Cinta sebagai Roh Utama Sistem Pendidikan Indonesia
Kamis, 06 Februari 2025 - 06:07 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Ungkap Godok Kurikulum 'Cinta', Ini Maknanya
Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang, maka Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia.
Nasaruddin Umar, anak kampung dari Desa Ujung Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan yang saat ini bagian dari Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto menjabat sebagai Menteri Agama terdengar serius mengampanyekan ide Kurikulum Berbasis Cinta untuk memberikan warna kesejukan di muka bumi Indonesia tercinta. Yang paling fenomenal dan tidak akan terlupakan oleh sejarah peradaban dunia adalah ciuman Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar pada jidat Paus yang berbalas dengan ciuman Paus pada tangannya. Dua lakon tokoh dunia agama ini yang kalau dihayati dan dikaji secara mendalam dapat diyakini setara menuju dan mengalir pada satu muara yang disebut "CINTA".
Mencium kening seseorang sudah pasti dilatari oleh motif kasih, dan mencium tangan orang lain adalah lambang sebuah kepedulian. Kasih dan kepedulian merupakan dua penopang utama untuk dapat merasakan ketulusan akan cinta kasih. Tidak ada cinta tanpa rasa mengasihi, dan tidak ada cinta sejati tanpa mencontohkan kepedulian pada siapa yang dicintai.
Baca Juga:S arasehan Ulama NU, Menag Sebut Kurikulum Cinta Cegah Anak Benci Perbedaan
Lahirnya "Deklarasi Istiqlal" yang sangat bersejarah itu didasari oleh kegelisahan seorang anak manusia bernama Nasaruddin Umar terhadap dua fenomena global yang mencabik-cabik dan merusak tatanan cinta kasih. Gagasan besar ini hadir dideklarasikan di Masjid Istiqlal Jakarta, masjid terbesar kelima dunia yang menjadi visi sang ulama karismatik Anre Gurutta Kiai Haji Nasaruddin Umar yang saat ini sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. Ditandai dengan ragam kekerasan dan konflik yang mencabit-cabit harkat dan martabat kemanusiaan mendistorsi agama menjadi sebuah alat kekerasan dan permusuhan.
Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang, maka Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia.
Nasaruddin Umar, anak kampung dari Desa Ujung Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan yang saat ini bagian dari Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto menjabat sebagai Menteri Agama terdengar serius mengampanyekan ide Kurikulum Berbasis Cinta untuk memberikan warna kesejukan di muka bumi Indonesia tercinta. Yang paling fenomenal dan tidak akan terlupakan oleh sejarah peradaban dunia adalah ciuman Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar pada jidat Paus yang berbalas dengan ciuman Paus pada tangannya. Dua lakon tokoh dunia agama ini yang kalau dihayati dan dikaji secara mendalam dapat diyakini setara menuju dan mengalir pada satu muara yang disebut "CINTA".
Mencium kening seseorang sudah pasti dilatari oleh motif kasih, dan mencium tangan orang lain adalah lambang sebuah kepedulian. Kasih dan kepedulian merupakan dua penopang utama untuk dapat merasakan ketulusan akan cinta kasih. Tidak ada cinta tanpa rasa mengasihi, dan tidak ada cinta sejati tanpa mencontohkan kepedulian pada siapa yang dicintai.
Baca Juga:S arasehan Ulama NU, Menag Sebut Kurikulum Cinta Cegah Anak Benci Perbedaan
Lahirnya "Deklarasi Istiqlal" yang sangat bersejarah itu didasari oleh kegelisahan seorang anak manusia bernama Nasaruddin Umar terhadap dua fenomena global yang mencabik-cabik dan merusak tatanan cinta kasih. Gagasan besar ini hadir dideklarasikan di Masjid Istiqlal Jakarta, masjid terbesar kelima dunia yang menjadi visi sang ulama karismatik Anre Gurutta Kiai Haji Nasaruddin Umar yang saat ini sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. Ditandai dengan ragam kekerasan dan konflik yang mencabit-cabit harkat dan martabat kemanusiaan mendistorsi agama menjadi sebuah alat kekerasan dan permusuhan.
Lihat Juga :