Tarif Trump dan Ilusi Perlindungan

Sabtu, 26 April 2025 - 22:25 WIB
loading...
A A A
Lebih jauh, dalam era Global Value Chains (GVC), barang yang kita konsumsi sehari-hari tidak lagi diproduksi secara utuh dalam satu negara. Sebuah smartphone, misalnya, bisa dirakit di Vietnam dengan komponen dari Korea Selatan, semi konduktor dari Taiwan, dan desain dari California. Ketika AS menerapkan tarif secara agresif, ia tidak hanya memukul negara mitra, tetapi juga menekan rantai pasok global di mana perusahaannya sendiri berperan. Laporan National Trade Estimate (United States Trade Representative, 2025) menunjukkan betapa kompleksnya hambatan perdagangan global saat ini, bukan hanya tarif, tetapi juga kebijakan non-tarif, digital barriers, dan regulasi teknis.

Politik dalam Balutan Ekonomi

Trump seolah ingin menghidupkan kembali doktrin proteksionisme abad ke-20 dalam dunia abad ke-21 yang sudah saling terintegrasi. Tindakan ini mencerminkan sebuah pergeseran besar: dari multilateralisme ke unilateralisme, dari diplomasi ke paksaan ekonomi. Ini adalah bentuk modern dari “weaponization of tariffs” yakni penggunaan kebijakan ekonomi sebagai alat tawar-menawar politik luar negeri. Sayangnya, pendekatan seperti ini hanya akan meningkatkan ketegangan dan ketidakpastian global, yang pada akhirnya menciptakan deadweight loss bagi semua.

Baca Juga: Ambisi dan Mimpi Donald Trump

Bahkan dalam konteks domestik AS, efektivitas tarif masih diragukan. Dalam episode pertama perang dagang pada 2018–2020, studi menunjukkan bahwa tarif terhadap produk Tiongkok gagal menekan defisit dagang AS. Alih-alih meningkatkan produksi dalam negeri, tarif tersebut memicu inflasi, mengganggu rantai pasok domestik, dan memperburuk daya beli konsumen. Kini, di 2025, strategi yang sama diulang dengan cakupan lebih luas, seolah mengabaikan pelajaran sejarah.

Tantangan dan Peluang Indonesia

Bagi Indonesia, Trade War Jilid 2 menimbulkan dampak yang kompleks. Laporan LPEM FEB UI (2025) mencatat bahwa Indonesia kini berada dalam posisi yang berbeda dibanding 2018. Tarif yang dikenakan kepada produk Indonesia hanya terpaut sekitar 2% dari tarif untuk Tiongkok, menjadikannya tidak lagi sebagai substitusi utama di pasar AS. Akibatnya, peluang Indonesia untuk mengambil alih pasar atau menarik FDI berorientasi ekspor dari Tiongkok juga semakin terbatas.

Namun, tantangan ini juga membuka peluang baru. Indonesia memiliki eksposur ekspor ke AS yang relatif signifkan. Maknanya lebih jauh adalah memiliki keleluasaan mengalihkan pasar ke kawasan lain. Selain itu, negara-negara yang dikenakan tarif tinggi umumnya merupakan negara berpendapatan rendah-menengah yang belum sepenuhnya siap menghadapi tekanan tarif. Indonesia bisa mengambil peluang ini dengan memperkuat kerja sama produksi, menarik FDI dari negara yang memiliki akses lebih baik ke pasar AS, dan mempercepat integrasi dalam perjanjian multilateral seperti RCEP dan BRICS

Rasionalisasi Tarif Resiprokal

Retorika “tarif resiprokal” yang digunakan Trump sebenarnya mengandung simplifikasi serius terhadap kompleksitas perdagangan global. Dalam banyak kasus, tarif rendah di satu negara merupakan bagian dari strategi pembangunan industri yang sah dalam WTO. Tarif tinggi pun bukan selalu bentuk diskriminasi. Misalnya, Indonesia mengenakan tarif berbeda untuk produk pertanian dan non-pertanian bukan karena ingin menghalangi AS, tetapi untuk melindungi petani kecil dari gempuran pasar global.

Ironisnya, laporan USTR sendiri mengkritik Indonesia atas berbagai hambatan perdagangan non-tarif, sementara AS justru memperluas hambatan perdagangan berbasis tarif. Ini menunjukkan standar ganda dalam praktik perdagangan internasional. Di satu sisi, AS menuntut pasar bebas; di sisi lain, ia menutup diri dengan dalih kedaulatan ekonomi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bos FBI Temui Prabowo,...
Bos FBI Temui Prabowo, Artefak Papua yang Diselundupkan ke AS Kembali ke Indonesia
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Terima Audiensi DPRD...
Terima Audiensi DPRD Malaka, BNPP Bahas Peluang Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas
Yusril Bicara Kedekatan...
Yusril Bicara Kedekatan Prabowo-Trump, Sebut Hubungan RI-AS Tak Sekadar Urusan Pemerintah
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Laut Merah Memanas,...
Laut Merah Memanas, Houthi Yaman Serang 2 Kapal Tanker Minyak Arab Saudi
Keluarga Peter Crouch...
Keluarga Peter Crouch Cerita Susahnya Masuk AS saat Piala Dunia 2026
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
Rekomendasi
AS Ancam Malaysia setelah...
AS Ancam Malaysia setelah Anwar Ibrahim Ingin Usir Seluruh Warga Israel
Ketum dan Bendahara...
Ketum dan Bendahara Federasi Sepak Bola Argentina Ditangkap FBI?
Samsung Bentuk Divisi...
Samsung Bentuk Divisi Robotika Khusus Mempercepat Strategi AI
Berita Terkini
Usai Mundur Jadi Pengacara...
Usai Mundur Jadi Pengacara Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Hotman Paris Kini Pakai Kursi Roda
Eksepsinya Dikabulkan,...
Eksepsinya Dikabulkan, Dokter Tifa Nyatakan Tetap Berjuang Bongkar Ijazah Jokowi
Eksepsi Dokter Tifa...
Eksepsi Dokter Tifa Diterima, Hakim Nyatakan Surat Dakwaan Batal Demi Hukum
Breaking News! Hotman...
Breaking News! Hotman Paris Mundur sebagai Pengacara Febrie Adriansyah
Tok! PN Jaktim Terima...
Tok! PN Jaktim Terima Eksepsi Dokter Tifa, Persidangan Pembuktian Tak Dilanjut
Dokter Tifa Siap Hadapi...
Dokter Tifa Siap Hadapi Putusan Sela: Kalau Ditolak, Kami Maju Terus Ungkap Kebenaran
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved