Trump dan Ilusi Perombakan Tatanan Dunia
Selasa, 18 Maret 2025 - 06:59 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Kolombia Menyerah kepada Donald Trump
Di bidang ekonomi, proteksionisme yang diusung Trump dengan tarif tinggi terhadap Tiongkok dan negara lain mengingatkan pada kebijakan Smoot-Hawley Tariff Act (1930) yang justru memperburuk Depresi Besar. Presiden George W. Bush juga pernah menerapkan tarif tinggi pada baja sebelum mencabutnya akibat tekanan global. Sejarah membuktikan bahwa proteksionisme lebih sering berujung pada ketidakstabilan daripada kemakmuran. Meski demikian, kebijakan ini sejalan dengan tren global yang kini mulai bergeser dari liberalisme ekonomi menuju nasionalisme ekonomi.
Selain kebijakan ekonomi, slogan "Make America Great Again" (MAGA) merefleksikan semangat nasionalisme ekonomi yang menempatkan kepentingan domestik di atas segalanya. Hal ini berdampak pada perubahan cara dunia memandang AS: dari negara yang selama ini berperan sebagai pemimpin sistem internasional, menjadi aktor yang lebih berorientasi pada kepentingan jangka pendek. Akibatnya, sekutu-sekutu AS mulai mempertimbangkan kembali ketergantungan mereka pada Washington, memunculkan dinamika geopolitik baru di Eropa dan Asia.
Kritik terbesar terhadap Trump adalah sikapnya yang meremehkan aliansi seperti NATO serta keputusannya menarik AS dari berbagai perjanjian internasional. Namun, sejarah menunjukkan bahwa AS telah melakukan hal serupa di masa lalu. Presiden Jimmy Carter, misalnya, mengakhiri perjanjian pertahanan dengan Taiwan untuk membuka hubungan dengan Tiongkok. Obama pun menarik pasukan dari Irak, yang dianggap sebagai pelemahan komitmen AS terhadap stabilitas global. Dengan demikian, langkah Trump bukanlah revolusi, melainkan ekspresi yang lebih keras dari kecenderungan kebijakan luar negeri AS yang telah berlangsung lama.
Bagi Indonesia, dinamika global ini menuntut respons yang cermat dan strategis. Ketergantungan terhadap AS dalam aspek ekonomi dan keamanan harus diimbangi dengan diversifikasi mitra internasional. Penguatan hubungan dengan ASEAN, Uni Eropa, dan negara-negara Asia Timur menjadi langkah strategis untuk mengurangi dampak dari kebijakan luar negeri AS yang fluktuatif. Lebih dari itu, Indonesia harus memperkuat diplomasi ekonomi agar lebih tangguh menghadapi dampak proteksionisme global. Selain itu, peningkatan investasi dalam industri berbasis teknologi dan inovasi menjadi langkah penting agar Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam perekonomian global.
Di bidang ekonomi, proteksionisme yang diusung Trump dengan tarif tinggi terhadap Tiongkok dan negara lain mengingatkan pada kebijakan Smoot-Hawley Tariff Act (1930) yang justru memperburuk Depresi Besar. Presiden George W. Bush juga pernah menerapkan tarif tinggi pada baja sebelum mencabutnya akibat tekanan global. Sejarah membuktikan bahwa proteksionisme lebih sering berujung pada ketidakstabilan daripada kemakmuran. Meski demikian, kebijakan ini sejalan dengan tren global yang kini mulai bergeser dari liberalisme ekonomi menuju nasionalisme ekonomi.
Selain kebijakan ekonomi, slogan "Make America Great Again" (MAGA) merefleksikan semangat nasionalisme ekonomi yang menempatkan kepentingan domestik di atas segalanya. Hal ini berdampak pada perubahan cara dunia memandang AS: dari negara yang selama ini berperan sebagai pemimpin sistem internasional, menjadi aktor yang lebih berorientasi pada kepentingan jangka pendek. Akibatnya, sekutu-sekutu AS mulai mempertimbangkan kembali ketergantungan mereka pada Washington, memunculkan dinamika geopolitik baru di Eropa dan Asia.
Kritik terbesar terhadap Trump adalah sikapnya yang meremehkan aliansi seperti NATO serta keputusannya menarik AS dari berbagai perjanjian internasional. Namun, sejarah menunjukkan bahwa AS telah melakukan hal serupa di masa lalu. Presiden Jimmy Carter, misalnya, mengakhiri perjanjian pertahanan dengan Taiwan untuk membuka hubungan dengan Tiongkok. Obama pun menarik pasukan dari Irak, yang dianggap sebagai pelemahan komitmen AS terhadap stabilitas global. Dengan demikian, langkah Trump bukanlah revolusi, melainkan ekspresi yang lebih keras dari kecenderungan kebijakan luar negeri AS yang telah berlangsung lama.
Bagi Indonesia, dinamika global ini menuntut respons yang cermat dan strategis. Ketergantungan terhadap AS dalam aspek ekonomi dan keamanan harus diimbangi dengan diversifikasi mitra internasional. Penguatan hubungan dengan ASEAN, Uni Eropa, dan negara-negara Asia Timur menjadi langkah strategis untuk mengurangi dampak dari kebijakan luar negeri AS yang fluktuatif. Lebih dari itu, Indonesia harus memperkuat diplomasi ekonomi agar lebih tangguh menghadapi dampak proteksionisme global. Selain itu, peningkatan investasi dalam industri berbasis teknologi dan inovasi menjadi langkah penting agar Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam perekonomian global.
Lihat Juga :