Kendala EBT: Harga Belum Kompetitif, UU pun Tak Tuntas Tahun Ini

Senin, 07 September 2020 - 07:41 WIB
loading...
Kendala EBT: Harga Belum...
Foto/ilustrasi.pixabay
A A A
JAKARTA - Upaya Indonesia untuk mempercepat transformasi penggunaan energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT) ternyata tak semudah dibayangkan. Kendala utama EBT adalah harga yang belum kompetitif dibandingkan energi fosil.

Di sisi lain, RUU EBT yang salah satunya mengatur soal harga tersebut diperkirakan tidak akan selesai tahun ini. “Selama ini terkendala terbesar dari sisi harga. EBT ini kurang kompetitif dibandingkan dengan fosil. Makanya, nanti upaya apa saja yang harus dilakukan agar EBT bisa lebih kompetitif,” tutur anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dyah Roro Esti kepada SINDOnews Minggu (6/9/2020) malam.

Dyah mengungkapkan hambatan dalam pengembangan EBT adalah belum adanya payung hukum yang mengatur secara keseluruhan. Padahal Indonesia telah menandatangani Paris Agreement pada 2015. Indonesia bahkan telah meratifikasi kesepakatan tersebut menjadi UU Nomor 16/2016 tentang Pengesahan Paris Agreement To United Nations Framework Convention on Climate Change.

Di luar pembahasan RUU, Komisi VII mendorong pemerintah untuk memperbanyak pembangunan pembangkit EBT dalam program 35.000 MW. Dyah menerangkan wilayah Indonesia memiliki sumber EBT yang melimpah. “Misalnya di Indonesia Timur itu tenaga surya. Di Sulawesi itu tenaga angin. Setiap wilayah mempunyai specialty yang berbeda-beda. Kita harus maksimalkan,” tegasnya.

Dalam pengembangan EBT, pemerintah tidak berjalan sendirian. Putri dari Satya Widya Yudha itu mengatakan swasta pun harus berperan dalam pengembangan EBT di Tanah Air. Tinggal dibagi saja peran antara pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), dan swasta. Ia mencontoh peran swasta dalam pengembangan PLTS atap atau pemanfaatan solar panel di perumahan.

Dia menceritakan dalam sebuah rapat di Komisi VII, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yakin akan memenuhi target 23 persen EBT pada 2025. Dyah sendiri menyatakan hal itu akan bisa terwujud jika sudah ada payung hukum dan kerja sama lintas sektor untuk merealisasikan target itu.

“Karena bukan hanya dari sisi harga (saja), kita punya kendala segi birokrasi, perizinan, dan lain-lain. Kita upayakan bisa memudahkan investor. Gimana caranya Indonesia menjadi investor friendly terhadap negara yang ingin berinvestasi EBT. Hal seperti itu yang bisa kita dorong ke depannya,” pungkasnya.
(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Aliansi Kebangsaan Serukan...
Aliansi Kebangsaan Serukan Indonesia Berdamai dengan Alam Hadapi Krisis Iklim
Lantik Pengurus Golkar...
Lantik Pengurus Golkar Aceh, Bahlil Instruksikan Konsolidasi dan Tambah Kursi Legislatif
Nurul Arifin Sebut Riset...
Nurul Arifin Sebut Riset SSI Bukti Bahlil Berhasil Terjemahkan Visi Prabowo ke Publik
Golkar: Capres-Cawapres...
Golkar: Capres-Cawapres Jangan Terlalu Sedikit dan Jangan juga Terlalu Banyak
Panggil Legislator yang...
Panggil Legislator yang Diduga Intimidasi Dokter Icha, Golkar Siapkan Sanksi
Forum GPI4 di Peru,...
Forum GPI4 di Peru, Indonesia Tegaskan Komitmen Lindungi Gambut Dunia
Komitmen Berkelanjutan,...
Komitmen Berkelanjutan, Tracon Industri Kolaborasi Tanam 500 Mangrove di Karawang
Singapura Mulai Proyek...
Singapura Mulai Proyek Raksasa Lawan Kenaikan Permukaan Laut
Transmisi Hijau Tulang...
Transmisi Hijau Tulang Punggung Penentu Masa Depan Energi Bersih
Rekomendasi
4 Fakta Gunung Pickaxe,...
4 Fakta Gunung Pickaxe, Fasilitas Rahasia Nuklir Iran yang Jadi Target Serangan AS
5 Kebiasaan yang Bikin...
5 Kebiasaan yang Bikin Pencernaan Sehat dan Menurunkan Berat Badan
AS Terlibat Langsung...
AS Terlibat Langsung dalam Serangan Drone Ukraina, Rusia: Washington Munafik!
Berita Terkini
Kejagung Terbitkan Sprindik...
Kejagung Terbitkan Sprindik Baru Dugaan TPPU 74 Kg Emas dan Uang di Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Bos FBI Temui Prabowo,...
Bos FBI Temui Prabowo, Artefak Papua yang Diselundupkan ke AS Kembali ke Indonesia
Pengamat Soroti Rumor...
Pengamat Soroti Rumor Privat di Kasus Febrie: Jangan Geser Fokus dari Substansi Hukum
Hangat dan Haru, Prabowo...
Hangat dan Haru, Prabowo Jamu Perwira TNI-Polri dan Orang Tua di Istana Usai Praspa 2026
Hari Anak Nasional ke-42,...
Hari Anak Nasional ke-42, saatnya Negara Membangun Prasyarat Perlindungan Anak
Febrie Adriansyah Mangkir...
Febrie Adriansyah Mangkir dari Pemeriksaan Kejagung, Dipanggil Ulang Besok
Infografis
Jakarta Gencar Bersih-bersih...
Jakarta Gencar Bersih-bersih Ikan Sapu-sapu, Ini Alasannya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved