Pernah Jadi Sekjen PAN, Faisal Basri Sebut 'Kecelakaan'
Sabtu, 05 September 2020 - 07:36 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga: Faisal Basri: RUU Cipta Kerja Buka Peluang Makin Represif ).
Namun, kata Fasial, saat pembentukan pengurus, sulit menemukan figur sekjen. "Tidak ketemu-ketemu figur sekjen. Pak Amien sudah pasti ketua umum, sekjennya itu pada awalnya Pak Amin Azis yang dicalonkan, tapi Pak Amin Azis kan lebih tua dari Pak Amien Rais, tidak ideal, ada lagi Ismid Hadad, tapi setahu saya dia tidak mau tinggalkan dapur," ujarnya.
(Baca juga: Loyalis Amien Rais Sebut Banyak yang Ingin Gabung PAN Reformasi ).
Lalu, kata Faisal, ada teman-temannya yang meneleponnya untuk bersedia menjadi sekjen. "Bismillah aja, Sal. Ya udah jadi itu aja," kata pria yang pernah bertarung di Pilkada DKI Jakarta 2012 melalui jalur perseorangan ini..
Faisal juga ditanya kenapa keluar dari PAN. Menurutnya, waktu mendirikan PAN itu, asasnya inklusif, modern, terbuka. "Nah, setelah Kongres Yogya diubah menjadi asasnya iman dan takwa. Menurut saya, asas itu menjadi sesuatu yang bisa diukur, iman dan takwa nggak ada ukurannya, jadi tidak ada indikatornya. Jadi apa ini? Kecenderungannya kan PAN itu awalnya partai tengah, partai buat semua, kalau iman dan takwa kan monopolinya umant Islam, partai Islam kan sudah ada, buat apa lagi kita bikin partai Islam," papar Faisal seraya menyebut banyak kisah indah selama di PAN.
Namun, kata Fasial, saat pembentukan pengurus, sulit menemukan figur sekjen. "Tidak ketemu-ketemu figur sekjen. Pak Amien sudah pasti ketua umum, sekjennya itu pada awalnya Pak Amin Azis yang dicalonkan, tapi Pak Amin Azis kan lebih tua dari Pak Amien Rais, tidak ideal, ada lagi Ismid Hadad, tapi setahu saya dia tidak mau tinggalkan dapur," ujarnya.
(Baca juga: Loyalis Amien Rais Sebut Banyak yang Ingin Gabung PAN Reformasi ).
Lalu, kata Faisal, ada teman-temannya yang meneleponnya untuk bersedia menjadi sekjen. "Bismillah aja, Sal. Ya udah jadi itu aja," kata pria yang pernah bertarung di Pilkada DKI Jakarta 2012 melalui jalur perseorangan ini..
Faisal juga ditanya kenapa keluar dari PAN. Menurutnya, waktu mendirikan PAN itu, asasnya inklusif, modern, terbuka. "Nah, setelah Kongres Yogya diubah menjadi asasnya iman dan takwa. Menurut saya, asas itu menjadi sesuatu yang bisa diukur, iman dan takwa nggak ada ukurannya, jadi tidak ada indikatornya. Jadi apa ini? Kecenderungannya kan PAN itu awalnya partai tengah, partai buat semua, kalau iman dan takwa kan monopolinya umant Islam, partai Islam kan sudah ada, buat apa lagi kita bikin partai Islam," papar Faisal seraya menyebut banyak kisah indah selama di PAN.
(zik)
Lihat Juga :