8 Fakta tentang Mulyono, Nomor 4 Pernah Diterima di UGM
Selasa, 29 April 2025 - 06:27 WIB
loading...
A
A
A
Hobi lainnya adalah bersepeda menjelajahi daerah-daerah lain dan mendaki gunung, di antaranya adalah mendaki Gunung Merapi dan Merbabu. Pulang sekolah ketika masa SMA, Mulyono tetap membantu tugas ayahnya dalam mengurus pengairan di samping membantu mengurus sawahnya.
Kadang-kadang tugas yang menjadi tanggung jawab sang ayah digantikan olehnya. Contohnya, dalam mengatur air ketika hujan deras yang mengancam desanya supaya tidak banjir.
Bahkan, dia sering mengambilikan kunci pintu air dalam keadaan tertentu dan juga menjaga kebersihan irigasi. Bagi dirinya, masa anak-anak sampai usia remaja (usia SMA), banyak kenangan yang tak terlupakan.
“Di masa itu, banyak pengalaman berharga,” ujar Mulyono dengan sangat terharu sambil pandangannya menerawang jauh ke masa lalu yang penuh kenangan.
“Orang tua saya hanya membekali pendidikan. Ojo koyo wong tuwomu ora mangan sekolahan,” kata Mulyono menirukan pesan orang tuanya.
Mulyono pun melaksanakan amanat orang tuanya tersebut dengan mendaftar kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ada tiga pilihan yang diinginkannya, yaitu jurusan pertanian, peternakan, dan dokter hewan. Hal itu karena dirinya menyadari dari kampung dan keluarga petani.
Selama main di rumah buleknya itu, Mulyono membantu menyelesaikan tugas keseharian berupa menyapu, mencuci pakaian, membersihkan rumah, mengisi bak mandi, mengepel lantai, dan sebagainya. Selain itu karena buleknya membuka kantin di dekat barak prajurit dan setiap hari belanja ke pasar, maka Mulyono diajak ikut belanja ke pasar dan membawakan belanjaannya.
Suatu ketika, Mulyono yang sedang mengantar tantenya melihat sekelompok remaja berseragam yang tengah berjalan dengan gagahnya. Karena penasaran, Mulyono kemudian bertanya kepada buleknya. “Mereka itu siapa Bulek?” tanya Mulyono.
“Mereka itu taruna AKABRI,” jawab Buleknya.
Ketika melihat taruna AKABRI itu, hati Mulyono tergugah untuk menjadi seorang prajurit TNI. Dia pun mendaftar AKABRI. Keinginan hatinya bulat untuk masuk menjadi prajurit, juga didorong untuk mengabdikan dirinya pada bangsa dan negara.
![8 Fakta tentang Mulyono, Nomor 4 Pernah Diterima di UGM]()
Di samping itu juga terpikir bila dia kuliah bagaimana biaya ke depan karena adik-adiknya cukup banyak yang juga membutuhkan biaya yang banyak dan tentu itu akan membebani orang tua. Selain itu, Mulyono melihat bahwa para taruna yang sedang belajar di AKABRI kelihatan gagah perkasa dengan badan yang kekar, kuat, dan berpenampilan disiplin.
Tekadnya semakin bulat untuk masuk taruna AKABRI dan diwujudkan dengan bimbingan dari pamannya yang berpangkat Sersan Dua, melakukan serangkaian latihan berupa lari, push up, pull up, dan sebagainya yang tujuannya untuk pembinaan fisik dalam rangka persiapan mendaftar menjadi prajurit.
Mulyono juga mencoba tes psikologi yang dilakukan di RSJ Magelang. Mulyono pun menyampaikan keinginan untuk menjadi Taruna AKABRI itu bapaknya. Ketika menunggu pengumuman tes masuk AKABRI, Mulyono diterima di Fakultas Peternakan UGM.
Kemudian, dia mendaftar ulang menjadi mahasiswa baru dengan menghubungi bagian akademik UGM, dengan melunasi uang kuliah satu semester. Namun, karena terbatasnya keuangan akhirnya bisa dicicil setengah semester terlebih dahulu, karena masih berharap pengumuman di AKABRI diterima.
Saat perkuliahan berjalan satu bulan, ternyata ada informasi dari teman lain untuk mengikuti tes lanjutan masuk AKABRI di Semarang. Namun, surat panggilan belum sampai di rumahnya. Dengan bekal seadanya Mulyono berangkat ke Semarang.
Kadang-kadang tugas yang menjadi tanggung jawab sang ayah digantikan olehnya. Contohnya, dalam mengatur air ketika hujan deras yang mengancam desanya supaya tidak banjir.
Bahkan, dia sering mengambilikan kunci pintu air dalam keadaan tertentu dan juga menjaga kebersihan irigasi. Bagi dirinya, masa anak-anak sampai usia remaja (usia SMA), banyak kenangan yang tak terlupakan.
“Di masa itu, banyak pengalaman berharga,” ujar Mulyono dengan sangat terharu sambil pandangannya menerawang jauh ke masa lalu yang penuh kenangan.
4. Pernah Diterima di UGM
Mulyono ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi seperti yang dicita-citakan oleh orang tuanya setelah lulus dari SMA. Salah satu pesan yang disampaikan oleh orang tuanya adalah setelah lulus SMA harus kuliah, tidak usah pikirkan biaya, kewajiban orang tua untuk membekali supaya anaknya dapat hidup layak di masa depan.“Orang tua saya hanya membekali pendidikan. Ojo koyo wong tuwomu ora mangan sekolahan,” kata Mulyono menirukan pesan orang tuanya.
Mulyono pun melaksanakan amanat orang tuanya tersebut dengan mendaftar kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ada tiga pilihan yang diinginkannya, yaitu jurusan pertanian, peternakan, dan dokter hewan. Hal itu karena dirinya menyadari dari kampung dan keluarga petani.
5. Tergugah Jadi Prajurit TNI setelah Lihat Taruna AKABRI
Sambil menunggu pengumuman masuk perguruan tinggi, dia bermain atau berlibur di rumah tantenya atau buleknya di Magelang. Nah, kebetulan pamannya atau Paleknya merupakan seorang anggota TNI AD berpangkat Sersan Dua yang berdinas di Armed 3/Tarik di Magelang.Selama main di rumah buleknya itu, Mulyono membantu menyelesaikan tugas keseharian berupa menyapu, mencuci pakaian, membersihkan rumah, mengisi bak mandi, mengepel lantai, dan sebagainya. Selain itu karena buleknya membuka kantin di dekat barak prajurit dan setiap hari belanja ke pasar, maka Mulyono diajak ikut belanja ke pasar dan membawakan belanjaannya.
Suatu ketika, Mulyono yang sedang mengantar tantenya melihat sekelompok remaja berseragam yang tengah berjalan dengan gagahnya. Karena penasaran, Mulyono kemudian bertanya kepada buleknya. “Mereka itu siapa Bulek?” tanya Mulyono.
“Mereka itu taruna AKABRI,” jawab Buleknya.
Ketika melihat taruna AKABRI itu, hati Mulyono tergugah untuk menjadi seorang prajurit TNI. Dia pun mendaftar AKABRI. Keinginan hatinya bulat untuk masuk menjadi prajurit, juga didorong untuk mengabdikan dirinya pada bangsa dan negara.

Di samping itu juga terpikir bila dia kuliah bagaimana biaya ke depan karena adik-adiknya cukup banyak yang juga membutuhkan biaya yang banyak dan tentu itu akan membebani orang tua. Selain itu, Mulyono melihat bahwa para taruna yang sedang belajar di AKABRI kelihatan gagah perkasa dengan badan yang kekar, kuat, dan berpenampilan disiplin.
Tekadnya semakin bulat untuk masuk taruna AKABRI dan diwujudkan dengan bimbingan dari pamannya yang berpangkat Sersan Dua, melakukan serangkaian latihan berupa lari, push up, pull up, dan sebagainya yang tujuannya untuk pembinaan fisik dalam rangka persiapan mendaftar menjadi prajurit.
Mulyono juga mencoba tes psikologi yang dilakukan di RSJ Magelang. Mulyono pun menyampaikan keinginan untuk menjadi Taruna AKABRI itu bapaknya. Ketika menunggu pengumuman tes masuk AKABRI, Mulyono diterima di Fakultas Peternakan UGM.
Kemudian, dia mendaftar ulang menjadi mahasiswa baru dengan menghubungi bagian akademik UGM, dengan melunasi uang kuliah satu semester. Namun, karena terbatasnya keuangan akhirnya bisa dicicil setengah semester terlebih dahulu, karena masih berharap pengumuman di AKABRI diterima.
Saat perkuliahan berjalan satu bulan, ternyata ada informasi dari teman lain untuk mengikuti tes lanjutan masuk AKABRI di Semarang. Namun, surat panggilan belum sampai di rumahnya. Dengan bekal seadanya Mulyono berangkat ke Semarang.
Lihat Juga :