Menag Nasaruddin Umar Ungkap Godok Kurikulum 'Cinta', Ini Maknanya
Jum'at, 17 Januari 2025 - 13:15 WIB
loading...
Menag Nasaruddin Umar menyebut bahwa Kemenag tengah menggodok Kurikulum Cinta. Hal tersebut disampaikan pada Pembukaan Sidang Tanwir I ’Aisyiyah di Jakarta. Foto/Dok.Kemenag
A
A
A
JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyebut bahwa Kementerian Agama (Kemenag) tengah menggodok Kurikulum Cinta. Hal tersebut disampaikan pada Pembukaan Sidang Tanwir I ’Aisyiyah di Jakarta.
“Jadi saya lagi menyusun Kurikulum Cinta. Apa yang dimaksud kurikulum cinta? Begini, setiap kali, misalnya guru agama Islam mengajarkan agama Islam yang paling benar, maka yang lainnya sesat. Jadi seolah-olah penanaman kebencian terhadap orang beragama lain. Jadi nanti kalau ada khutbah di situ, 'matiin TV-nya, matiin radio-nya', ya kan?, kata Nasaruddin dalam keterangannya dikutip, Jumat (17/1/2025).
Baca juga: Mendikdasmen: Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka Masih Berlaku
“Dan agama Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha juga sama. 'Eh ada azan, matiin tuh'. Jadi ada teologi kebencian dengan agama lain. Bayangkan kalau anak-anak kecil kita semuanya ditumbuhi pemahaman agama yang sama, penanaman kebencian satu sama lain. Bagaimana nasib Indonesia yang bhineka ini?,” imbuhnya.
Nasaruddin menyebut kurikulum ini bertujuan untuk mengajarkan nilai-nilai cinta kasih dan toleransi sejak dini. Ia menilai bahwa banyak potensi konflik muncul dari ajaran agama yang menanamkan kebencian terhadap kelompok lain.
“Jadi itulah yang saya maksudkan Kurikulum cinta. Bagaimana mengajarkan agama, tapi tidak mengajarkan kebencian kepada orang beragama lain. Tapi juga jangan sampai menyamakan semua agama, itu juga sama-salahnya. Tetap lah, agama mereka, agama mereka, agama kita, agama kita,” ucapnya.
“Jadi saya lagi menyusun Kurikulum Cinta. Apa yang dimaksud kurikulum cinta? Begini, setiap kali, misalnya guru agama Islam mengajarkan agama Islam yang paling benar, maka yang lainnya sesat. Jadi seolah-olah penanaman kebencian terhadap orang beragama lain. Jadi nanti kalau ada khutbah di situ, 'matiin TV-nya, matiin radio-nya', ya kan?, kata Nasaruddin dalam keterangannya dikutip, Jumat (17/1/2025).
Baca juga: Mendikdasmen: Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka Masih Berlaku
“Dan agama Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha juga sama. 'Eh ada azan, matiin tuh'. Jadi ada teologi kebencian dengan agama lain. Bayangkan kalau anak-anak kecil kita semuanya ditumbuhi pemahaman agama yang sama, penanaman kebencian satu sama lain. Bagaimana nasib Indonesia yang bhineka ini?,” imbuhnya.
Nasaruddin menyebut kurikulum ini bertujuan untuk mengajarkan nilai-nilai cinta kasih dan toleransi sejak dini. Ia menilai bahwa banyak potensi konflik muncul dari ajaran agama yang menanamkan kebencian terhadap kelompok lain.
“Jadi itulah yang saya maksudkan Kurikulum cinta. Bagaimana mengajarkan agama, tapi tidak mengajarkan kebencian kepada orang beragama lain. Tapi juga jangan sampai menyamakan semua agama, itu juga sama-salahnya. Tetap lah, agama mereka, agama mereka, agama kita, agama kita,” ucapnya.
Lihat Juga :