AHWA dan Masa Depan Kepemimpinan NU

Jum'at, 19 Juni 2026 - 07:00 WIB
loading...
AHWA dan Masa Depan...
Amsar A Dulmanan, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA). Foto/Ist
A A A
Amsar A Dulmanan
Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNUSIA

DI TENGAH dinamika politik nasional yang terus berubah, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam menjaga kesinambungan tradisi sekaligus mempertahankan legitimasi organisasi di hadapan jutaan warganya. Salah satu instrumen penting yang lahir dari pergulatan tersebut adalah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), sebuah mekanisme pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang pertama kali diterapkan secara resmi dalam Muktamar ke-33 di Jombang tahun 2015.

Kehadiran AHWA bukan sekadar inovasi kelembagaan, melainkan upaya memaknai kepemimpinan, otoritas keagamaan, dan tradisi musyawarah. AHWA bagi NU dapat dipahami sebagai ekspresi kebudayaan politik pesantren yang berusaha mempertahankan otoritas ulama di tengah semakin menguatnya logika demokrasi elektoral modern.

Di sinilah letak keunikan NU. Organisasi ini tidak menolak demokrasi, tetapi juga tidak sepenuhnya menyerahkan urusan kepemimpinan keagamaan kepada mekanisme voting yang bersifat kuantitatif.

Sebaliknya, NU berusaha merumuskan jalan tengah yang memungkinkan tradisi keulamaan tetap menjadi fondasi utama dalam proses regenerasi kepemimpinan. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU sejak awal memiliki karakter yang berbeda dengan organisasi modern pada umumnya.

Hubungan antara kiai dan santri, antara ulama dan jamaah, dibangun bukan semata-mata berdasarkan aturan formal, tetapi juga pada relasi kultural yang bersifat simbolik dan moral. Dalam tradisi pesantren, legitimasi seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh jumlah suara yang diperoleh, tetapi juga oleh kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, pengakuan komunitas, serta kesinambungan sanad keilmuan.

Pengamatan etnografis di berbagai pesantren NU menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan penting sering kali dilakukan melalui musyawarah para kiai senior. Keputusan yang dihasilkan tidak selalu berasal dari voting mayoritas, melainkan dari proses pencarian kesepahaman yang mempertimbangkan hikmah, pengalaman, dan kemaslahatan bersama.

Tradisi semacam ini oleh Clifford Geertz, C. (1960) dalam The Religion of Java, Chicago: University of Chicago Press disebut sebagai bagian dari struktur otoritas tradisional masyarakat santri yang bertumpu pada kharisma dan legitimasi keagamaan.

AHWA lahir dari konteks kebudayaan tersebut. Mekanisme ini mengambil inspirasi dari konsep politik Islam klasik yang merujuk pada kelompok orang-orang yang memiliki kapasitas moral dan intelektual untuk memilih pemimpin umat. Dalam praktik NU, anggota AHWA dipilih oleh peserta muktamar berdasarkan kriteria keulamaan, integritas, dan pengaruh sosial-keagamaan.

Mereka kemudian bermusyawarah untuk menentukan Rais Aam Syuriyah PBNU. Dari perspektif sosiologi organisasi, kehadiran AHWA dapat dibaca sebagai upaya menjaga diferensiasi antara “otoritas spiritual” dan “otoritas administratif”. Rais Aam diposisikan sebagai pemimpin tertinggi dalam bidang keagamaan dan moral.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Nahdlatul Ulama dan...
Nahdlatul Ulama dan Kesejahteraan Sosial
Jelang Muktamar NU ke-35,...
Jelang Muktamar NU ke-35, KH Zulfa Mustofa Dorong Kebangkitan Tradisi Menulis Kitab
Ponpes Tambakberas Jadi...
Ponpes Tambakberas Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU, Gus Ma’shum Faqih: Panggilan Para Muassis NU
PBNU Tetapkan Ponpes...
PBNU Tetapkan Ponpes Tambakberas Jombang Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU
Muktamar ke-35 NU: Siapa...
Muktamar ke-35 NU: Siapa Layak Menjadi Rais Aam?
Tak Bisa Ditunda, Tata...
Tak Bisa Ditunda, Tata Kelola, Dana, dan Independensi PBNU Harus Dibenahi
28 PCNU se-Jateng Dukung...
28 PCNU se-Jateng Dukung Muktamar Ke-35 NU Digelar di Ponpes Lirboyo
Wilayah dan Cabang Desak...
Wilayah dan Cabang Desak Perubahan Total PBNU, Minta Muktamar ke-35 NU Digelar di Jakarta
Hasil Munas Alim Ulama...
Hasil Munas Alim Ulama dan Konbes NU Disambut Positif PWNU Aceh
Rekomendasi
Link Nonton Trolls di...
Link Nonton Trolls di VISION+, Film Musikal Ceria untuk Nonton Bareng Keluarga
AFI Tawarkan Perlindungan...
AFI Tawarkan Perlindungan Jiwa Lintas Generasi Perkuat Ketahanan Finansial
DSC Transformasi Jadi...
DSC Transformasi Jadi Ekosistem Wirausaha, Siapkan Hibah Rp2,5 Miliar
Berita Terkini
Viral Surat Edaran Peningkatan...
Viral Surat Edaran Peningkatan Kewaspadaan, Ini Penjelasan Kejagung
Dilaporkan Roy Suryo...
Dilaporkan Roy Suryo ke Polisi, Lechumanan: Saya Kepengin Cepat Diperiksa
Prabowo Kembali Ingatkan...
Prabowo Kembali Ingatkan untuk Hentikan Korupsi, Penyelundupan, Narkoba, hingga Judi
Maruf Cahyono Gunakan...
Maruf Cahyono Gunakan Uang Gratifikasi untuk Renovasi Rumah dan Biayai Resepsi Pernikahan Anak
Yusril Minta Perpres...
Yusril Minta Perpres Pertahanan Negara Dipahami Utuh: Tidak Secara Khusus Berbicara mengenai LBGTQ
Menhut Siapkan Generasi...
Menhut Siapkan Generasi Baru Pemimpin Kehutanan melalui Penguatan SDM
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved