Teori Denny JA: Sosiologi Agama di Era Kecerdasan Buatan
Minggu, 16 Februari 2025 - 10:37 WIB
loading...
A
A
A
“Agama adalah fenomena sosial yang dinamis. Dengan kehadiran AI, kita melihat perubahan signifikan dalam akses informasi, interpretasi teks suci, dan peran agama dalam masyarakat,” ujar Anick, Minggu (16/2/2025).
Baca juga: 5 Jenderal Baru di Matra TNI AD Setelah Mutasi di Akhir Januari 2025
Salah satu poin utama dalam teori Denny JA adalah pergeseran dalam akses dan otoritas keagamaan. Jika sebelumnya informasi agama dikendalikan oleh pemuka agama dan institusi keagamaan, maka kini AI membuka akses yang lebih luas dan instan terhadap berbagai tafsir agama.
Survei yang dilakukan oleh seorang dosen UIN Bandung pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 58% generasi milenial lebih memilih belajar agama melalui media sosial seperti Instagram dan YouTube daripada mengikuti pengajian langsung.
“Pemuka agama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber rujukan. AI memungkinkan masyarakat mengakses ribuan sumber dalam hitungan detik, membandingkan tafsir, dan memahami konteks sejarah di balik teks suci,” tutur Anick.
Namun, keterbukaan ini juga menimbulkan tantangan baru. Bagaimana memastikan bahwa pemahaman agama tetap mendalam dan tidak sekadar menjadi konsumsi instan?
Denny JA menekankan bahwa agama bukan hanya sistem dogmatis, tetapi juga tradisi kultural yang terus berkembang. Di era digital, banyak aspek agama yang melampaui batas komunitasnya. Misalnya, Natal tidak hanya dirayakan oleh umat Kristiani, tetapi juga sebagai festival budaya global. Yoga, yang berasal dari tradisi Hindu, kini menjadi bagian dari gaya hidup global.
Baca juga: 5 Jenderal Baru di Matra TNI AD Setelah Mutasi di Akhir Januari 2025
Salah satu poin utama dalam teori Denny JA adalah pergeseran dalam akses dan otoritas keagamaan. Jika sebelumnya informasi agama dikendalikan oleh pemuka agama dan institusi keagamaan, maka kini AI membuka akses yang lebih luas dan instan terhadap berbagai tafsir agama.
Survei yang dilakukan oleh seorang dosen UIN Bandung pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 58% generasi milenial lebih memilih belajar agama melalui media sosial seperti Instagram dan YouTube daripada mengikuti pengajian langsung.
“Pemuka agama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber rujukan. AI memungkinkan masyarakat mengakses ribuan sumber dalam hitungan detik, membandingkan tafsir, dan memahami konteks sejarah di balik teks suci,” tutur Anick.
Namun, keterbukaan ini juga menimbulkan tantangan baru. Bagaimana memastikan bahwa pemahaman agama tetap mendalam dan tidak sekadar menjadi konsumsi instan?
Denny JA menekankan bahwa agama bukan hanya sistem dogmatis, tetapi juga tradisi kultural yang terus berkembang. Di era digital, banyak aspek agama yang melampaui batas komunitasnya. Misalnya, Natal tidak hanya dirayakan oleh umat Kristiani, tetapi juga sebagai festival budaya global. Yoga, yang berasal dari tradisi Hindu, kini menjadi bagian dari gaya hidup global.
Lihat Juga :