Fakta-fakta Rosita Aruan Orchid Baptiste, Perempuan Batak Jadi Tentara Amerika Serikat
Kamis, 06 Februari 2025 - 09:16 WIB
loading...
Fakta-fakta mengenai Letnan Kolonel (Letkol) Rosita Aruan Orchid Baptiste perempuan berdarah Batak yang jadi tentara Amerika Serikat (AS) menarik untuk diketahui. Foto/YouTube VOA Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Fakta-fakta mengenai Letnan Kolonel (Letkol) Rosita Aruan Orchid Baptiste perempuan berdarah Batak yang jadi tentara Amerika Serikat (AS) menarik untuk diketahui. Dia bertugas sebagai mekanik di Angkatan Darat AS.
Rosita telah bergabung dalam militer AS selama sebelas tahun tiga bulan. Berbagai pekerjaan pernah dilakukannya sebelum menjadi tentara AS.
Dia pindah ke Amerika Serikat sejak 2000. Seperti apa kisahnya?
Baca juga: Horas! Boru Batak Marissa Hutabarat Jadi Hakim di Amerika Serikat
Kemudian, dia menceritakan pindah ke Amerika Serikat pada September 2000. “Karena menikah dengan pria Amerika. Cinta yang membawa saya ke Amerika,” ungkapnya.
Saat awal di Negeri Paman Sam, dia pun melamar kerja sebagai wartawan di beberapa perusahaan media massa. “Karena saya suka banget jadi wartawan, itu pekerjaan yang paling saya suka,” katanya.
Dia mengungkapkan selalu ditanya pengalaman bekerja di Amerika Serikat setiap melamar pekerjaan sebagai wartawan tersebut. “Mereka selalu tanya, lo udah pernah jadi wartawan di Amerika? Ya belum kan baru sampai di sini, setiap kali melamar pekerjaan itu mereka selalu tanya sudah punya pengalaman kerja di Amerika, ya belum,” imbuhnya.
Baca juga: Deretan Komjen Polisi Bergelar Doktor, Nomor 7 dan 8 Berdarah Batak
Dia membeberkan bahwa meski sebagai kasir, namun diharuskan bersih-bersih restoran termasuk WC atau toiletnya jika sedang tidak ada pelanggan. Dia pun menangis ketika pertama kali membersihkan WC restoran tersebut.
“Pertama kali saya kerja bersihin rest room saya nangis, saya telepon mama saya di Jakarta, enggak kebayang saya ke Amerika harus bersihin WC, tapi itulah hidup ya,” ujar dia.
Baca juga: Plus Minus 100 Hari Pemerintahan Prabowo-Gibran
“Ketika saya mau gabung ke angkatan, mereka tuh enggak lihat tinggi badan, enggak liat jenis kelamin,” sambungnya.
Namun, dirinya sempat gagal pada ujian pertama. Nilanya hanya 29. Sedangkan syarat lulus adalah nilai 31. “Saya kalah di ujian pertama, tapi apakah itu mematahkan semangat saya, tidak,” ujarnya.
Dia pun menunggu ujian berikutnya selama 30 hari. “Jadi selama 30 hari itu saya belajar lagi, lewat (lulus),” jelasnya.
Baca juga: Prabowo Respons Isu Reshuffle usai 100 Hari Kerja: Yang Tidak Mau Bekerja untuk Rakyat, Saya Akan Singkirkan
Ketika ditempatkan di Irak, pangkatnya masih Letnan Satu. Dia pernah nyaris kena tembak di Irak. Dia selamat karena merunduk ketika menyambungkan laptopnya.
“Kalau tadinya saya enggak nunduk, ini yang kena,” kata dia menunjuk kepalanya.
Rosita telah bergabung dalam militer AS selama sebelas tahun tiga bulan. Berbagai pekerjaan pernah dilakukannya sebelum menjadi tentara AS.
Dia pindah ke Amerika Serikat sejak 2000. Seperti apa kisahnya?
Baca juga: Horas! Boru Batak Marissa Hutabarat Jadi Hakim di Amerika Serikat
1. Lulusan Jurusan Perdagangan Internasional Universitas Sumatera Utara
Rosita merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU). “Jurusan Perdagangan Internasional,” kata Rosita dalam sebuah wawancara dikutip dari YouTube VOA Indonesia, Kamis (6/2/2025).2. Mantan Wartawan di Indonesia
Dia mengungkapkan pernah bekerja di beberapa perusahaan di Jakarta setelah lulus kuliah. “Terus bekerja sebagai wartawan di majalah bisnis dan ekonomi, Warta Ekonomi. Saya bergabung dengan Warta Ekonomi tahun 1997,” tuturnya.Kemudian, dia menceritakan pindah ke Amerika Serikat pada September 2000. “Karena menikah dengan pria Amerika. Cinta yang membawa saya ke Amerika,” ungkapnya.
Saat awal di Negeri Paman Sam, dia pun melamar kerja sebagai wartawan di beberapa perusahaan media massa. “Karena saya suka banget jadi wartawan, itu pekerjaan yang paling saya suka,” katanya.
Dia mengungkapkan selalu ditanya pengalaman bekerja di Amerika Serikat setiap melamar pekerjaan sebagai wartawan tersebut. “Mereka selalu tanya, lo udah pernah jadi wartawan di Amerika? Ya belum kan baru sampai di sini, setiap kali melamar pekerjaan itu mereka selalu tanya sudah punya pengalaman kerja di Amerika, ya belum,” imbuhnya.
Baca juga: Deretan Komjen Polisi Bergelar Doktor, Nomor 7 dan 8 Berdarah Batak
3. Menangis ketika membersihkan WC Restoran Siap Saji
Karena gagal menjadi wartawan di Amerika Serikat, dia melamar pekerjaan di retoran siap saji Burgerking. “Saya jadi kasir di Burgerking selama tiga bulan dengan gaji satu jam 6 dolar 25 sen,” ungkapnya.Dia membeberkan bahwa meski sebagai kasir, namun diharuskan bersih-bersih restoran termasuk WC atau toiletnya jika sedang tidak ada pelanggan. Dia pun menangis ketika pertama kali membersihkan WC restoran tersebut.
“Pertama kali saya kerja bersihin rest room saya nangis, saya telepon mama saya di Jakarta, enggak kebayang saya ke Amerika harus bersihin WC, tapi itulah hidup ya,” ujar dia.
Baca juga: Plus Minus 100 Hari Pemerintahan Prabowo-Gibran
4. Lolos Jadi Tentara AS setelah Mengulang Ujian
Orang yang mendorong dirinya masuk tentara AS adalah sang suami. “Suami saya kebetulan di Angkatan Darat Amerika, kenapa kamu enggak ke Army aja, mereka enggak bakal tanya udah punya pengalaman apa belum, ternyata benar,” kata dia yang memiliki tinggi badan 149 sentimeter itu.“Ketika saya mau gabung ke angkatan, mereka tuh enggak lihat tinggi badan, enggak liat jenis kelamin,” sambungnya.
Namun, dirinya sempat gagal pada ujian pertama. Nilanya hanya 29. Sedangkan syarat lulus adalah nilai 31. “Saya kalah di ujian pertama, tapi apakah itu mematahkan semangat saya, tidak,” ujarnya.
Dia pun menunggu ujian berikutnya selama 30 hari. “Jadi selama 30 hari itu saya belajar lagi, lewat (lulus),” jelasnya.
Baca juga: Prabowo Respons Isu Reshuffle usai 100 Hari Kerja: Yang Tidak Mau Bekerja untuk Rakyat, Saya Akan Singkirkan
5. Ditugaskan ke Jerman hingga Irak
Setelah menjadi bagian dari tentara AS, dia ditugaskan ke beberapa negara medan konflik. “Saya di Jerman empat tahun, dari sana saya dikirim ke Irak sekali tahun 2005, ke Kuwait sekali,” kata Rosita.Ketika ditempatkan di Irak, pangkatnya masih Letnan Satu. Dia pernah nyaris kena tembak di Irak. Dia selamat karena merunduk ketika menyambungkan laptopnya.
“Kalau tadinya saya enggak nunduk, ini yang kena,” kata dia menunjuk kepalanya.
(rca)
Lihat Juga :