Komunikasi Etnografi Kritikal dalam Menunjang DEI dan CSR Perusahaan
Kamis, 10 April 2025 - 21:48 WIB
loading...
A
A
A
Penerimaan publik terhadap kampanye ini menunjukkan efektivitas pendekatan komunikasi empatik dan berbasis etnografi. Unilever memposisikan dirinya bukan sebagai pengambil keputusan tunggal, melainkan sebagai fasilitator ruang bagi suara-suara yang selama ini tidak terlihat. Dalam narasi kampanye yang disampaikan melalui media sosial, Unilever secara konsisten menggunakan cerita pribadi dari individu yang berasal dari komunitas marginal, seperti perempuan, penyandang disabilitas, hingga kelompok etnis yang bukan kaum mayoritas. Strategi ini tidak hanya memberikan validasi terhadap pengalaman mereka, tetapi juga membentuk ikatan dengan pengguna dan juga masyarakat yang lebih luas.
Penggunaan bahasa inklusif seperti "No more waiting, no more hesitating. Let’s #AccelerateAction for Gender Equality" atau "Setiap orang berhak berkembang" menjadi salah satu contoh dari Unilever dalam menerjemahkan nilai-nilai keberagaman dan inklusi ke dalam praktik komunikasi publik. Selain dari sisi verbal, aspek visual yang ditampilkan juga sangat representatif, mencerminkan keragaman etnis, usia, dan kondisi fisik. Konten yang disampaikan oleh Unilever ditujukan untuk membuat rasa kedekatan dengan karyawan dan juga masyarakat yang menggunakan produk yang dihasilkan oleh Unilever.
Melalui pendekatan etnografi yang mendalam, salah satu cara yang dilakukan oleh Unilever adalah melalui observasi komunitas eksternal dan pencerminan dari internal. Unilever mampu menyusun strategi hubungan publik yang bukan hanya berfokus terhadap isu kritis, namun juga secara proaktif membangun citra perusahaan yang inklusif dan bertanggung jawab secara sosial melalui program program yang dibentuk. Hal ini memperlihatkan bahwa dalam konteks manajemen isu dan krisis berbasis budaya, etnografi dapat menjadi alat strategis dalam memperkuat hubungan perusahaan dengan publik, sekaligus menciptakan unique point dalam komunikasi merek.
Pendekatan etnografi yang digunakan oleh Unilever Indonesia dalam merancang dan menjalankan strategi komunikasinya, khususnya dalam kampanye sosial yang mendukung kesetaraan gender dan inklusi disabilitas, menunjukkan pemahaman mendalam terhadap nilai, norma, dan pengalaman keseharian masyarakat. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip etnografi seperti observasi terhadap kehidupan komunitas sasaran, penciptaan narasi yang autentik, serta keterlibatan langsung dengan pengalaman kelompok marginal, Unilever mampu membangun jembatan komunikasi yang relevan secara budaya dan emosional terhadap masyarakat dan juga penggunanya.
Melihat akun media sosial Unilever, mereka banyak menghasilkan post yang membawakan pesan, namun Unilever tidak hanya menyampaikan pesan-pesan korporat, tetapi juga mengangkat topik yang berhubungan dengan kelompok yang sering tidak terdengar, seperti perempuan, penyandang disabilitas, dan anak muda dengan latar belakang sosial beragam. Pemilihan visual, bahasa, dan tokoh yang digunakan konten mereka dibuat sedemikian rupa agar mendapatkan simpati dari audiensnya. Strategi ini berhasil membangun hubungan simpatetik, menciptakan kepercayaan publik, serta memperkuat reputasi perusahaan sebagai entitas yang memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab budaya.
Dengan demikian, etnografi tidak hanya menjadi metode pengumpulan data atau pemetaan budaya, tetapi telah menjadi kerangka kerja strategis dalam praktik hubungan publik, yakni perusahaan mampu menyampaikan nilai-nilai sosial melalui komunikasi yang partisipatif, inklusif, dan bermakna. Unilever membuktikan bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada kreativitas pesan, tetapi juga pada kedalaman pemahaman terhadap masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem perusahaan itu sendiri.
Penggunaan bahasa inklusif seperti "No more waiting, no more hesitating. Let’s #AccelerateAction for Gender Equality" atau "Setiap orang berhak berkembang" menjadi salah satu contoh dari Unilever dalam menerjemahkan nilai-nilai keberagaman dan inklusi ke dalam praktik komunikasi publik. Selain dari sisi verbal, aspek visual yang ditampilkan juga sangat representatif, mencerminkan keragaman etnis, usia, dan kondisi fisik. Konten yang disampaikan oleh Unilever ditujukan untuk membuat rasa kedekatan dengan karyawan dan juga masyarakat yang menggunakan produk yang dihasilkan oleh Unilever.
Melalui pendekatan etnografi yang mendalam, salah satu cara yang dilakukan oleh Unilever adalah melalui observasi komunitas eksternal dan pencerminan dari internal. Unilever mampu menyusun strategi hubungan publik yang bukan hanya berfokus terhadap isu kritis, namun juga secara proaktif membangun citra perusahaan yang inklusif dan bertanggung jawab secara sosial melalui program program yang dibentuk. Hal ini memperlihatkan bahwa dalam konteks manajemen isu dan krisis berbasis budaya, etnografi dapat menjadi alat strategis dalam memperkuat hubungan perusahaan dengan publik, sekaligus menciptakan unique point dalam komunikasi merek.
Pendekatan etnografi yang digunakan oleh Unilever Indonesia dalam merancang dan menjalankan strategi komunikasinya, khususnya dalam kampanye sosial yang mendukung kesetaraan gender dan inklusi disabilitas, menunjukkan pemahaman mendalam terhadap nilai, norma, dan pengalaman keseharian masyarakat. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip etnografi seperti observasi terhadap kehidupan komunitas sasaran, penciptaan narasi yang autentik, serta keterlibatan langsung dengan pengalaman kelompok marginal, Unilever mampu membangun jembatan komunikasi yang relevan secara budaya dan emosional terhadap masyarakat dan juga penggunanya.
Melihat akun media sosial Unilever, mereka banyak menghasilkan post yang membawakan pesan, namun Unilever tidak hanya menyampaikan pesan-pesan korporat, tetapi juga mengangkat topik yang berhubungan dengan kelompok yang sering tidak terdengar, seperti perempuan, penyandang disabilitas, dan anak muda dengan latar belakang sosial beragam. Pemilihan visual, bahasa, dan tokoh yang digunakan konten mereka dibuat sedemikian rupa agar mendapatkan simpati dari audiensnya. Strategi ini berhasil membangun hubungan simpatetik, menciptakan kepercayaan publik, serta memperkuat reputasi perusahaan sebagai entitas yang memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab budaya.
Dengan demikian, etnografi tidak hanya menjadi metode pengumpulan data atau pemetaan budaya, tetapi telah menjadi kerangka kerja strategis dalam praktik hubungan publik, yakni perusahaan mampu menyampaikan nilai-nilai sosial melalui komunikasi yang partisipatif, inklusif, dan bermakna. Unilever membuktikan bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada kreativitas pesan, tetapi juga pada kedalaman pemahaman terhadap masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem perusahaan itu sendiri.
(zik)
Lihat Juga :