Budaya sebagai Perekat Masyarakat Indonesia dan Belgia
Jum'at, 31 Januari 2025 - 17:36 WIB
loading...
A
A
A
Rumah Budaya Indonesia (RBI) di Brussel yang telah ada sejak tahun 2019 perlu diberdayakan dan dimanfaatkan untuk mendukung upaya-upaya diplomasi kebudayaan Indonesia di Belgia. Kerja sama dan sinergi dari kementerian-kementerian terkait, di antaranya: Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kebudayaan, dan Kementerian Pariwisata diperlukan agar RBI yang telah ada di beberapa kota besar di luar negeri dapat dikelola dengan lebih baik dan dapat memberikan manfaat yang lebih optimal. Sebagai langkah awal, pengelola RBI dapat melakukan studi banding ke Cultural Center dari negara-negara lain untuk mendapatkan gambaran mengenai pengelolaan, pendanaan, dan kegiatan mereka.
Upaya untuk mengembangkan restoran Indonesia di luar negeri melalui program Indonesia Spice Up the World harus terus didukung oleh berbagai pemangku kepentingan. Kehadiran restoran Indonesia di Belgia masih perlu untuk ditingkatkan, mengingat sampai dengan saat ini baru terdapat 12 restoran Indonesia yang lokasinya berada di sekitar Brussel, Antwerpen, dan Ghent. Kondisi tersebut berbeda dengan keberadaan restoran Thailand yang dengan mudah dapat kita temui di kota-kota besar Belgia. Kehadiran restoran Indonesia bukan hanya mempunyai dampak ekonomi bagi pelaku industri Kuliner Nusantara dan petani rempah-rempah Indonesia, tetapi juga berperan dalam memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat lokal di luar negeri.
Hubungan persahabatan selama 75 tahun antara Indonesia dan Belgia yang telah berlangsung dengan harmonis dan konstruktif perlu untuk terus ditingkatkan. Selain kerja sama yang telah terjalin erat melalui berbagai mekanisme pertemuan para pejabat pemerintahan, kedekatan masyarakat kedua negara juga dapat terus ditingkatkan melalui "jembatan budaya".
Cerita mengenai Eric Domb yang "menghadirkan" Bali dan Indonesia di Pairi Daiza, Gabriel Laufer yang memilih untuk tinggal di Indonesia karena kecintaanya pada seni dan budaya Indonesia, dan Fillippo yang memperkenalkan gamelan kepada koleganya merupakan bukti bahwa seni, budaya, dan nilai suatu bangsa dapat menjadi jembatan perekat persahabatan masyarakat dua negara. Melalui pemajuan diplomasi kebudayaan dalam hubungan Indonesia dan Belgia, kita berharap akan banyak kisah-kisah lain di Belgia yang mirip dengan cerita Eric Domb, Gabriel Laufer, dan Fillippo Deorsola.
Upaya untuk mengembangkan restoran Indonesia di luar negeri melalui program Indonesia Spice Up the World harus terus didukung oleh berbagai pemangku kepentingan. Kehadiran restoran Indonesia di Belgia masih perlu untuk ditingkatkan, mengingat sampai dengan saat ini baru terdapat 12 restoran Indonesia yang lokasinya berada di sekitar Brussel, Antwerpen, dan Ghent. Kondisi tersebut berbeda dengan keberadaan restoran Thailand yang dengan mudah dapat kita temui di kota-kota besar Belgia. Kehadiran restoran Indonesia bukan hanya mempunyai dampak ekonomi bagi pelaku industri Kuliner Nusantara dan petani rempah-rempah Indonesia, tetapi juga berperan dalam memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat lokal di luar negeri.
Hubungan persahabatan selama 75 tahun antara Indonesia dan Belgia yang telah berlangsung dengan harmonis dan konstruktif perlu untuk terus ditingkatkan. Selain kerja sama yang telah terjalin erat melalui berbagai mekanisme pertemuan para pejabat pemerintahan, kedekatan masyarakat kedua negara juga dapat terus ditingkatkan melalui "jembatan budaya".
Cerita mengenai Eric Domb yang "menghadirkan" Bali dan Indonesia di Pairi Daiza, Gabriel Laufer yang memilih untuk tinggal di Indonesia karena kecintaanya pada seni dan budaya Indonesia, dan Fillippo yang memperkenalkan gamelan kepada koleganya merupakan bukti bahwa seni, budaya, dan nilai suatu bangsa dapat menjadi jembatan perekat persahabatan masyarakat dua negara. Melalui pemajuan diplomasi kebudayaan dalam hubungan Indonesia dan Belgia, kita berharap akan banyak kisah-kisah lain di Belgia yang mirip dengan cerita Eric Domb, Gabriel Laufer, dan Fillippo Deorsola.
(zik)
Lihat Juga :