Denny JA Soroti Kecemasan Meningkat di Era AI dalam Perayaan Hari Suci Saraswati
Sabtu, 22 Februari 2025 - 20:14 WIB
loading...
A
A
A
"Masalah ini bukan sekadar gangguan psikologis biasa. Ini adalah kecemasan eksistensial yang berakar pada rasa kehilangan makna dan nilai diri," jelas Denny JA.
Oleh karena itu, solusinya tidak cukup hanya berupa terapi medis atau strategi ekonomi. Solusi yang diperlukan harus memiliki elemen spiritual dan filsafat. Manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kebijaksanaan. Tidak hanya membutuhkan pekerjaan, tetapi juga makna hidup. Tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga kesadaran.
Masih kata Denny JA, Dewi Saraswati telah mengajarkan hal ini sejak ribuan tahun lalu. Itulah mengapa, di era AI dan digitalisasi ini, terapi wellness berbasis spiritual semakin dicari. Menurut Global Wellness Institute, industri wellness kini bernilai 90 triliun rupiah. Tren seperti yoga, meditasi, mindfulness, dan terapi spiritual semakin berkembang pesat. Orang tidak hanya mencari kemajuan, tetapi juga ketenangan batin.
Dewi Saraswati adalah simbol ilmu yang bermakna, bukan sekadar data dan informasi kosong. Perayaan ini mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan harus membawa kebijaksanaan, bukan sekadar kecerdasan buatan yang menambah kegelisahan. Esoterika merayakan Hari Saraswati bersama saudara-saudara Hindu, sebagaimana telah merayakan hari besar dari berbagai tradisi lain—Bahá’í, Brahma Kumaris, Syiah, Ahmadiyah, Konfusianisme, Buddha, Islam, dan Kristen.
"Perayaan agama bukan sekadar ritual. Ia adalah warisan sosial dan spiritual yang relevan bagi semua. Dengan memahami makna mendalam dari kebijaksanaan Dewi Saraswati, kita bisa menjawab tantangan zaman, mengatasi kecemasan, dan menemukan makna hidup di tengah dunia yang semakin digital," tutup Denny JA.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengapresiasi acara tersebut. Dia menjelaskan bahwa perbeda-perbedaan agama yang ada di Indonesia adalah kekayaan sosial, spritiual, dan kultural yang berharga. Karena itu, Pancasila merupakan dasar negara paling tepat di Indonesia untuk mempersatukan ragam perbedaan yang ada.
Acara ini digelar atas kerja sama Prajaniti Hindu Indonesia dan Esoterika Forum Spiritualitas serta didukung oleh Panitia Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi, Tahun Baru Saka 1947.
Oleh karena itu, solusinya tidak cukup hanya berupa terapi medis atau strategi ekonomi. Solusi yang diperlukan harus memiliki elemen spiritual dan filsafat. Manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kebijaksanaan. Tidak hanya membutuhkan pekerjaan, tetapi juga makna hidup. Tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga kesadaran.
Masih kata Denny JA, Dewi Saraswati telah mengajarkan hal ini sejak ribuan tahun lalu. Itulah mengapa, di era AI dan digitalisasi ini, terapi wellness berbasis spiritual semakin dicari. Menurut Global Wellness Institute, industri wellness kini bernilai 90 triliun rupiah. Tren seperti yoga, meditasi, mindfulness, dan terapi spiritual semakin berkembang pesat. Orang tidak hanya mencari kemajuan, tetapi juga ketenangan batin.
Dewi Saraswati adalah simbol ilmu yang bermakna, bukan sekadar data dan informasi kosong. Perayaan ini mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan harus membawa kebijaksanaan, bukan sekadar kecerdasan buatan yang menambah kegelisahan. Esoterika merayakan Hari Saraswati bersama saudara-saudara Hindu, sebagaimana telah merayakan hari besar dari berbagai tradisi lain—Bahá’í, Brahma Kumaris, Syiah, Ahmadiyah, Konfusianisme, Buddha, Islam, dan Kristen.
"Perayaan agama bukan sekadar ritual. Ia adalah warisan sosial dan spiritual yang relevan bagi semua. Dengan memahami makna mendalam dari kebijaksanaan Dewi Saraswati, kita bisa menjawab tantangan zaman, mengatasi kecemasan, dan menemukan makna hidup di tengah dunia yang semakin digital," tutup Denny JA.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengapresiasi acara tersebut. Dia menjelaskan bahwa perbeda-perbedaan agama yang ada di Indonesia adalah kekayaan sosial, spritiual, dan kultural yang berharga. Karena itu, Pancasila merupakan dasar negara paling tepat di Indonesia untuk mempersatukan ragam perbedaan yang ada.
Acara ini digelar atas kerja sama Prajaniti Hindu Indonesia dan Esoterika Forum Spiritualitas serta didukung oleh Panitia Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi, Tahun Baru Saka 1947.
(abd)
Lihat Juga :