Mewaspadai Gerak-gerik AS di ASEAN Vis a Vis China

Selasa, 06 Agustus 2024 - 05:09 WIB
loading...
A A A
Survei ISEAS Yusof Ishak Institute pada 2022 sudah menemukan 61,5% responden mengkhawatirkan ASEAN menjadi arena kompetisi dari kekuatan besar dan negara-negara anggotanya dapat menjadi pion perang proxy kekuatan tersebut. Direktur Pusat Strategi Kebijakan Asia Pasifik dan Afrika Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) Kemlu RI, Muhammad Takdir, yang memaparkan riset tersebut pun mengakui upaya meredam pertarungan konflik di ASEAN semakin sulit dengan hadirnya konflik AS dan China.

baca juga: Mengulik Sejarah Konflik Laut China Selatan yang Panas

Dalam pandangannya, jika ASEAN harus menunjukkan pilihannya sendiri, maka harus mencari pihak ketiga yang mampu memperluas ruang strategis dan opsinya. Pihak ketika dimaksud adalah negara yang dapat mengimbangi persaingan sengit antara AS dan China, di antaranya adalah Korea Selatan, Jepang, India, dan Uni Eropa. Menurut Takdir, sangat menarik jika ketiga negara itu bekerja sama untuk mengimbangi persaingan antara AS dan China.

Sebenarnya, untuk menghadapi segala dinamika geopolitik yang terjadi di wilayahnya, ASEAN telah memiliki prinsip yang sudah ditanamkan saat berdirinya. Prinsip tersebut termuat dalam deklarasi yang ditandatangani ketua delegasi lima negara pendiri, yaitu Menlu Indonesia Adam Malik, Wakil PM Malaysia Tun Abdul Razak, Menlu Filipina Narcisco Ramos, Menlu Singapura S Rajaratnam, dan Menlu Thailand Thanat Khoman.

Prinsip yang dibenamkan memberi tanggung jawab kepada negara-negara anggota ASEAN untuk memperkuat stabilitas ekonomi dan sosial, menjamin adanya perdamaian dan laju pembangunan nasional serta memastikan adanya stabilitas keamanan dari campur tangan luar dengan segala bentuk manifestasinya.

ASEAN pun telah memiliki Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) yang menjadi pegangan hubungan antar-negara ASEAN. Prinsip dimaksud secara garis besar meliputi saling menghormati kedaulatan, menjauhkan dari campur tangan eksternal, tidak saling mencampuri urusan internal negara anggota, menyelesaikan perselisihan secara damai, serta menolak penggunaan ancaman dan kekerasan.

Selain menjaga stabilitas kawasan, ASEAN juga berkepentingan merespons dinamika di Indo-Pasifik. Melalui ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP), ASEAN mengambil inisiatif menjaga perdamaian, keamanan, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan yang meliputi perairan tropika di Samudera Hindia, Samudera Pasifik bagian barat dan tengah, serta laut-laut pedalaman di wilayah Indonesia dan Filipina.

baca juga: Amerika Dukung Sikap Filipina di Laut China Selatan

Seiring meningkatnya tensi pertarungan di Indo-Pasifik, para pemimpin ASEAN juga telah bersepakat menggaungkan prinsip utama AOIP - centrality, inclusivity, dan complementarity- melalu kerja sama inklusif dan kongkret. Untuk itu AOIP membuka dialog dan kerja sama dengan semua negara tanpa terkecuali.

Dalam konteks pertarungan negara-negara gajah di kawasan ASEAN, positioning Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ) merupakan kesepakatan strategis yang diproduksi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Pada 1971, ASEAN mendeklarasikan diri sebagai kawasan damai, bebas, dan netral dari senjata nuklir.

Pergerakan AS dan Sekutu

Manuver AS di kawasan Indo-Pasifik, LCS dan khususnya ASEAN bisa diibaratkan pergerakan tanpa bola. Secara perlahan tapi pasti, langkah yang bisa dikonsepsikan sebagai pengimbangan atau balance of power atas agresivitas China telah begitu jauh masuk dalam benteng pertahanan ASEAN. Negeri Paman Sam juga telah memanfaatkan beberapa negara di komunitas ini sebagai proxy melawan negeri Panda itu.

Memahami personality politic ala koboi yang menjadi karakter negeri adidaya tersebut, bukan tidak mungkin suatu saat negara-negara di ASEAN akan dibenturkan dengan Negeri Tirai Bambu. Sangat mungkin peringatan China bahwa AS adalah ‘’monster mengerikan" yang telah mengulurkan "tangan hitam" ke wilayah ini menjadi kenyataan jika para pemimpin ASEAN terjebak dalam perangkap permainannya.

Gerak-gerik AS di Indo-Pasifik, terutama di kawasan ASEAN, bukan hanya mengonsolidasikan dukungan negara-negara anti-China, tapi juga pergerakan militer. Konsolidasi, misalnya dilakukan lewat AUKUS. Pakta Pertahanan Jepang-Filipina juga bisa dipahami sebagai minilateralisme, tapi juga proxy AS untuk head to head China. Pembentukan AUKUS patut mendapat perhatian karena membuka pintu AS dan Inggris membantu Australia mengembangkan 8 kapal selam bertenaga nuklir.

baca juga: Militer China Menguntit Kapal Perang AS di Laut China Selatan

Secara militer, AS juga sudah menempatkan kekuatannya di beranda ASEAN, dalam hal ini di Australia dan Papua Nugini. Australia yang merupakan sekutu AUKUS, telah memberikan red carpet pada AS untuk menempatkan pangkalannya di Darwin, sebuah wilayah negeri down under yang paling dekat dengan Indonesia.

Dilansir BBC (24/10/2023), dalam beberapa tahun terakhir AS berjanji menggelontorkan sekitar USD2 miliar untuk peningkatan pangkalan dan fasilitas baru. Khusus di Darwin, rencananya akan dibangun pusat perencanaan dan operasi misi serta 11 tangki penyimpanan bahan bakar jet. PemerintahAustralia juga berencana membangun sebuah pelabuhan baru di wilayah utara khusus untuk menampung pasukan Korps Marinir Angkatan Laut AS.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Republikorp-Barzan Holdings...
Republikorp-Barzan Holdings Kerja Sama Pertahanan mulai Senjata hingga Kapal Selam Mini
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Telkomsel-Republikorp...
Telkomsel-Republikorp Perkuat Teknologi Komunikasi Pertahanan Nasional
UPI YAI dan Shinawatra...
UPI YAI dan Shinawatra University Thailand Kerja Sama Tingkatkan Kualitas Pendidikan
Momen Prabowo Kenakan...
Momen Prabowo Kenakan Barong Motif Batik saat Gala Dinner KTT ke-48 ASEAN
Maung Presiden Prabowo...
'Maung' Presiden Prabowo Curi Perhatian Delegasi ASEAN dan Warga Filipina
5 Kapal Selam Tercanggih...
5 Kapal Selam Tercanggih ASEAN: Hebat Mana Invincible Singapura vs Nagapasa Indonesia?
6 Jet Tempur Canggih...
6 Jet Tempur Canggih yang Bakal Panaskan Langit ASEAN: F-35 Singapura hingga Rafale Indonesia
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN, Termasuk Kapal Malaysia yang Batal Miliki NSM
Rekomendasi
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Gubernur DKI Apresiasi Astra Pelopori Naik Transum
Kris Tomahu, Gery &...
Kris Tomahu, Gery & Gany, dan Samuel Cipta Antusias Tampil di Konser Tehillim - The Heart of Worship
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Berita Terkini
Kubu Roy Suryo Tepis...
Kubu Roy Suryo Tepis Berkas Kasus Pencemaran Nama Baik Terkait Ijazah Jokowi Sudah P21
Roy Suryo Bandingkan...
Roy Suryo Bandingkan Lamanya Penanganan Kasus Ijazah Jokowi dengan Jessica dan Ferdy Sambo
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
KPK Ungkap Tahapan yang...
KPK Ungkap Tahapan yang Harus Dilalui untuk Ekstradisi Tersangka E-KTP Paulus Tannos
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Infografis
Daftar Skuad Timnas...
Daftar Skuad Timnas Mesir di Piala Dunia 2026, Mohamed Salah Ujung Tombak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved