Domestikasi Digital, Happy atau Kita Harus Ngeri?

Senin, 16 September 2024 - 21:12 WIB
loading...
Domestikasi Digital,...
Foto: Istimewa
A A A
Ressa Uli Patrissia
Mahasiswi Program Doktor Ilmu Komunikasi, Universitas Sahid Jakarta

SELAIN unsur estetik, design tempat tinggal yang cerdas tentu memerhatikan bagaimana rumah menjadi ruang yang hangat karena ada interaksi di antara anggota-anggota keluarga. Kepala keluarga kadang merancang tata letak, kamar tamu, atau bahkan sesederhana memilih warna dinding dengan maksud dan tujuan agar perbincangan verbal mekar di dalamnya.

baca juga: Kisah Inspiratif Para Polisi Dermawan, Sumbangkan Gaji hingga Bangun Rumah Pintar

Rumah yang baik dipercaya melahirkan keluarga yang harmonis, kuat dan yang kekuatannya mengalir ke masyarakat, bahkan bangsa dan negara. Maka, patutlah kita turut merenungkan sisi negatif prediksi yang dilontarkan Jenny Kennedy, Michael Arnold, Martin Gibbs, Bjorn Nansen, dan Rowan Wilken ketika para peneliti ini mengulas konsep “domestikasi digital” dan menyebarkan gagasannya ke dalam buku dengan judul yang sama.

Memang benar bahwa sisi positif intervensi teknologi digital ke dalam rumah begitu berlimpah. Secara berimbang, mereka juga menguak kengerian di balik trend homenet. Istilah yang bisa diterjemahkan dengan rumah pintar itu diambil dari kombinasi dari home dan network. Konsep jaringan rumah (home network) mulai berkembang seiring dengan meningkatnya penggunaan komputer pribadi dan konektivitas internet di rumah pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Pada masa itu, banyak rumah tangga yang memiliki lebih dari satu perangkat komputer dan mulai merasakan kebutuhan untuk menghubungkan perangkat-perangkat tersebut untuk bisa berbagi koneksi internet, file, dan alat-alat seperti printer. Seiring dengan perkembangan teknologi, terutama dengan munculnya Wi-Fi dan mobile phone, konsep homenet menjadi semakin relevan.

Saat ini, rumah pintar tidak hanya mencakup komputer, tetapi juga berbagai perangkat pintar seperti smartphone, tablet, smart TV, kamera keamanan, dan berbagai perangkat Internet of Things (IoT). Homenet, sistem di dalam rumah yang mengintegrasikan smartphone, sensor terbuka, serta komputasi di mana-mana dalam rangka meningkatkan organisasi rumah tangga merupakan salah satu contoh domestikasi digital.

Jepang adalah salah satu negara dengan adopsi teknologi yang sangat maju, termasuk dalam hal jaringan rumah atau homenet. Di Jepang, sistem homenet sering kali mencakup berbagai perangkat dan teknologi yang saling terhubung untuk memberikan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi bagi penghuninya. Konsep homenet atau jaringan rumah memang telah diterapkan secara luas di banyak negara di seluruh dunia.

baca juga: Rumah Pintar BSD City Gelar Kuliah Online Metode Belajar Negara Maju

Negara-negara maju di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur adalah yang paling cepat dan luas dalam mengadopsi teknologi jaringan rumah. Jangankan di Jepang dan negara-negara maju yang kita kenal dengan kemajuan teknologinya, di Indonesia pun konsep rumah pintar sudah banyak kita temukan.

Tidak hanya di sinetron-sinetron, di perumahan menengah pinggiran Jakarta kita dengan mudah menemukan pemilik mengaplikasikan domestikasi digital. Bagi penduduk urban, sudah sejak lama mereka tidak membutuhkan petugas security untuk mematikan atau menghidupkan lampu teras bila pulang kampung, menyiram tanaman, atau membuka tutup gerbang depan. Tugas-tugas itu sudah bisa ditangani teknologi digital.

Di dalam rumah pun, penghuni cukup menyebutkan kata, atau bahkan dengan kode menepuk tangan untuk membuka pintu, menyalakan TV, AC atau menyalakan kompor. Tidak perlu ada perintah dari sesama penghuni rumah. Dan, baik di dalam maupun di luar rumah, pemilik atau anggota keluarga dapat mengakses informasi yang disediakan rumah pintar.

Aplikasi dan intervensi teknologi ke dalam rumah pintar memang berkontribusi bagi kemudahan dan kepraktisan. Namun seperti disinyalir para peneliti tadi, ada sejumlah potensi negatif di balik domestikasi digital. Terutama adalah kesehatan mental. Menurut para peneliti itu, konektivitas yang terus menerus dan konstan dapat menyebabkan beban emosional dan stres. Ini bisa menimpa khususnya pada orang tua yang mungkin merasakan tekanan untuk selalu siap sedia dan tanggap.

Di sisi lain, konektivitas yang konstan ini makin mengaburkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan rumah tangga yang semakin berkontribusi terhadap stres. Meskipun perangkat digital dapat menawarkan hiburan dan relaksasi, sayangnya perangkat tersebut juga dapat berkontribusi terhadap perasaan terisolasi, cemas, dan kelebihan informasi. Negosiasi mengenai ruang privat dan publik yang penting bagi “me time” juga makin sulit ditemukan para penghuni rumah pintar.

baca juga: Dukung Rumah Pintar di Indonesia, EZVIZ Luncurkan Berbagai Produk Baru

Lalu, dampak negatif terkait dengan komunikasi, yang diyakini banyak pihak sebagai elemen penting dalam membangun keharmonisan dan kekuatan keluarga. Aplikasi digital ke dalam rumah memang membantu banyak tugas, menyenangkan, memanjakan bahkan membuat hidup lebih praktis. Tetapi para peneliti mengingatkan dampaknya bagi terjadinya perubahan pola komunikasi.

Menurut para peneliti itu, teknologi digital telah mengubah cara anggota keluarga berkomunikasi satu sama lain. Pesan instan, panggilan video, dan media sosial telah menjadi sarana interaksi yang umum, terkadang menggantikan percakapan tatap muka.

Ini berarti, design rumah yang semula banyak mengondisikan percakapan para anggota keluarga di dalam rumah agar keharmonisan dan kekuatan keluarga terbangun perlahan-lahan bergeser. Satu sisi, kita merasakan happy dengan kemajuan dan aplikasi teknologi ke dalam rumah sebagai ruang domestik kita. Tapi, benarkah kita tak perlu ngeri dengan dampak negatifnya?
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Digitalisasi Data, Penerima...
Digitalisasi Data, Penerima Bansos Diverifikasi lewat Pengenalan Wajah
AI Juru Selamat atau...
AI Juru Selamat atau Kepunahan Pekerja Industri Kreatif?
Teknologi Digital, AI,...
Teknologi Digital, AI, dan Konektivitas Global Lahirkan Ekosistem Gig Economy
Hadapi Dominasi China...
Hadapi Dominasi China Dalam Ranah Digital, Indonesia Diimbau Waspadai Risiko Ketergantungan
Hasan Nasbi Dorong Mahasiswa...
Hasan Nasbi Dorong Mahasiswa Fisip Unpas Lebih Kritis Hadapi Disrupsi Digital
Wakapolri Ungkap Ancaman...
Wakapolri Ungkap Ancaman Kekerasan dan Teror Modern di Era Digital
Promosikan Startup ke...
Promosikan Startup ke Dunia, Indonesia Gabung London Tech Week
Enam Tahun Penerjemahan,...
Enam Tahun Penerjemahan, Alkitab Bahasa Sunda Kini Hadir dalam Format Cetak dan Digital
Cover Musik Jadi Cara...
Cover Musik Jadi Cara Generasi Digital Menunjukkan Kreativitas
Rekomendasi
Audisi DMD Panggung...
Audisi DMD Panggung Rezeki MNCTV di Mojokerto Diserbu Peserta dari Berbagai Daerah
HUT ke-499 Jakarta,...
HUT ke-499 Jakarta, Transportasi Umum dan Tempat Wisata Gratis juga Berlaku bagi Warga KTP Non-DKI
Pemerintah Paksa Daerah...
Pemerintah Paksa Daerah Hentikan Open Dumping Sampah dengan Skema Stick and Carrot
Berita Terkini
Jelang Muktamar PBNU,...
Jelang Muktamar PBNU, Gus Muhaimin Sentil Pihak yang Main-main di NU untuk Keluar
Kritisi Parpol Koalisi,...
Kritisi Parpol Koalisi, Deddy PDIP: Jika Tidak Nyaman dengan Situasi Politik, Silakan Keluar dari Pemerintahan
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap, Kapolri: Kegiatan Sebelum Diserahkan ke Kejaksaan
Ajak Elite Politik Jaga...
Ajak Elite Politik Jaga Stabilitas Politik dan Konsisten Bersikap, Misbakhun: Jangan Ambigu
Darurat Pemasangan Kabel...
Darurat Pemasangan Kabel di Area Jakarta
Ribuan Desa Belum Teraliri...
Ribuan Desa Belum Teraliri Listrik, Menteri Bahlil Siapkan Anggaran Rp10 Triliun
Infografis
Siapa Lebih Unggul Pakistan...
Siapa Lebih Unggul Pakistan atau India dalam Senjata Nuklir?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved