Paradoks Fleksibilitas dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia

Selasa, 14 Januari 2025 - 09:53 WIB
loading...
A A A
Baca Juga: Kebijakan Moneter BI di 2025 Diarahkan untuk Jaga Rupiah

Sejurus dengan studi Bonciani dan Oh (2020) yang menunjukkan bahwa paradoks fleksibilitas ini sebagian besar disebabkan oleh kegagalan model standar untuk menangkap karakteristik kebijakan moneter yang lebih realistis. Ketika kebijakan moneter memiliki elemen inersia, seperti melalui penyesuaian bertahap pada suku bunga bayangan (shadow rate), efek negatif dari paradoks fleksibilitas bisa diminimalkan.

Inersia kebijakan moneter mengacu pada penyesuaian bertahap terhadap suku bunga kebijakan. Ini berarti bahwa bank sentral tidak hanya bereaksi terhadap kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga mempertimbangkan tren dan ekspektasi jangka panjang. Salah satu manfaat utama dari pendekatan ini adalah kemampuannya untuk memandu ekspektasi pasar. Ketika bank sentral menurunkan suku bunga bayangan secara signifikan, pasar cenderung memahami bahwa suku bunga akan tetap rendah untuk waktu yang cukup lama. Komitmen ini memengaruhi ekspektasi inflasi, yang berdampak pada penurunan suku bunga riil, meskipun suku bunga nominal sudah berada pada batas bawah nol. Dengan demikian, pendekatan inersia bisa mencegah terjadinya spiral deflasi dan memperbaiki output ekonomi.

Meski demikian, ada perbedaan mendasar antara penyesuaian suku bunga bayangan (shadow interest rate) dan suku bunga aktual. Penyesuaian bertahap terhadap suku bunga aktual saja sering kali tidak cukup untuk menangani jebakan likuiditas karena tidak memberikan sinyal yang kuat kepada pasar tentang komitmen kebijakan moneter di masa depan. Oleh karena itu, elemen forward guidance, atau panduan kebijakan di masa depan, menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas kebijakan inersia. BI sebagai bank sentral Republik Indonesia, telah menerapkan elemen-elemen inersia dalam kebijakan moneternya. Penyesuaian suku bunga acuan, misalnya, dilakukan secara bertahap dalam kisaran 25 basis poin. Pendekatan ini mencerminkan keinginan untuk menjaga stabilitas pasar dan mengurangi risiko volatilitas yang bisa timbul dari perubahan ataupun guncangan (shocks).

Namun, pertanyaannya adalah apakah pendekatan ini cukup untuk menghadapi tantangan yang kompleks seperti paradoks fleksibilitas? Sebagai negara berkembang, Indonesia sering kali menghadapi tekanan eksternal, seperti volatilitas harga komoditas, perubahan kebijakan moneter di negara maju, dan fluktuasi nilai tukar. Dalam situasi seperti ini, efektivitas kebijakan inersial bisa diuji, terutama ketika pasar domestik menunjukkan tingkat fleksibilitas harga yang tinggi. Bahkan sektor tertentu di Indonesia, seperti bahan makanan dan energi, memiliki tingkat fleksibilitas harga yang lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya. Akibatnya, guncangan permintaan negatif bisa memicu penurunan harga yang tajam, yang selanjutnya memperburuk ekspektasi inflasi. Dalam situasi ini, kebijakan moneter inersia mungkin tidak cukup untuk membalikkan tren negatif tanpa dukungan kebijakan fiskal yang kuat.

Meskipun pendekatan inersia memiliki manfaat yang signifikan, ada juga kritik terhadap strategi ini. Salah satu kritik utama adalah potensi kurangnya responsivitas terhadap perubahan kondisi ekonomi yang cepat. Dalam konteks Indonesia, di mana ekonomi sering kali menghadapi guncangan mendadak dari faktor eksternal, kebijakan yang terlalu lambat bisa berakibat fatal yang akan memperburuk dampak negatif.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fiscal Dominance dan...
'Fiscal Dominance' dan Depresiasi Rupiah
Kemenag-BI Dorong Rohis...
Kemenag-BI Dorong Rohis Jadi Penggerak Literasi Syariah di Ruang Digital
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Dilema Bank Indonesia:...
Dilema Bank Indonesia: Menjaga Rupiah demi Menjaga Masa Depan Ekonomi
Kredit Perbankan Juni...
Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12,67%, BI Optimistis Capai Target Tahun Ini
Transaksi BI-FAST Capai...
Transaksi BI-FAST Capai 1,53 Miliar di Triwulan II 2026, Nilainya Tembus Rp3.777 Triliun
Gejolak Global Meningkat,...
Gejolak Global Meningkat, Gubernur BI Prediksi Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 4,9-5,7%
Rekomendasi
PASTI INDONESIA Dampingi...
PASTI INDONESIA Dampingi Praperadilan dan Ajukan Penangguhan Penahanan Babe Aldo
Trump Setujui Arab Saudi...
Trump Setujui Arab Saudi Perkaya Uranium, Mungkinkan Riyadh Memiliki Bom Nuklir?
Indonesia Punya 40%...
Indonesia Punya 40% Cadangan Nikel Dunia, Anehnya Tak Bisa Pimpin Rantai Pasok Baterai Global
Berita Terkini
Hari Anak Nasional ke-42,...
Hari Anak Nasional ke-42, saatnya Negara Membangun Prasyarat Perlindungan Anak
Febrie Adriansyah Mangkir...
Febrie Adriansyah Mangkir dari Pemeriksaan Kejagung, Dipanggil Ulang Besok
Dokter Tifa Siap Terima...
Dokter Tifa Siap Terima Apa Pun Putusan Sela Hari Ini
Menjembatani Rivalitas...
Menjembatani Rivalitas LCS: Konsep Hybrid Maritime Security Governance System
Ahli Waris Laporkan...
Ahli Waris Laporkan Dugaan Kepemilikan Aset Tak Wajar Mantan Hakim dan Jaksa ke KPK
Kisah Calvin dan Yehezkiel,...
Kisah Calvin dan Yehezkiel, Peraih Adhi Makayasa 2026 yang Dilantik Prabowo di Istana Merdeka
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved