Awal Puasa 2025 Berpotensi Beda, Begini Prediksi BRIN-BMKG
Selasa, 25 Februari 2025 - 15:22 WIB
loading...
A
A
A
“Secara astronomis pelaksanaan rukyat hilal penentu awal bulan Ramadan 1446 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya adalah setelah Matahari terbenam pada tanggal 28 Februari 2025. Dan bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Ramadan 1446 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 28 Februari 2025 tersebut,” tulis BMKG dalam laporannya.
Sementara itu, tinggi hilal saat Matahari terbenam pada 28 Februari 2025 berkisar antara 3.02° di Merauke, Papua sampai 4.69° di Sabang, Aceh. Adapun, elongasi pada waktu itu berkisar antara 4.78° di Waris, Papua sampai 6,4 di Banda Aceh, Aceh dengan umur Bulan berkisar antara 8,16 jam di Waris, Papua sampai 11,11 jam di Banda Aceh, Aceh.
Selanjutnya, BMKG mencatat lag atau selisih waktu terbenam Bulan dengan Matahari di Indonesia saat Matahari terbenam pada 28 Februari 2025 berkisar antara 15.31 menit di Merauke, Papua sampai 22.55 menit di Sabang, Aceh.
Sementara fraksi iluminasi Bulan saat Matahari terbenam pada hari yang sama berkisar antara 0.11 persen di Jayapura, Papua sampai 0.22% di Banda Aceh, Aceh.
Namun, BMKG mengungkapkan bahwa akan ada objek astronomis yang berpotensi mengacaukan rukyatul hilal Ramadan. Objek tersebut adalah Saturnus dan Merkurius. Keberadaan dua planet tersebut berpotensi membuat pengamat menganggapnya sebagai hilal.
“Pada 28 Februari 2025, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam terdapat Saturnus dan Merkurius yang jarak sudutnya lebih kecil daripada 10° dari Bulan,” papar BMKG.
Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk menunggu pengumuman resmi dari pemerintah melalui Kementerian Agama yang akan melakukan sidang isbat penentuan awal puasa Ramadan pada 28 Februari 2025, dipimpin oleh Menteri Agama (Menag). Kemenag juga bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kemenag di berbagai daerah akan melakukan pemantauan hilal di berbagai titik di seluruh Indonesia.
Sementara itu, tinggi hilal saat Matahari terbenam pada 28 Februari 2025 berkisar antara 3.02° di Merauke, Papua sampai 4.69° di Sabang, Aceh. Adapun, elongasi pada waktu itu berkisar antara 4.78° di Waris, Papua sampai 6,4 di Banda Aceh, Aceh dengan umur Bulan berkisar antara 8,16 jam di Waris, Papua sampai 11,11 jam di Banda Aceh, Aceh.
Selanjutnya, BMKG mencatat lag atau selisih waktu terbenam Bulan dengan Matahari di Indonesia saat Matahari terbenam pada 28 Februari 2025 berkisar antara 15.31 menit di Merauke, Papua sampai 22.55 menit di Sabang, Aceh.
Sementara fraksi iluminasi Bulan saat Matahari terbenam pada hari yang sama berkisar antara 0.11 persen di Jayapura, Papua sampai 0.22% di Banda Aceh, Aceh.
Namun, BMKG mengungkapkan bahwa akan ada objek astronomis yang berpotensi mengacaukan rukyatul hilal Ramadan. Objek tersebut adalah Saturnus dan Merkurius. Keberadaan dua planet tersebut berpotensi membuat pengamat menganggapnya sebagai hilal.
“Pada 28 Februari 2025, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam terdapat Saturnus dan Merkurius yang jarak sudutnya lebih kecil daripada 10° dari Bulan,” papar BMKG.
Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk menunggu pengumuman resmi dari pemerintah melalui Kementerian Agama yang akan melakukan sidang isbat penentuan awal puasa Ramadan pada 28 Februari 2025, dipimpin oleh Menteri Agama (Menag). Kemenag juga bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kemenag di berbagai daerah akan melakukan pemantauan hilal di berbagai titik di seluruh Indonesia.
(cip)
Lihat Juga :