleh Korea Selatan atau Amerika Serikat (AS) di Semenanjung Korea akan dihadapi “sesuai dengan ketentuan dan semangat Perjanjian Korea Utara-Rusia.”
Perbedaan ini juga tampak dalam parade militer Hari Kemenangan di Moskow. Beberapa pihak berspekulasi bahwa Kim akan hadir dalam parade tersebut. Namun kenyataannya Kim tidak datang. Hal ini bisa menunjukkan bahwa acara tersebut—yang dihadiri oleh berbagai pihak—tidak sejalan dengan keinginannya untuk menampilkan kedekatan hubungan kedua negara. Dengan kata lain, Moskow yang telah memperoleh keunggulan dalam Perang Ukraina mungkin ingin menghindari penonjolan hubungan ini, berbeda dengan Pyongyang yang ingin menekankan ikatan tersebut baik di dalam maupun luar negeri.
Kedua, seiring menguatnya hubungan antara Korea Utara dan Rusia, terdapat potensi munculnya ketidaksepakatan dalam proses penyusunan kesepakatan sementara, ketika kedua negara membahas kepentingan dan tawaran masing-masing. Di atas itu semua, absennya Kim dari perayaan Hari Kemenangan di Rusia dapat diartikan sebagai sinyal niat Korea Utara.
Meskipun pasukan Korea Utara berkontribusi dalam perebutan kembali Kursk, hingga kini tidak ada tanda-tanda bahwa pasukan tersebut dikerahkan ke wilayah timur Ukraina, tempat Rusia tengah menggencarkan serangan. Setelah menunjukkan kemampuannya dalam menyuplai senjata dan pasukan ke Rusia, Korea Utara mungkin ingin menyampaikan pesan bahwa tuntutan lebih lanjut dari Rusia harus diimbangi dengan kompensasi yang lebih besar.
Pyongyang diduga telah menerima atau dijanjikan bantuan pangan, energi, dan senjata konvensional dari Rusia sebagai imbalan atas peluru artileri, rudal balistik, dan pengerahan pasukan. Kini, Kim mungkin menuntut sesuatu yang lebih dari sebelumnya—kemungkinan teknologi dan komponen untuk kapal selam dan kapal perusak seberat 5.500 ton, bahkan teknologi nuklir—namun tanggapan Rusia masih belum jelas.
Lihat Juga :