BPOM Dukung Pengembangan Obat dan Vaksin Covid-19 di Negara-Negara OKI

Jum'at, 04 September 2020 - 05:54 WIB
loading...
BPOM Dukung Pengembangan...
Kepala Badan POM, Penny K. Lukito mendukung pengembangan obat dan vaksin Covid-19 di negara-negara OKI. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendukung pengembangan obat dan vaksin Covid-19 untuk negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) guna mewujudkan ketersediaan obat dan vaksin yang aman, berkhasiat, dan terjangkau bagi negara anggota OKI.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan POM, Penny K. Lukito saat Focus Group Discussion (FGD) Kolaborasi Obat dan Vaksin dalam Perspektif Kerja Sama Negara-Negara OKI bertajuk “Dukungan Otoritas Regulator dalam Mendorong Kolaborasi dan Kerja Sama Obat dan Vaksin di Negara-Negara OKI” pada Kamis (3/9/2020). Kegiatan yang digelar secara hybrid melalui virtual dan tatap muka ini, menghadirkan narasumber Perwakilan Sekretariat OKI di Jeddah, Perwakilan World Health Organization (WHO) di Jakarta, dan diikuti oleh Kementerian/Lembaga, akademisi, serta industri farmasi yang terkait dengan pengembangan obat dan vaksin untuk Covid-19. (Baca juga: BPOM Klaim Banyak Aspek Positif dalam Vaksin COVID-19 asal UEA)

FGD diselenggarakan untuk menyosialisasikan kembali hasil pertemuan pertama Kepala Otoritas Regulator Obat Negara Anggota OKI yang telah diselenggarakan di Jakarta pada 21-22 November 2018. Dari pertemuan pertama, telah dihasilkan dua dokumen penting, yaitu Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi yang isinya bertujuan meningkatkan kolaborasi di antara otoritas regulator obat negara anggota OKI dalam mendukung kemandirian obat dan vaksin 2019-2021.

Hasil pertemuan tersebut juga telah disahkan dalam Pertemuan the Islamic Conference of Health Ministers (ICHM) ke-7 tanggal 15-17 Desember 2019 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab dan diadopsi ke dalam Resolusi No. 4/7-ICHM mengenai “Self-Reliance in Supply and Production of Medicines, Vaccines and Medical Technologies”.

Dalam kerangka kerja sama dengan OKI, Indonesia melalui Badan POM telah membantu peningkatan kapasitas regulator di negara anggota OKI dalam melakukan pengawasan obat dan makanan, meningkatkan ketersediaan obat dan vaksin, serta mendukung kemandirian dalam produksi dan penyediaannya di negara anggota OKI yang membutuhkan. (Baca juga: BPOM Sebut Kandidat Vaksin asal UEA Telah Bersertifikat Halal)

Salah satunya melalui Program Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular dalam bentuk sharing knowledge and experience di bidang obat dan vaksin. Posisi Indonesia sebagai Center of Excellence (CoE) di bidang vaksin dan produk biologi di antara negara anggota OKI memiliki peran kepemimpinan yang penting untuk mendorong kerja sama strategis di bidang obat. Khususnya untuk mendukung ketersediaan dan kemandirian (self-reliance) dalam pemenuhan kebutuhan obat dan vaksin yang aman, bermutu, berkhasiat, dan terjangkau bagi negara anggota OKI.

Isu kemandirian dan akses terhadap obat dan vaksin saat ini menjadi isu yang sangat penting. Terlebih di tengah masa pandemi Covid-19, yang sejak ditetapkan sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020 lalu telah memengaruhi status kesehatan di 114 negara di seluruh dunia. Tidak terkecuali negara anggota OKI, dengan jumlah kasus terinfeksi mencapai lebih dari 12.964.809 dan angka kematian sebanyak 570.288 orang. (Baca juga: BPOM Beberkan Tahapan Pengembangan Obat COVID-19 hingga Izin Edar)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BPOM Bongkar Peredaran...
BPOM Bongkar Peredaran 2,1 Juta Kosmetik Ilegal Senilai Rp35,8 Miliar
Kepala BPOM Dorong ASEAN...
Kepala BPOM Dorong ASEAN Perkuat Sistem Darurat Keamanan Pangan
BPOM: 99,76 Persen AMDK...
BPOM: 99,76 Persen AMDK Merupakan Produk Dalam Negeri
BPOM Tegaskan Peraturan...
BPOM Tegaskan Peraturan BPOM No 5/2026 Bukan Soal Penempatan Apoteker
BPOM: Isu Wajib Apoteker...
BPOM: Isu Wajib Apoteker di Minimarket Hoaks, yang Diatur Pengelolaan Obatnya
BPOM dan WHO Perkuat...
BPOM dan WHO Perkuat Kolaborasi Pengawasan Obat dan Makanan
BPOM Temukan 14 Kosmetik...
BPOM Temukan 14 Kosmetik Berbahaya, Ini Daftarnya!
BPOM Ungkap Temuan Kosmetik...
BPOM Ungkap Temuan Kosmetik Ilegal Naik 10 Kali Lipat pada 2026, Nilainya Tembus Rp35,8 Miliar
BPOM Terbitkan Aturan...
BPOM Terbitkan Aturan Baru Iklan Obat, Influencer Dilarang Promosi
Rekomendasi
Pembangunan Fakultas...
Pembangunan Fakultas Kedokteran Telkom University di Bandung Rampung
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
ASEAN Hyundai Cup 2026...
ASEAN Hyundai Cup 2026 Segera Bergulir, Dukung Perjuangan Timnas Indonesia di VISION+
Berita Terkini
Anggaran Rehab-Rekon...
Anggaran Rehab-Rekon Mulai Didistribusikan, Tito Minta K/L Informasikan Rencana Program pada Kepala Daerah
Roy Suryo: Rismon Tak...
Roy Suryo: Rismon Tak Layak Jadi Saksi di Kasus Ijazah Jokowi
Menteri Dody Ungkap...
Menteri Dody Ungkap Masalah Internal Kementerian PU Sangat Serius, Bongkar Berbagai Kasus termasuk Korupsi
OTT di Lombok Barat,...
OTT di Lombok Barat, KPK Sita Barang Bukti Rp9,06 Miliar
Kemendagri Kawal Penanganan...
Kemendagri Kawal Penanganan Tuberkulosis dalam RPJMD, RKPD, hingga APBD
Sangkal Isu Reshuffle,...
Sangkal Isu Reshuffle, Mensesneg: Evaluasi Tak Selalu Berujung Pergantian Menteri
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved