Prabowo dan Masa Depan ASEAN
Selasa, 24 September 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Karo Humas Kemensetneg Eddy Cahyono Sugiarto dalam ‘’Asean 2023 Jangkar Stabilitgas dan Pertumbuhan Berkelanjutan’’ yang dimuat setneg.go.id menyebut keketuaan Indonesia memberikan peluang dan menunjukkan peran strategis Indonesia memperkuat kapasitas dan kapabilitas kelembagaan ASEAN, terutama dalam membentuk tatanan kawasan yang mendasarkan pada multilateralisme dan nilai-nilai inklusivitas.
Peran demikian dibutuhkan terkait sejumlah tantangan yang dihadapi ASEAN, di antaranya pertarungan AS dan China yang berpotensi mengancam stabilitas kawasan, melemahkan sentralitas, dan mengancam relevansi ASEAN sebagai aktor yang berperan dalam membentuk tatanan di kawasan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik. Dengan mengangkat tema ASEAN Matters: Epicentrum of Growth, Indonesia ingin menjadikan ASEAN sebagai jangkar stabilitas sekaligus kemakmuran regional di Indo-Pasifik.
baca juga: President University Ikut Promosikan Kerja Sama China-ASEAN dan Indonesia
Sejak mendapat amanah menjadi menteri pertahanan di pemerintahan Joko Widodo periode II, Prabowo sudah mengungkapkan visi dan misinya memperkuat peran Indonesia dalam ASEAN untuk membangun Asia Tenggara sebagai kawasan tangguh, aman, damai, sejahtera, dan disegani kawasan lainnya.
Saat menyambut AD Retreart yang dihelat di Bangkok (07/11/2019), Prabowo mengatakan bahwa ASEAN mempunyai potensi kekayaan alam luar biasa, sehingga sejak dahulu selalu menjadi magnet kepentingan kekuatan global. Selain itu, perairan ASEAN juga merupakan urat nadi transportasi dan perdagangan dunia. Namun, Prabowo menggariskan bahwa potensi wilayah laut di Asia Tenggara akan sulit dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal jika tidak ada proteksi serta jaminan keamanan dan keselamatan dari masing-masing negara anggota ASEAN.
Lebih jauh dia menandaskan, di tengah situasi dunia internasional yang penuh dengan ketidakpastian, ASEAN harus tetap menjaga komitmen dan koneksitasnya bagi kesejahteraan bersama. Guna mewujudkan hal tersebut, ASEAN harus memiliki kerja sama yang tangguh dan dapat diandalkan, tidak mudah dicerai-berai oleh kepentingan sesaat, serta perlunya memelihara komitmen terhadap piagam ASEAN.
“ASEAN tidak boleh terpecah belah dan terpolarisasi yang akan mengakibatkan konflik dan perpecahan. Indonesia secara tegas menentang invasi negara dalam bentuk apapun dan di wilayah negara manapun khususnya di Asia tenggara,” tandas Menhan RI, seperti dikutip dari kemhan.go.id.
Menurut Prabowo, keyakinan akan kekuatan ASEAN harus dimulai dengan kemandirian ASEAN, khususnya di bidang pertahanan. Bidang Pertahanan dimaksud meliputi kerja sama pengamanan laut perbatasan, penyelesaian sengketa perbatasan, industri pertahanan, dan bidang lainnya dengan mengutamakan sentralitas ASEAN.
Ditambahkan, kerja sama ASEAN dalam kerangka ADMM-Plus, Kerja sama Mallacca Strait Patrol, Trilateral Indomalphi di wilayah Laut Sulu dan Sulawesi, pertukaran informasi strategis ASEAN Our Eyes melalui mekanisme ADI (ASEAN Direct Communication Infrastructure) telah menunjukkan kepada dunia internasional tentang komitmen ASEAN bagi terwujudnya kawasan yang tangguh, aman, damai dan sejahtera.
baca juga: Menhan Prabowo-PM Singapura Sepakat Perkuat Kerja Sama Pertahanan
Pada kesempatan sama, Prabowo juga menyampaikan harapan agar ASEAN harus dapat menjadi penyeimbang (balancing) dan penghubung (bridging) di kawasan Indo-Pasifik melauli AOIP, sehingga tidak ada dominasi kekuasaan di kawasan. ASEAN melalui netralitas dan sentralitasnya mengajak seluruh negara di kawasan Indo-Pasifik untuk ikut bertanggungjawab terhadap keamanan kawasan, karena Indo-Pasifik bukanlah semata-mata milik ASEAN melainkan milik masyarakat dunia.
Prabowo menilai, Indo-Pasifik tidak boleh dimaknai hanya dalam konteks bebas dan terbuka, melainkan juga harus memiliki karakteristik inklusif, transparan, dan komprehensif, mendatangkan manfaat bagi kepentingan jangka panjang seluruh negara di kawasan, dan didasarkan pada komitmen bersama untuk mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bersama.
Permasalahan Laut China Selatan yang mengemuka saat ini, lanjut mantan Danjen Kopassus itu, harus segera diselesaikan secara damai melalui forum dialog dan diplomasi dengan mendorong code of conduct yang telah disepakati ASEAN agar dapat diterima oleh negara Tiongkok. ’’Bagi Indonesia, ASEAN adalah wadah membangun kerja sama yang bermanfaat bagi perdamaian, stabilitas, dan pembangunan di kawasan kita. Melalui pilar politik dan keamanan ASEAN, kita bisa memperkuat keamanan Asia Tenggara yang tentunya juga akan dapat meningkatkan kesejahteraan negara-negara di dalamnya,” kata Prabowo.
Visi dan misi yang disampaikan Prabowo setelah dua pekan dilantik sebagai menteri pertahanan (23/10/2019) itu, mengindikasikan pemahaman mendalam latar pendirian ASEAN, dinamika perkembangan memperkuat kerja sama pertahanan, dan tantangan yang harus dihadapi, terutama di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Laut China Selatan di dalamnya.
Tujuan ASEAN menciptakan perdamaian dan kestabilan --termasuk untuk mendukung terwujudnya kesejahteraan—akan terwujud jika negara anggota bersatu dan berkomiten melakukan kerja sama pertahanan tangguh, membangun kemandirian, dengan ASEAN sebagai sentralitas. Di sisi lain, Prabowo menekankan pentingnya ASEAN menjadi katalisator stabilitas di kawasan Indo-Pasifik dengan menjembatani pihak-pihak berkonflik dan mengajak negara-negara di kawasan ini untuk bersama-sama memikul tanggung jawab.
Terbaru, kebijakan Prabowo secara marathon mengunjungi Brunei Darussalam, Laos, Kamboja, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina bisa dianggap menunjukkan komitmen sebagai calon pemimpin Indonesia untuk memperkuat kerja sama bilateral sekaligus membangun kemandirian, dengan mengajak negara sahabat bekerja sama mengembangkan sistem dan peralatan pertahanan, mengundang personel militer negara sahabat untuk mengikuti pendidikan di Indonesia, latihan militer bersama, pelatihan penanggulangan dan bantuan bencana, dan dan bentuk-bentuk kerja sama lainnya.
Melalui berbagai kerja sama ini, Prabowo ingin semua negara ASEAN bisa memiliki kemampuan dan kemandirian sehingga bisa menjaga keamanan dan pertahanan negaranya dan kawasan. Langkah Prabowo juga bisa dipahami menunjukkan visinya sebagai sosok calon pemimpin yang negara terbesar di Asia Tenggara untuk memperkuat posisi dan peran ASEAN.
Tujuannya, jangan sampai negara-negara di ASEAN membuka ruang intervensi bagi kekuatan dunia, dengan agenda dan kepentingan masing-masing, yang berdampak pada perpecahan dan terjadinya adu domba di antara sesama negara anggota ASEAN. Kekhawatiran adanya intervensi dan perpecahan ASEAN bisa dipahami karena beberapa negara memiliki kedekatan dengan negara besar yang berkonflik di Laut China Selatan (LCS) dan berebut pengaruh di Indo-Pasifik, dalam hal ini China vis a vis Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.
baca juga: Hubungan Makin Mesra, Kerja Sama Investasi China-ASEAN Tembus Rp4,4 Kuadriliun
Negara-negara anggota ASEAN yang sangat dekat dengan China dan bahkan bergantung pada Negeri Tirai Bambu itu antara lain Laos, Kamboja, dan Myanmar. Di sisi lain, negara seperti Filipina, Singapura dikenal sangat dekat dengan Paman Sam. Pun Malaysia, Singapura, dan Brunei juga merupakan bagian anggota Persemakmuran Inggris.
Selama bertemu dengan pemimpin Brunei Darussalam, Laos, Kamboja, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Prabowo secara eksplisit tidak menyinggung pertarungan negara besar di Indo-Pasifik. Namun Prabowo pasti sangat memahami bahwa harapannya menjadikan ASEAN sebagai penyeimbang dan penghubung negara-negara di kawasan Indo-Pasifik sehingga tidak ada dominasi kekuasaan akan sulit terwujud jika negara-negara ASEAN tidak stabil, tidak memiliki kemandirian, mudah diintervensi, dan bisa dipecah belah.
Sebaliknya, jika semua prasyarat terpenuhi, Prabowo akan dengan mudah mengajak negara-negara ASEAN untuk bersama-sama mewujudkan netralitas dan sentralitas ASEAN hingga memiliki kapasitas dan kapabilitas mengajak negara-negara di Indo-Pasifik menjadikan kawasan ini sebagai kawasan bebas, terbuka, damai, makmur dan mendatangkan manfaatkkan jangka panjang. (*)
Peran demikian dibutuhkan terkait sejumlah tantangan yang dihadapi ASEAN, di antaranya pertarungan AS dan China yang berpotensi mengancam stabilitas kawasan, melemahkan sentralitas, dan mengancam relevansi ASEAN sebagai aktor yang berperan dalam membentuk tatanan di kawasan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik. Dengan mengangkat tema ASEAN Matters: Epicentrum of Growth, Indonesia ingin menjadikan ASEAN sebagai jangkar stabilitas sekaligus kemakmuran regional di Indo-Pasifik.
baca juga: President University Ikut Promosikan Kerja Sama China-ASEAN dan Indonesia
Sejak mendapat amanah menjadi menteri pertahanan di pemerintahan Joko Widodo periode II, Prabowo sudah mengungkapkan visi dan misinya memperkuat peran Indonesia dalam ASEAN untuk membangun Asia Tenggara sebagai kawasan tangguh, aman, damai, sejahtera, dan disegani kawasan lainnya.
Saat menyambut AD Retreart yang dihelat di Bangkok (07/11/2019), Prabowo mengatakan bahwa ASEAN mempunyai potensi kekayaan alam luar biasa, sehingga sejak dahulu selalu menjadi magnet kepentingan kekuatan global. Selain itu, perairan ASEAN juga merupakan urat nadi transportasi dan perdagangan dunia. Namun, Prabowo menggariskan bahwa potensi wilayah laut di Asia Tenggara akan sulit dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal jika tidak ada proteksi serta jaminan keamanan dan keselamatan dari masing-masing negara anggota ASEAN.
Lebih jauh dia menandaskan, di tengah situasi dunia internasional yang penuh dengan ketidakpastian, ASEAN harus tetap menjaga komitmen dan koneksitasnya bagi kesejahteraan bersama. Guna mewujudkan hal tersebut, ASEAN harus memiliki kerja sama yang tangguh dan dapat diandalkan, tidak mudah dicerai-berai oleh kepentingan sesaat, serta perlunya memelihara komitmen terhadap piagam ASEAN.
“ASEAN tidak boleh terpecah belah dan terpolarisasi yang akan mengakibatkan konflik dan perpecahan. Indonesia secara tegas menentang invasi negara dalam bentuk apapun dan di wilayah negara manapun khususnya di Asia tenggara,” tandas Menhan RI, seperti dikutip dari kemhan.go.id.
Menurut Prabowo, keyakinan akan kekuatan ASEAN harus dimulai dengan kemandirian ASEAN, khususnya di bidang pertahanan. Bidang Pertahanan dimaksud meliputi kerja sama pengamanan laut perbatasan, penyelesaian sengketa perbatasan, industri pertahanan, dan bidang lainnya dengan mengutamakan sentralitas ASEAN.
Ditambahkan, kerja sama ASEAN dalam kerangka ADMM-Plus, Kerja sama Mallacca Strait Patrol, Trilateral Indomalphi di wilayah Laut Sulu dan Sulawesi, pertukaran informasi strategis ASEAN Our Eyes melalui mekanisme ADI (ASEAN Direct Communication Infrastructure) telah menunjukkan kepada dunia internasional tentang komitmen ASEAN bagi terwujudnya kawasan yang tangguh, aman, damai dan sejahtera.
baca juga: Menhan Prabowo-PM Singapura Sepakat Perkuat Kerja Sama Pertahanan
Pada kesempatan sama, Prabowo juga menyampaikan harapan agar ASEAN harus dapat menjadi penyeimbang (balancing) dan penghubung (bridging) di kawasan Indo-Pasifik melauli AOIP, sehingga tidak ada dominasi kekuasaan di kawasan. ASEAN melalui netralitas dan sentralitasnya mengajak seluruh negara di kawasan Indo-Pasifik untuk ikut bertanggungjawab terhadap keamanan kawasan, karena Indo-Pasifik bukanlah semata-mata milik ASEAN melainkan milik masyarakat dunia.
Prabowo menilai, Indo-Pasifik tidak boleh dimaknai hanya dalam konteks bebas dan terbuka, melainkan juga harus memiliki karakteristik inklusif, transparan, dan komprehensif, mendatangkan manfaat bagi kepentingan jangka panjang seluruh negara di kawasan, dan didasarkan pada komitmen bersama untuk mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bersama.
Permasalahan Laut China Selatan yang mengemuka saat ini, lanjut mantan Danjen Kopassus itu, harus segera diselesaikan secara damai melalui forum dialog dan diplomasi dengan mendorong code of conduct yang telah disepakati ASEAN agar dapat diterima oleh negara Tiongkok. ’’Bagi Indonesia, ASEAN adalah wadah membangun kerja sama yang bermanfaat bagi perdamaian, stabilitas, dan pembangunan di kawasan kita. Melalui pilar politik dan keamanan ASEAN, kita bisa memperkuat keamanan Asia Tenggara yang tentunya juga akan dapat meningkatkan kesejahteraan negara-negara di dalamnya,” kata Prabowo.
Visi dan misi yang disampaikan Prabowo setelah dua pekan dilantik sebagai menteri pertahanan (23/10/2019) itu, mengindikasikan pemahaman mendalam latar pendirian ASEAN, dinamika perkembangan memperkuat kerja sama pertahanan, dan tantangan yang harus dihadapi, terutama di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Laut China Selatan di dalamnya.
Tujuan ASEAN menciptakan perdamaian dan kestabilan --termasuk untuk mendukung terwujudnya kesejahteraan—akan terwujud jika negara anggota bersatu dan berkomiten melakukan kerja sama pertahanan tangguh, membangun kemandirian, dengan ASEAN sebagai sentralitas. Di sisi lain, Prabowo menekankan pentingnya ASEAN menjadi katalisator stabilitas di kawasan Indo-Pasifik dengan menjembatani pihak-pihak berkonflik dan mengajak negara-negara di kawasan ini untuk bersama-sama memikul tanggung jawab.
Terbaru, kebijakan Prabowo secara marathon mengunjungi Brunei Darussalam, Laos, Kamboja, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina bisa dianggap menunjukkan komitmen sebagai calon pemimpin Indonesia untuk memperkuat kerja sama bilateral sekaligus membangun kemandirian, dengan mengajak negara sahabat bekerja sama mengembangkan sistem dan peralatan pertahanan, mengundang personel militer negara sahabat untuk mengikuti pendidikan di Indonesia, latihan militer bersama, pelatihan penanggulangan dan bantuan bencana, dan dan bentuk-bentuk kerja sama lainnya.
Melalui berbagai kerja sama ini, Prabowo ingin semua negara ASEAN bisa memiliki kemampuan dan kemandirian sehingga bisa menjaga keamanan dan pertahanan negaranya dan kawasan. Langkah Prabowo juga bisa dipahami menunjukkan visinya sebagai sosok calon pemimpin yang negara terbesar di Asia Tenggara untuk memperkuat posisi dan peran ASEAN.
Tujuannya, jangan sampai negara-negara di ASEAN membuka ruang intervensi bagi kekuatan dunia, dengan agenda dan kepentingan masing-masing, yang berdampak pada perpecahan dan terjadinya adu domba di antara sesama negara anggota ASEAN. Kekhawatiran adanya intervensi dan perpecahan ASEAN bisa dipahami karena beberapa negara memiliki kedekatan dengan negara besar yang berkonflik di Laut China Selatan (LCS) dan berebut pengaruh di Indo-Pasifik, dalam hal ini China vis a vis Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.
baca juga: Hubungan Makin Mesra, Kerja Sama Investasi China-ASEAN Tembus Rp4,4 Kuadriliun
Negara-negara anggota ASEAN yang sangat dekat dengan China dan bahkan bergantung pada Negeri Tirai Bambu itu antara lain Laos, Kamboja, dan Myanmar. Di sisi lain, negara seperti Filipina, Singapura dikenal sangat dekat dengan Paman Sam. Pun Malaysia, Singapura, dan Brunei juga merupakan bagian anggota Persemakmuran Inggris.
Selama bertemu dengan pemimpin Brunei Darussalam, Laos, Kamboja, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Prabowo secara eksplisit tidak menyinggung pertarungan negara besar di Indo-Pasifik. Namun Prabowo pasti sangat memahami bahwa harapannya menjadikan ASEAN sebagai penyeimbang dan penghubung negara-negara di kawasan Indo-Pasifik sehingga tidak ada dominasi kekuasaan akan sulit terwujud jika negara-negara ASEAN tidak stabil, tidak memiliki kemandirian, mudah diintervensi, dan bisa dipecah belah.
Sebaliknya, jika semua prasyarat terpenuhi, Prabowo akan dengan mudah mengajak negara-negara ASEAN untuk bersama-sama mewujudkan netralitas dan sentralitas ASEAN hingga memiliki kapasitas dan kapabilitas mengajak negara-negara di Indo-Pasifik menjadikan kawasan ini sebagai kawasan bebas, terbuka, damai, makmur dan mendatangkan manfaatkkan jangka panjang. (*)
(hdr)
Lihat Juga :