Kunjungan Paus dan Dialog Agama
Kamis, 05 September 2024 - 16:58 WIB
loading...
A
A
A
Douglas Johnston dalam tulisannya Faith Based Diplomacy Trumping Real Politik (2003) menyebut bahwa para pemimpin agama seringkali mampu menawarkan solusi di tengah kebuntuan penyelesaian masalah akibat politik kekuasaan aktor negara. Ketika diplomasi jalur pertama mengalami kebuntuan, kaum agamawan sering muncul menjadi pengganti (substitution). Ada kalanya diplomasi para pemimpin agama juga sering menjadi penguat- pelengkap dan tandem (complement) diplomasi pejabat negara.
Pertama, pertemuan dan dialog antaragama seperti itu telah menjadi tradisi dan praktik baik yang kita laksanakan di tingkat domestik hingga internasional. Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, yang juga dikenal dengan keragaman agama dan toleransi antarumat beragama. Indonesia mengenal trilogi kerukunan yaitu antar umat beragama, intra-agama, dan kerukunan antara umat beragama dan pemerintah.
Bagi Indonesia, dialog seperti ini bukanlah seremoni apalagi sekedar kepura-puraan semata. Kita melihatnya sebagai kebutuhan bersama, sebagai sesama penduduk dunia dan makhluk Tuhan. Oleh karena itu selalu muncul perasaan akan tanggungjawab untuk mengupayakan ikhtiar dalam menciptakan kehidupan bersama agar lebih baik.
Dalam konteks tersebut, maka ia juga menegaskan arus besar (mayoritas) karakter washathiyah/moderat umat beragama Indonesia yang mengedepankan dialog dan mengesampingkan kekerasan.
Bahkan sejak tahun 2004, salah satu program diplomasi kita adalah interfaith dialogue baik secara bilateral dengan negara sahabat, tingkat regional hingga internasional. Karakter moderat tersebut berjalan seiring dengan demokrasi dan modernitas dan telah menjadi identitas pembeda dan sekaligus menempati posisi sangat penting sebagai modal diplomasi Indonesia di fora internasional. Ia menjadi bagian dari soft power kita dalam menarik dan memenangkan hati pihak lain sehingga bersahabat dan berhubungan baik dengan kita.
Kedua, dialog ini mengingatkan kita khususnya di momen menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) November 2024 untuk tetap menjaga persatuan dan persaudaraan kebangsaan (Ukhuwah Wathaniyah). Jangan sampai lagi terjadi kepentingan politik kekuasaan menggunakan sentimen keagamaan sehingga membahayakan persatuan.
Dialog Antaragama
Selain agenda kenegaraan dan pastoral, kunjungan kemanusiaan juga tercermin. Pada 5 September pagi, Paus Fransiskus menghadiri interreligious meeting (pertemuan dengan para tokoh antaragama) di Masjid Istiqlal Jakarta. Bagi Indonesia, tentu hal ini merupakan hal positif dan memiliki makna penting.Pertama, pertemuan dan dialog antaragama seperti itu telah menjadi tradisi dan praktik baik yang kita laksanakan di tingkat domestik hingga internasional. Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, yang juga dikenal dengan keragaman agama dan toleransi antarumat beragama. Indonesia mengenal trilogi kerukunan yaitu antar umat beragama, intra-agama, dan kerukunan antara umat beragama dan pemerintah.
Bagi Indonesia, dialog seperti ini bukanlah seremoni apalagi sekedar kepura-puraan semata. Kita melihatnya sebagai kebutuhan bersama, sebagai sesama penduduk dunia dan makhluk Tuhan. Oleh karena itu selalu muncul perasaan akan tanggungjawab untuk mengupayakan ikhtiar dalam menciptakan kehidupan bersama agar lebih baik.
Dalam konteks tersebut, maka ia juga menegaskan arus besar (mayoritas) karakter washathiyah/moderat umat beragama Indonesia yang mengedepankan dialog dan mengesampingkan kekerasan.
Bahkan sejak tahun 2004, salah satu program diplomasi kita adalah interfaith dialogue baik secara bilateral dengan negara sahabat, tingkat regional hingga internasional. Karakter moderat tersebut berjalan seiring dengan demokrasi dan modernitas dan telah menjadi identitas pembeda dan sekaligus menempati posisi sangat penting sebagai modal diplomasi Indonesia di fora internasional. Ia menjadi bagian dari soft power kita dalam menarik dan memenangkan hati pihak lain sehingga bersahabat dan berhubungan baik dengan kita.
Kedua, dialog ini mengingatkan kita khususnya di momen menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) November 2024 untuk tetap menjaga persatuan dan persaudaraan kebangsaan (Ukhuwah Wathaniyah). Jangan sampai lagi terjadi kepentingan politik kekuasaan menggunakan sentimen keagamaan sehingga membahayakan persatuan.
Lihat Juga :