Pencapaian dan Tantangan Kebijakan Pembangunan Pendidikan
Jum'at, 18 Oktober 2024 - 14:23 WIB
loading...
Hendarman - Analis Kebijakan Ahli Utama pada Kemendikbudristek/Dosen Pascasarjana Universitas Pakuan. Foto/Dok pribadi
A
A
A
Hendarman
Analis Kebijakan Ahli Utama pada Kemendikbudristek/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan
Dalam waktu tidak lama lagi terjadi transisi perubahan kepemimpinan di negeri ini. Hal yang sama juga akan terjadi pada kementerian yang mengurusi sektor pendidikan. Dalam lima tahun terakhir sudah diluncurkan 26 Episode Merdeka Belajar oleh kementerian yang saat ini masih menggunakan label sebagai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Dua puluh enam episode termasuk capaian yang tidak sedikit. Karena kalau dihitung secara rata-rata maka setiap tahun dihasilkan lima episode per tahun, walaupun mungkin saja dalam satu tahun terdapat peluncuran yang lebih banyak episode dibandingakan pada salah satu tahun.
Kalau dicermati, episode-episode tersebut secara prinsip selalu dikatakan memfokuskan pada perwujudan sumber daya manusia unggul. Sebenarnya ini sangat lumrah dan bukan luar biasa karena memang kinerja pembangunan pendidikan di negeri ini cenderung masih stagnan. Kinerja stagnan ini ditunjukkan oleh berbagai hasil evaluasi yang dilakukan sejumlah lembaga internasional.
Semua pasti berharap bahwa seyogianya 26 episode tersebut menjadi instrumental dan mengarah kepada optimisme dan menimbulkan dampak terhadap pembangunan pendidikan. Dampak tersebut, misalnya apakah pemangku kepentingan (termasuk siswa) mendapatkan kesempatan menjadi agen perubahan dan berperan memberikan pengaruh dan dukungan. Dampak lain ditinjau dari sejauhmana telah terjadi penyederhanaan rantai birokrasi yang mengarah kepada prinsip efektivitas dan efisiensi proses.
Sebagai kebijakan, yang ditunggu adalah bagaimana dampak tersebut dapat diukur secara obyektif dan akuntabel. Artinya, pengungkapan kinerja tersebut harus bersifat dalam keseimbangan data dan informasi antara praktik baik dan praktik yang tidak baik. Pengukuran ini akan memberikan sebuah pembelajaran bagi yang mungkin selama ini belum mampu mengimplementasikan kebijakan. Pembelajaran tersebut kemungkin disebabkan berbagai kondisi dalam wilayah yang satu dengan yang lain tidak dapat diseragamkan.
Analis Kebijakan Ahli Utama pada Kemendikbudristek/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan
Dalam waktu tidak lama lagi terjadi transisi perubahan kepemimpinan di negeri ini. Hal yang sama juga akan terjadi pada kementerian yang mengurusi sektor pendidikan. Dalam lima tahun terakhir sudah diluncurkan 26 Episode Merdeka Belajar oleh kementerian yang saat ini masih menggunakan label sebagai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Dua puluh enam episode termasuk capaian yang tidak sedikit. Karena kalau dihitung secara rata-rata maka setiap tahun dihasilkan lima episode per tahun, walaupun mungkin saja dalam satu tahun terdapat peluncuran yang lebih banyak episode dibandingakan pada salah satu tahun.
Kalau dicermati, episode-episode tersebut secara prinsip selalu dikatakan memfokuskan pada perwujudan sumber daya manusia unggul. Sebenarnya ini sangat lumrah dan bukan luar biasa karena memang kinerja pembangunan pendidikan di negeri ini cenderung masih stagnan. Kinerja stagnan ini ditunjukkan oleh berbagai hasil evaluasi yang dilakukan sejumlah lembaga internasional.
Semua pasti berharap bahwa seyogianya 26 episode tersebut menjadi instrumental dan mengarah kepada optimisme dan menimbulkan dampak terhadap pembangunan pendidikan. Dampak tersebut, misalnya apakah pemangku kepentingan (termasuk siswa) mendapatkan kesempatan menjadi agen perubahan dan berperan memberikan pengaruh dan dukungan. Dampak lain ditinjau dari sejauhmana telah terjadi penyederhanaan rantai birokrasi yang mengarah kepada prinsip efektivitas dan efisiensi proses.
Sebagai kebijakan, yang ditunggu adalah bagaimana dampak tersebut dapat diukur secara obyektif dan akuntabel. Artinya, pengungkapan kinerja tersebut harus bersifat dalam keseimbangan data dan informasi antara praktik baik dan praktik yang tidak baik. Pengukuran ini akan memberikan sebuah pembelajaran bagi yang mungkin selama ini belum mampu mengimplementasikan kebijakan. Pembelajaran tersebut kemungkin disebabkan berbagai kondisi dalam wilayah yang satu dengan yang lain tidak dapat diseragamkan.
Lihat Juga :