Menteri Iftitah Sulaiman Bicara Visi Besar dan Paradigma Baru Transmigrasi
Kamis, 12 Desember 2024 - 20:04 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, paradigma baru transmigrasi ke depan adalah strategi pembangunan kewilayahan komprehensif yang mengintegrasikan tiga dimensi vital yakni pengembangan sumber daya manusia unggul, produktivitas berbasis teknologi, dan penguatan ketahanan nasional.
Untuk dimensi pertama difokuskan pada pengembangan SDM melalui program Transmigrasi Patriot. Yang utama tentu pembangunan karakter dan budaya kerja unggul agar transmigran lebih produktif melalui pelatihan dan pendidikan dasar kedisiplinan.
Hal ini dilakukan melalui hilirisasi SDM di mana generasi muda terpilih penerima beasiswa S2 dan S3 di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM), akan menjadi akselerator pembangunan kawasan.
"Kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri menjadikan kawasan transmigrasi sebagai laboratorium hidup inovasi dan pembangunan. Dengan demikian, transmigrasi menjadi program yang dijalankan dengan ilmu dan keterampilan berbasiskan sains," ucapnya.
Iftitah mencontohkan penerapan sains dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas ekosistem transmigrasi di kawasan transmigrasi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana, teknologi digunakan untuk memecah dan mengubah lahan batu menjadi lahan subur untuk kepentingan perkebunan.
Menurut dia, di tengah ancaman krisis pangan, air dan energi global, perubahan demografi, serta dinamika geopolitik, urgensi reformulasi program transmigrasi menjadi semakin nyata. Begitu pada kawasan sentra produksi pangan di lima provinsi strategis yang jadi model percontohan karena mengintegrasikan teknologi modern guna menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Untuk dimensi pertama difokuskan pada pengembangan SDM melalui program Transmigrasi Patriot. Yang utama tentu pembangunan karakter dan budaya kerja unggul agar transmigran lebih produktif melalui pelatihan dan pendidikan dasar kedisiplinan.
Hal ini dilakukan melalui hilirisasi SDM di mana generasi muda terpilih penerima beasiswa S2 dan S3 di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM), akan menjadi akselerator pembangunan kawasan.
"Kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri menjadikan kawasan transmigrasi sebagai laboratorium hidup inovasi dan pembangunan. Dengan demikian, transmigrasi menjadi program yang dijalankan dengan ilmu dan keterampilan berbasiskan sains," ucapnya.
Iftitah mencontohkan penerapan sains dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas ekosistem transmigrasi di kawasan transmigrasi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana, teknologi digunakan untuk memecah dan mengubah lahan batu menjadi lahan subur untuk kepentingan perkebunan.
Menurut dia, di tengah ancaman krisis pangan, air dan energi global, perubahan demografi, serta dinamika geopolitik, urgensi reformulasi program transmigrasi menjadi semakin nyata. Begitu pada kawasan sentra produksi pangan di lima provinsi strategis yang jadi model percontohan karena mengintegrasikan teknologi modern guna menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Lihat Juga :