Perdebatan Ilmiah yang Salah Ruang
Minggu, 30 Agustus 2020 - 09:49 WIB
loading...
A
A
A
Persoalan metodologi penemuan obat yang harusnya jadi ranah akademis, melebar ke pembahasan bernuansa politis. Ini juga diwarnai suara DPR yang terbelah. Mulyanto, anggota Komisi VII DPR meminta agar BPOM berhati-hati dan terbuka pada masyarakat ilmiah, terkait proses perizinan obat COVID-19 yang diajukan oleh tim peneliti Unair, BIN dan TNI AD. (Kiswondari, Nasional.SINDONews.com, 19 Agustus 2020).
Sebaliknya, dua hari sebelumnya, Komisi IX mendorong agar BPOM mempercepat proses terkait (perizinan terhadap) penemuan-penemuan untuk pengobatan COVID-19, baik obat terkait Unair ini maupun herbal (Rico Afrido S, Nasional.SiNDOnews.com, 17 Agustus 2020).
Sedangkan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto, meminta semua pihak agar mengapresiasi obat kombinasi virus Covid-19 yang dibuat Universitas Airlangga, BIN, dan TNI AD. Ia merasa kaget jika ada pihak-pihak yang meragukan bahkan mencibir temuan tersebut. (Rakhmatulloh, Nasional. Sindonews.com, 21 Agustus 2020).
Perkembangan tak menggembirakan yang kemudian jadi perbincangan trending di jagad media sosial, adalah diretasnya akun twitter @drpriono, milik Pandu Riono. Peretas mengunggah material tak relevan, terkait kehidupan pribadi Pandu Riono. Ini jika dilihat dari konteks waktu peretasannya, hendak mengkomunikasikan rasa keberatan, terhadap suara kritis yang kerap dilontarkan Sang Epidemiolog ini.
Perdebatan sengit soal jalannya penemuan obat maupun vaksin, sebagai produk ilmu pengetahuan, lazimnya terjadi di ruang-ruang akademis, seminar maupun konferensi yang sepenuhnya melibatkan ilmuwan.
Prosesnya eksklusif, bertujuan memenuhi kaidah epistemologi. Langkah demi langkah diabsahkan peer-review. Kata kunci untuk itu adalah transparan, berdisiplin metodologis. Maka perdebatan antar-universitas, sesungguhnya adalah hal yang biasa terjadi. Tak tabu. Sayangnya yang kemudian disaksikan pada calon obat Covid-19 ini adalah pewacanaan yang salah ruang. Terjadi di ruang-ruang media sosial, dengan lontaran yang tak sepenuhnya ilmiah. Pihak yang terlibat punya aneka kepentingan.
Cermin dari fenomena ini, bagaimana mungkin ekosistem ilmiah yang kokoh berkelas dunia dapat terbentuk, ketika universitas-universitas, sebagai bagian masyarakat ilmiah, membiarkan diri menghasilkan produk pengetahuan, lewat polemik di ruang-ruang tak lazim?
Sebaliknya, dua hari sebelumnya, Komisi IX mendorong agar BPOM mempercepat proses terkait (perizinan terhadap) penemuan-penemuan untuk pengobatan COVID-19, baik obat terkait Unair ini maupun herbal (Rico Afrido S, Nasional.SiNDOnews.com, 17 Agustus 2020).
Sedangkan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto, meminta semua pihak agar mengapresiasi obat kombinasi virus Covid-19 yang dibuat Universitas Airlangga, BIN, dan TNI AD. Ia merasa kaget jika ada pihak-pihak yang meragukan bahkan mencibir temuan tersebut. (Rakhmatulloh, Nasional. Sindonews.com, 21 Agustus 2020).
Perkembangan tak menggembirakan yang kemudian jadi perbincangan trending di jagad media sosial, adalah diretasnya akun twitter @drpriono, milik Pandu Riono. Peretas mengunggah material tak relevan, terkait kehidupan pribadi Pandu Riono. Ini jika dilihat dari konteks waktu peretasannya, hendak mengkomunikasikan rasa keberatan, terhadap suara kritis yang kerap dilontarkan Sang Epidemiolog ini.
Perdebatan sengit soal jalannya penemuan obat maupun vaksin, sebagai produk ilmu pengetahuan, lazimnya terjadi di ruang-ruang akademis, seminar maupun konferensi yang sepenuhnya melibatkan ilmuwan.
Prosesnya eksklusif, bertujuan memenuhi kaidah epistemologi. Langkah demi langkah diabsahkan peer-review. Kata kunci untuk itu adalah transparan, berdisiplin metodologis. Maka perdebatan antar-universitas, sesungguhnya adalah hal yang biasa terjadi. Tak tabu. Sayangnya yang kemudian disaksikan pada calon obat Covid-19 ini adalah pewacanaan yang salah ruang. Terjadi di ruang-ruang media sosial, dengan lontaran yang tak sepenuhnya ilmiah. Pihak yang terlibat punya aneka kepentingan.
Cermin dari fenomena ini, bagaimana mungkin ekosistem ilmiah yang kokoh berkelas dunia dapat terbentuk, ketika universitas-universitas, sebagai bagian masyarakat ilmiah, membiarkan diri menghasilkan produk pengetahuan, lewat polemik di ruang-ruang tak lazim?
(dam)
Lihat Juga :