India-Pakistan: Mozaik Identitas, Kekuasaan, dan Mimpi yang Terbelah
Jum'at, 16 Mei 2025 - 10:24 WIB
loading...
Khairi Fuady, Co-Founder Indonesia South-South Foundation. Foto/Istimewa
A
A
A
Khairi Fuady
Co-Founder Indonesia South-South Foundation
DALAM rentang panjang sejarah dan denting ambisi manusia, konflik India-Pakistan berdiri bagai lukisan abadi, penuh warna luka dan harap. Kisah ini bukan sekadar pertarungan dua bangsa, melainkan mozaik identitas, kekuasaan, dan mimpi yang terbelah.
Pada 1947, ketika Imperium Inggris menarik nafas terakhirnya di anak benua India, lahirlah India dan Pakistan dari rahim kemerdekaan yang penuh darah. Garis Radcliffe, yang digurat dengan tergesa, bukan hanya memisahkan tanah, tetapi juga hati dan nasib.
Kashmir, dengan keindahan pegunungan dan lembahnya, menjadi simbol tragedi ini. Sebuah wilayah yang diperebutkan dengan doa dan pedang. Perang 1947, 1965, dan 1971, ditambah ketegangan Kargil 1999, menggores luka yang tak kunjung sembuh.
Sejarah ini bukan sekadar kronik peristiwa; ia adalah elegi tentang kebanggaan yang terluka, trauma kolektif, dan hasrat untuk diakui. Dengan lensa hubungan internasional, konflik ini bagaikan cermin yang memantulkan kerumitan dunia.
Co-Founder Indonesia South-South Foundation
DALAM rentang panjang sejarah dan denting ambisi manusia, konflik India-Pakistan berdiri bagai lukisan abadi, penuh warna luka dan harap. Kisah ini bukan sekadar pertarungan dua bangsa, melainkan mozaik identitas, kekuasaan, dan mimpi yang terbelah.
Pada 1947, ketika Imperium Inggris menarik nafas terakhirnya di anak benua India, lahirlah India dan Pakistan dari rahim kemerdekaan yang penuh darah. Garis Radcliffe, yang digurat dengan tergesa, bukan hanya memisahkan tanah, tetapi juga hati dan nasib.
Kashmir, dengan keindahan pegunungan dan lembahnya, menjadi simbol tragedi ini. Sebuah wilayah yang diperebutkan dengan doa dan pedang. Perang 1947, 1965, dan 1971, ditambah ketegangan Kargil 1999, menggores luka yang tak kunjung sembuh.
Sejarah ini bukan sekadar kronik peristiwa; ia adalah elegi tentang kebanggaan yang terluka, trauma kolektif, dan hasrat untuk diakui. Dengan lensa hubungan internasional, konflik ini bagaikan cermin yang memantulkan kerumitan dunia.
Lihat Juga :