5 Risiko Jadi Anggota Kopassus, Hanya untuk Prajurit yang Bermental Baja
Selasa, 14 Januari 2025 - 16:42 WIB
loading...
A
A
A
Melihat ke belakang, jejak keberhasilan misi Kopassus terbilang cukup banyak. Di antaranya yang terkenal adalah Operasi Mapenduma.
Tujuan operasi militer ini untuk membebaskan sandera Ekspedisi Lorentz 95 yang sempat ditahan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Jayawijaya. Waktu itu, misi pembebasan dipimpin Danjen Kopassus Brigjen TNI Prabowo Subianto.
Pada 9 Mei 1996, beberapa anggota menyerang sarang OPM yang berada di Desa Geselama. Operasi ini akhirnya mengakhiri drama penyanderaan selama 130 hari.
Berikutnya ada risiko psikologis. Hal ini termasuk dalam bentuk tekanan mental hingga trauma.
Tekanan mental bisa terjadi karena stres setelah menjalankan tugas berbahaya. Selain itu, bisa juga akibat kondisi jauh dari keluarga serta tuntutan untuk selalu siap siaga dalam segala kondisi.
Sementara untuk trauma bisa terjadi usai seorang prajurit menghadapi situasi ekstrem dalam pertempuran dan menyebabkan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Misalnya, hampir terbunuh saat latihan atau menjalankan misi.
Risiko lainnya bisa dilihat dari aspek kehidupan pribadi. Contohnya berkaitan dengan keluarga.
Sebenarnya hal ini tidak hanya berlaku untuk prajurit Kopassus, tetapi juga anggota TNI di satuan lain. Suatu saat, mereka bisa mendapat penugasan jangka panjang, sehingga akan jauh dari keluarga.
Itulah beberapa risiko menjadi anggota Kopassus yang bisa diketahui.
Tujuan operasi militer ini untuk membebaskan sandera Ekspedisi Lorentz 95 yang sempat ditahan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Jayawijaya. Waktu itu, misi pembebasan dipimpin Danjen Kopassus Brigjen TNI Prabowo Subianto.
Pada 9 Mei 1996, beberapa anggota menyerang sarang OPM yang berada di Desa Geselama. Operasi ini akhirnya mengakhiri drama penyanderaan selama 130 hari.
4. Risiko Psikologis
Berikutnya ada risiko psikologis. Hal ini termasuk dalam bentuk tekanan mental hingga trauma.
Tekanan mental bisa terjadi karena stres setelah menjalankan tugas berbahaya. Selain itu, bisa juga akibat kondisi jauh dari keluarga serta tuntutan untuk selalu siap siaga dalam segala kondisi.
Sementara untuk trauma bisa terjadi usai seorang prajurit menghadapi situasi ekstrem dalam pertempuran dan menyebabkan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Misalnya, hampir terbunuh saat latihan atau menjalankan misi.
5. Risiko Keluarga
Risiko lainnya bisa dilihat dari aspek kehidupan pribadi. Contohnya berkaitan dengan keluarga.
Sebenarnya hal ini tidak hanya berlaku untuk prajurit Kopassus, tetapi juga anggota TNI di satuan lain. Suatu saat, mereka bisa mendapat penugasan jangka panjang, sehingga akan jauh dari keluarga.
Itulah beberapa risiko menjadi anggota Kopassus yang bisa diketahui.
(shf)
Lihat Juga :